Part #12 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Malam ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi bersama kak Ranty, aku sangat senang karena hari ini pertama kalinya kita ‘ngedate’.

“Loh kalian mau kemana? Rapih banget…” tanya ayahku yang sedang menyeruput kopi di teras rumah.

“Mau kondangan yah, di rumah temen SMA Ranty, nikahan,” jawab kak Ranty berbohong.

“Oh temen SMA kamu udah ada yang nikah? kalo kamu jangan nikah dulu ya, kuliah dulu yang pinter,” Ayahku coba menasehati kak Ranty.

“Iya yah.” Kak Ranty jawab sekenanya.

“Entar nikahnya sama Randy pah, pas Randy udah kerja, hehehe…” batinku.

“Randy, kamu ikut juga?”

“Iya lah pah, biar mamah papah bisa berduaan di rumah hehehe…”

“Wuahhh…pengertian banget kamu Ran, entar pulangnya yang malem yah, hahaha…”

“Sippp…deh pah,” jawabku singkat.

Setelah pamit, kami pun memacu motor keliling kota layaknya orang pacaran.

“Kak!”

“Apa?”

“Emang mau kondangan kemana? hehehe” cetusku penuh candaan.

“Ke hatimu dong!” balasnya lalu memelukku erat.

Saat itu saat dimana aku inginkan waktu untuk berhenti, aku ingin selamanya seperti ini, nyaman dan damai. Lamunanku terbang tinggi di atas awan.

Kak Ranty mengajakku pergi ke gramedia, dia ingin membeli suatu buku. Memang dasar kak Ranty itu orangnya pintar, lagi kencan yang dicari buku.

Berbeda dengan diriku, buku adalah hal terakhir yang ingin kulihat di dalam hidupku.

Aku mengikuti saja kemana dia pergi, namun saat sedang menemani kak Ranty mencari buku, perhatianku tertuju pada sebuah buku.

Buku itu berjudul ‘My Sex Journey’. Di cover depan terlihat seorang lelaki sedang memeluk seorang wanita dan dikelilingi oleh wanita-wanita lain yang sedang menjilat bagian tubuh pria tersebut. Ada yang menjilat jari kaki, betis, paha, bahkan telinga.

“Hmm…si cewek yang dipeluk cowoknya itu pasti permaisuri yang asli, yang lainnya cuma selir si cowok itu!” batinku.

Sedang asik-asiknya memperhatikan buku tiba-tiba kakakku memanggil.

“Randy! kakak udah dapet buku yang kakak cari,” ujarnya kepadaku.

Aku lalu menghampiri kakakku sambil membawa buku itu, aku putuskan untuk membeli buku itu tanpa sepengetahuannya.

Setelah membeli buku di gramedia, kami pun lalu pergi untuk menonton film di bioskop. Film bergenre horor romantis itu sama sekali tidak menarik perhatianku, tapi selama aku bisa berduaan dengan kak Ranty aku tetap menikmatinya.

Beberapa kali saat adegan jumpscare kak Ranty memalingkan mukanya ke arahku, hal itu ku manfaatkan. Saat adegan mencekam aku sengaja memasang wajahku tepat di sampingnya.

Dan ketika adegan setan muncul kak Ranty kembali memalingkan wajahnya ke arahku.

Karena saat itu wajahku tepat berada di sampingnya maka…

Cuppp….

Bibirnya tepat mengarah pada bibirku. Sejenak kami saling pandang disaat bibir kami saling menempel.

Kemudian aku mulai kecup bibirnya, dia membalas ciumanku, ku julurkan lidahku ke rongga mulutnya lalu kak Ranty membuka mulutnya dan menggigit kecil lidahku.

“Emmhh…..cpmmhhh…cpmmhhh…”

Diemut dan disedotnya lidahku hingga bibirnya tertelan oleh mulutku, aku buka lebar mulutku untuk menampung bibirnya itu.

“Cpp….cppp..cppp…mmmhhhh” bunyi mulut kami saling beradu.

Sedang asik saling beradu mulut tiba-tiba kita dikagetkan oleh suara orang di belakang.

Dukkk…dukkk…dukk…

Bunyi kursi yang kami duduki digedor-gedor. Kami pun melepaskan pagutan kami. Terlihat di sekitar bibir kak Ranty mengkilap terkena air liurku.

“Oyy…kalo mau mesum jangan disini!” Kelakar orang yang ada di belakang kami.

“Shitt!!!” umpatku dalam hati.

Kami pun membetulkan duduk kami, kak Ranty mengelap area bibirnya yang terkena air liurku dengan telapak tangannya.

Selesai menonton film kami pergi dinner di salah satu restauran yang tidak begitu mahal, kami sama sekali tidak membahas apa yang terjadi di dalam bioskop tadi. Menurutku hal yang cukup memalukan.

Kami lalu kembali mengobrol di restauran itu sembari menunggu pesanan datang.

“Ran, kamu tadi pagi mainnya bagus banget,” puji kak Ranty.

“Iya dong, berkat sepatu pemberian kakak nih,” jawabku sekenanya.

“Kemarin sebelum pake sepatu itu juga bagus kok mainnya.”

“Iya soalnya didukung kakak, jadi mainnya bagus, kakak kan semangatku,” ucapku sembari tersenyum.

Kak Ranty tampak tersipu malu mendengarkan perkataanku.

“Tapi kakak gak tau loh kalo kamu jago main basket, perasaan waktu SMP kamu mainnya sepak bola deh.”

“Randy sih olahraga apa aja bisa, suruh tahan nafas di dalam air aja kuat,” jelasku tampak mengingatkannya akan suatu kejadian di suatu malam.

Kak Ranty tampak mengerti apa yang aku maksudkan, namun hanya tersenyum.

Kami kembali ngobrol dengan topik pembicaraan yang lain, kak Ranty tampak cantik malam itu, aku tidak ada puas-puasnya memandang wajahnya. Kami kemudian mulai menyantap makanan yang sudah dihidangkan.

“Ran, habis ini kita mau kemana?” tanya kak Ranty kepadaku.

“Ke pantai yuk kak,” ajakku.

“Tapi udah malem Ran.”

“Kan papah udah ngijinin kita pulang malem hehehe.”

“Ya udah kalo gitu, tapi jangan lama-lama, kamu kan besok ada pertandingan final.”

“Iya kak, bentar aja kok,” ujarku menyetujui ucapan kak Ranty.

Setelah membayar kami pun pergi ke pantai yang tidak terlalu jauh. Karena sudah agak malam suasana di pantai itu cukup sepi, hanya ada beberapa orang yang berjalan di sepanjang pantai.

Beberapa saat kami berjalan di pantai sambil bergandengan tangan, lalu kami duduk berdua untuk menikmati stargazing.

Kami duduk dengan memeluk lutut kami masing-masing, aku pandangi sesekali wajah kak Ranty yang sedang memandangi bintang di langit.

Angin yang berhembus menghempaskan rambut kak Ranty yang panjang. Sungguh aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat itu, jantungku seperti kehilangan ritmenya, lidahku kelu, sendiku seperti kehilangan pelumasnya.

Namun aku mencoba untuk mengungkapkan sesuatu yang ada dalam hatiku, ku hembuskan nafas panjang.

“Kak, Randy harap ini gak terlalu cepat dan mengejutkan, saat ini Randy pengin ngungkapin perasaan Randy yang paling dalam sama kakak.”

Aku mencoba untuk merangkai kata random yang ada di otakku, mengolahnya di hati dan mengucapkannya lewat mulut.

“Randy ingin ngungkapin sebuah hal yang gak sanggup lagi Randy pendam lebih lama.”

Jantungku saat itu berdetak sangat kencang, aku berusaha menutup mataku untuk sebuah kalimat terakhir yang ingin ku ucapkan malam itu. Sekarang atau tidak sama sekali!

“Randy cinta sama kakak! Mau gak jadi pacar Randy?”

Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, mata kami saling bertemu. Sejenak kak Ranty tampak terkejut dengan semua perkataanku barusan.

Namun sesaat kemudian dia tampak tersenyum.

“Apa yang membuatmu cinta sama kakak?” tanya kak Ranty kepadaku.

“Gak tau kak, perasaan itu gak bisa dijelasin, yang pasti Randy selalu nyaman di dekat kakak, ingin selalu terus bersama kakak,” ungkapku kepadanya.

Sejenak kak Ranty masih terdiam dan belum menjawab, aku sudah seperti orang gila saat itu menunggu jawaban dari kak Ranty. Namun beberapa saat kemudian.

“Randy…” ucapnya memanggil namaku.

“Iya kak.”

Aku lihat kak Ranty menutup matanya dan menghembuskan nafas panjang.

“Kakak juga cinta sama kamu Ran! Kakak mau jadi pacarmu!”

Degggg!!!

Jantungku seakan berhenti mendengarkan kalimat itu, namun perasaanku overwhelming saat itu. Aku seperti dilemparkan ke langit ke tujuh.

“K..kakak…te..terima cinta Randy???” ucapku tergagap.

Kak Ranty tidak menjawab dengan perkataan, dia hanya tersenyum lalu mengangguk.

Aku kemudian ikut tersenyum seraya memeluk kakakku.

“Kak, makasih udah terima cinta Randy, makasih udah percaya sama Randy.”

Kak Ranty memelukku balik.

“Iya sayang.” Jawaban kak Ranty itu seperti sebuah nyanyian indah di telingaku.

Ku lepaskan pelukanku, kami saling memandang, kucium keningnya lalu ku tatap lagi matanya.

Perlahan-lahan wajah kami semakin dekat, kemudian…

Cuppp….

Kami berciuman, bukan ciuman kami yang pertama namun aku merasa ciuman itu yang paling indah.

“Emphhh….mhhhh…mphhh…”

Kami berciuman dengan sangat lembut, saat itu rasa cinta lebih berperan daripada rasa nafsu.

Beberapa saat kemudian kami melepaskan ciuman kami, sadar sedang ada di area publik kami menyudahi percumbuan kami.

“Yank, nginep di hotel?” pintaku kepada kak Ranty.

“Jangan yank, besok kan ada pertandingan, nanti kamu gak fit lagi,” tolak kak Ranty.

Aku mengerti alasan kak Ranty, aku tak kecewa, mungkin memang harusnya aku menunda untuk sementara waktu. Yang terpenting kak Ranty sudah jadi milikku.

“Ya udah kalo gitu pulang yuk yank,” ajakku kepadanya.

“Yuk sayang,” balas kak Ranty singkat.

Bersambung

cewe berhijab sange
Ngentot Fatma Gadis Berjilbab Teman Satu Kantor
pembantu sexy
Mendapatkan Kesempatan Untuk Menikmati Tubuh Pembantuku
mama tiri
Mama tiri ku yang sangat dahsyat di ranjang
istri cantik
Cerita hot tukar pasangan dengan teman lama yang tak terlupakan
onani nikmat
Cerita ngocok waktu di rumah sendirian
Foto bugil Rin Hinami no sensor
adik kelass cantik
Ceritaku dengan adik kelas yang menawan
cewek galak
Ngentot Dengan Bos Ku Yang Galak
karyawan cantik bugil
Vony gadis cantik teman kantor yang punya libido tinggi
Foto Tante Cantik Kesepian Ngangkang Sange
gadis kost
Permainan Sexs Liar Dua Gadis Teman Kost Ku
Foto Ngentot Abg Cantik di Hotel Melati
Cerita sex ngentot dengan ibu guru janda muda yang montok
pacar kakak bugil
Mas Andi, Pacar Kakak Ku Tersayang
siswi maggang mesum
Cerita mesum dengan siswi cantik yang lagi maggang
janda montok
Ngentot Janda Beranak Satu, Main Nya Oke Banget