Part #17 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

“Ouhhh…..Rhanddyyy…jhhaanghaann….” desis ibuku meronta-ronta seraya meremas dan menjambak rambutku.

“Kenapa mah? Randy kan anak mamah juga sama kaya Reza…” ucapku disela-sela cumbuan.

“Enhhggak….Rann…bheedaa…khamuu…anhaak…khandungg…mamahhh…Rhezzaa…bhukaann…”

Cumbuanku turun ke bawah hingga sampai di dadanya, aku remas kedua payudara ibuku dan berusaha membuka kancing bajunya.

Namun seketika tampaknya ibuku tersadar, kemudian didorongnya diriku sekuat tenaga lalu…

Plakkkk!!!!

Ibuku tiba-tiba menampar diriku, aku bergerak ke samping lalu ibuku bangkit dan berusaha untuk pergi.

Saat ibuku akan beranjak pergi dari kamarku, aku ikut bangun dan menahan tangan ibuku.

“Mah, tunggu!”

Ibuku lalu berbalik menoleh ke arahku, matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis.

“Kalo mamah ngira Reza bener-bener cinta sama mamah, mamah salah besar, Reza itu cuma maniak seks,” ungkapku dengan tegas.

“Jangan asal ngomong kamu Ran!” timpal ibuku.

“Asal mamah tau, kak Ranty dan Reza putus karena kak Ranty mergokin Reza bawa cewek lain ke kostnya, untungnya yang kak Ranty liat bukan mamah!”

Ibuku sedikit memicingkan matanya, mungkin tidak mempercayai atas apa yang aku katakan.

“Apa kamu bilang? mereka putus?”

“Iya! dan Randy yakin masih banyak wanita yang udah jadi korbannya Reza, termasuk mamah!” seruku.

Ibu nampak belum mempercayai kata-kataku.

“Lepasin! Ibu mau pergi!” ucapnya lalu berusaha melepaskan genggaman tanganku.

Aku lepaskan genggaman tanganku dan membiarkan ibuku pergi.

Aku kemudian kembali duduk di tepi ranjangku, lalu berpikir agar ibuku bisa percaya kepadaku.

Aku tak punya apapun untuk dijadikan ancaman kepada ibuku, aku sama sekali tidak kepikiran untuk merekam perselingkuhan mereka.

Tapi tak mengapa, aku akan menaklukan ibuku dengan caraku sendiri, akan kubuat ibuku menyerahkan tubuhnya dengan sukarela, bukan dengan ancaman ataupun paksaan.

“Hmm…satu-satunya cewek yang gue tau yang punya hubungan khusus sama Reza itu sii….Icha…”

Aku jadi teringat tentang cewek bawel yang aku temui di kampus kakakku itu. Sepertinya dia bisa aku manfaatkan untuk membuat ibuku percaya kalau Reza adalah seorang maniak.

Setelah ibuku aman dari Reza baru aku akan balas dendam kepadanya. Akan ku hancurkan keluarganya juga, dan kebetulan mereka masih saudara jauh ayahku.

“Akan jauh lebih mudah,” pikirku.

Kemudian karena lelah setelah pagi tadi bertanding aku memutuskan untuk tidur siang kala itu.

Skippp…

Aku terbangun sore hari, aku teringat kalau aku ada janji dengan Lisa.

Ya aku ingin mengakhiri arc ini karena sudah terlalu berlarut-larut, setelah selesai aku akan fokus kepada arc ibuku.

Aku keluar dari kamarku karena aku lapar, di dapur aku melihat kak Ranty sedang menyiapkan makanan.

“Kak masak apa?”

“Gak masak Ran, barusan kakak beli di warung, gak sempet masak.”

“Oh, mamah mana?” tanyaku memastikan.

“Gak tau, dari tadi gak keliatan, masih di kamar kali.”

“Oh, gitu,” jawabku singkat.

Aku pun menyantap makanan yang dibeli oleh kak Ranty.

Malam harinya aku bersiap-siap untuk menjemput Lisa, karena aku sudah janji padanya.

“Mau kemana Ran? kok rapi banget,” tanya kak Ranty penasaran.

“Mau ketemu Lisa kak.”

“Mau ngedate yah, hmm…” balas kak Ranty dengan nada cemburu.

Aku lalu mendekatinya, aku lirik sana, lirik sini, aman!

Kemudian kucium kening, hidung, lalu bibir kak Ranty, aku menahan ciumanku di bibirnya lama.

“Randy cuma mau nyelesein masalah Randy sama Lisa aja kok kak, cuma endingnya ya gak tau hehehe…” candaku membuat kak Ranty kembali cemberut.

“Tenang aja kak, hati Randy cuma buat kakak,” sahutku sembari tersenyum.

Kak Ranty lalu mencubit perutku seraya berkata, “Ya udah sanah, ati-ati dijalan.”

“Iya, sayang,” balasku singkat.

Aku pun pergi menjemput Lisa dengan motorku. Sesampainya di rumah Lisa, ternyata dia sudah menungguku di depan rumah.

Sejenak Lisa tersenyum kepadaku, kemudian aku balas senyumnya itu.

“Naik?” tanya Lisa.

“Iya,” jawabku singkat.

Kami lalu pergi jalan-jalan sama seperti dua minggu lalu saat Lisa mengajakku pergi.

Di perjalanan kami hanya diam, kami masih sama-sama canggung dengan suasana ini.

Aku memutuskan untuk pergi ke food court tempat Lisa pernah mentraktirku dulu.

Sesampainya di sana, kami mulai memesan makanan, belum ada yang berani untuk berbicara, sampai akhirnya aku yang membuka pembicaraan.

“Mau pesen apa?” tanyaku kepada Lisa.

“Yang ini!” Dia menunjuk salah satu makanan dan minuman.

Setelah memesan makanan aku mulai berbicara untuk mencairkan suasana.

“Oh ya mama lu ulang tahun kapan?” ungkapku membuka pembicaraan.

“Tiga hari lagi.”

Ternyata ulang tahun mama Lisa berdekatan dengan ulang tahun kak Ranty yang minggu depan.

“Udah beli kado ultah belum?”

“Belum,” jawabnya singkat.

“Oh ya lupa, kan uangnya buat traktir gue dulu ya,” ucapku sambil tersenyum.

“Gak papa.”

“Entar kita cari kado buat mama lu.”

“Gak usah Ran,” tolaknya.

“Gak papa.”

Sekalian saja aku mencari kado untuk kak Ranty, mumpung ada yang menemani, kalau sendirian pasti aku bingung.

Kami pun melanjutkan makan malam kami, suasana mulai sedikit cair, kami ngobrol tentang hal-hal yang ringan.

Setelah makan kami mencari kado untuk mamanya Lisa dengan uang hasil upah pertandingan yang diberikan Dimas kemarin.

Saat mencari kado di mall, aku tak sengaja melewati toko tas yang pernah aku kunjungi bersama kak Ranty beberapa hari yang lalu.

Aku jadi ingat kalau kak Ranty pernah menginginkan salah satu tas yang ada di sini.

“Lis, mampir ke sini bentar yuk!” ajakku kepadanya.

“Mau apa?”

“Nyari kado buat kakak gue,” jawabku singkat.

Kemudian kami masuk ke dalam toko itu, aku cari tas yang diinginkan kak Ranty, ternyata masih ada.

Aku lalu membeli tas itu dengan harga 2,5 juta, itu adalah barang termahal yang pernah aku beli seumur hidup, tapi itu tidaklah mengapa demi seseorang yang paling berharga dalam hidupku saat ini.

“Ran, serius lu beli ini buat kakak lu?” tanya Lisa yang tidak percaya aku mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah kado ulang tahun.

“Iya Lis,” balasku sekenanya.

“Lu sayang banget ya, sama kakak lu?”

“Iya lah, sayang banget.”

“Gue juga kepingin punya saudara yang care kaya lu, tapi sayangnya kakak gue….” ucap Lisa tertahan.

“Kakak lu kenapa?” tanyaku penasaran.

“Gak..***k papa Ran, udah bayar dulu sana.”

Lisa tampaknya keceplosan berbicara tentang kakaknya.

“Emang ada apa sama kakaknya ya?” batinku.

Setelah mendapatkan dua kado untuk kak Ranty dan mamanya Lisa, kamipun pergi ke taman dekat pusat kota.

Taman yang sama saat Lisa jatuh keseleo dan aku gendong dia, saat dia mencium pipiku dan aku rasa jatuh cinta padanya.

Tapi itu hanyalah masa lalu, sekarang aku sudah mempunyai tambatan hati yaitu kak Ranty.

Di taman itu kami duduk berdua bangku yang disediakan di sana, aku beranikan diri untuk membahas tentang masalah diantara kita.

“Lis, apa yang dibilang Dimas kemarin itu benar? kalo kalian itu…”

“Iya, semua yang dibilang Dimas itu bener,” ucap Lisa memotong perkataanku.

“Jadi hubungan kalian itu…”

“Partner seks!” potongnya lagi.

“Oh…” jawabku lalu hanya mengangguk.

“Gue kenal Dimas dari kakak gue yang brengsek itu.”

Deggg….

“Brengsek, maksud lu?” tanyaku terkejut mendengar Lisa berbicara begitu.

“Iya, gara-gara kakak gue, gue jadi seperti sekarang, gue dirusak sama kakak gue sendiri.”

Aku masih memperhatikan apa yang dikatakan Lisa. Apa yang ia maksud dengan kata ‘dirusak’.

“Karena gue udah terlanjur jatuh, gue gak bisa ngelawan, jadi gue mutusin untuk pasrah aja, dan seiring berjalannya waktu gue mulai menikmatinya,” jelasnya panjang lebar.

Aku mulai menangkap maksud dari cerita Lisa itu. Aku jadi ikut prihatin dengan apa yang dialami Lisa. Kalau saja aku mengetahuinya dari awal, aku pasti sudah melindunginya.

“Terus kalo lu tanya kenapa gue kenapa gue gak mau ngelakuin ‘itu’ sama lu, itu karena….” Lisa kembali menahan kata-katanya.

“Karena apa?” Aku bertanya sembari mengernyitkan dahi.

“Karena gue sayang sama lu, gue cinta sama lu, gue gak mau ngerusak lu kaya gue sekarang, karena gue gak pantes buat lu,” jawabnya sedikit menitihkan air mata.

Lisa kemudian menyeka air matanya dengan tisu yang ada di dalam tasnya.

Aku menghembuskan nafas berat.

“Kenapa lu gak bilang dari awal, gue pikir kita itu sahabat, gue gak mungkin ngejauhin lu karena kondisi lu, gue akan tetep dukung lu apapun yang terjadi,” ujarku kepadanya.

Lisa menundukkan kepalanya, air matanya sudah berhenti, dia terlihat sedang menerawang.

“Asal perlu lu tau, gue juga gak terlalu bersih.”

Lisa kemudian menoleh ke arahku.

“Bisa dibilang kita sama-sama kotor dan rusak, jadi apa bedanya?” ungkapku lalu menatap matanya.

“Jadi…”

“Jadi?” Aku gantian memotong perkataannya.

“Apa lu mau jadi pacar gue?” Pungkas Lisa kepadaku.

Lisa menatapku dengan tajam, seolah menunggu jawabanku. Aku sempat terkejut dengan apa yang dikatakannya namun sesaat kembali tersenyum.

“Sorry Lis, tapi gue udah punya pacar,” balasku.

“Oh, siapa?”

“Seseorang yang gue cintai.”

Aku tak mungkin memberi tahunya kalau pacarku adalah kakakku sendiri.

“Kalau jadi…”

“Partner seks?” Aku kembali memotong pembicaraannya.

Lisa kembali menatapku namun tak mengatakan apa-apa.

“Kalo lu lagi butuh, hubungi gue aja,” balasku kepadanya.

Lisa tersenyum kepadaku, aku kemudian mendekatkan wajahku kearahnya. Mata lisa menatap ke arah bibirku yang semakin mendekati bibirnya, lalu tiba-tiba…

“Mah, om sama tante itu mau ciuman,” ujar seorang anak laki-laki melihat melihat kami.

Seketika aku langsung menarik wajahku dari wajah Lisa. Ibu anak itu kemudian menutupi mata anaknya lalu berkata, “mas mba, tolong yah kalo di tempat umum jangan pada mesum, banyak anak kecil.”

Aku pun jadi malu karena ketahuan melakukan itu di tempat publik, lalu aku ajak Lisa pulang saja saat itu.

“Lis, pulang yuk, udah malem.”

“Ayuk Ran!”

Lalu kami pulang dengan menaiki motorku. Saat sampai di rumahnya Lisa menawariku untuk mampir.

“Ran, mampir dulu?” tawarnya kepadaku.

“Entar dimarahin orang tua lu, ada cowok main malem-malem di rumah cewek.”

“Orang tua gue jarang di rumah, gue sering tinggal sama kakak gue doang.”

“Oh berarti sekarang ada kakak lu?”

“Kakak gue lagi main, biasanya pulang malem atau pagi.”

Aku jadi penasaran dengan kakaknya itu, apakah yang Lisa maksud ‘ngerusak’ itu sama seperti apa yang aku pikirkan?

“Ya udah deh.”

Aku kemudian masuk ke rumahnya.

Rumahnya tidaklah besar namun cukup bagus, barang yang ada di dalamnya juga merupakan barang-barang malah menandakan bahwa Lisa itu anak orang yang cukup berada.

Saat di dalam rumah Lisa aku dipersilahkan duduk di atas meja eh… sofa.

Lisa kemudian masuk ke dapur untuk mengambilkan aku minuman dan sekedar cemilan.

Saat kembali dari dapur, aku terkejut dengan penampilan Lisa.

Ternyata dia sudah mengganti pakaiannya dengan daster, aku bisa melihat toketnya menggantung dan samar-samar aku bisa melihat putingnya mengacung dibalik daster itu, menandakan dia tidak memakai bh.

Lalu Lisa duduk di sebelahku.

“Nih, diminum dulu Ran!”

Aku meminum minuman yang disediakan oleh Lisa namun mataku tertuju pada dua buah yang menggantung di dadanya.

Sadar mataku tertuju pada toketnya, Lisa sengaja menguncir rambutnya dengan membentangkan kedua tangannya membuat buah dadanya membusung dan semakin jelas mencetakkan putingnya.

Melihat gerakan sensual itu nafsuku menjadi naik. Lisa hanya tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.

Merasa ditantang olehnya aku kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya. Lisa masih menguncir rambutnya, memperlihatkan keteknya yang putih mulus tanpa bulu.

Wajah kami semakin dekat lalu…

“Ehmmhhhcppp”

Bibir kami saling berciuman, Lisa membalas ciumanku dengan ganasnya.

Tangan kiriku mengarah ke toketnya sebelah kanan, aku remas-remas toketnya itu, sangat kenyal.

“Ehmmhh…ouhhh…Rhandhhyy…shhh…”

Desahnya menjadi-jadi, kumasukkan lidahku ke mulutnya yang langsung dikulum oleh Lisa.

Aku dorong sedikit badannya hingga ia rebahan di sofanya, aku masukkan tanganku ke dalam daster itu hingga tanganku langsung mencapai toketnya.

Putingnya yang mengacung aku pilin-pilin hingga desahannya semakin keras.

“Ouhhh…Rhannn…ehmmcppp….”

Tangan Lisa kemudian berusaha untuk mencari resleting celanaku. Aku kemudian menurunkan resleting celanaku lalu kuturunkan celanaku hingga kontolku yang sudah mengeras menjuntai bebas.

Setelah celanaku turun, tanganku kemudian mengangkat dasternya hingga pinggang, lalu aku sentuh daerah kemaluannya.

Aku merasakan lipatan memeknya langsung bersentuhan dengan jariku. Ternyata Lisa sudah tidak mengenakan celana dalam dari tadi.

Kemudian aku gosok lipatan memeknya itu naik turun menggesek klitorisnya.

“Achhhh….Rhanddyyy…enhakkk…”

Sejenak lisa mengapit tanganku karena geli mendapatkan serangan mendadak dariku, namun sejenak dilebarkannya lagi pahanya agar aku mendapatkan full akses memeknya.

Setelah Lisa melebarkan pahanya, tanganku mulai kembali beraksi.

Kutekan klitorisnya dengan jempol lalu kumasukkan jari telunjuk dan jari tengahku ke dalam memeknya.

“Ouhhh…Rhann…mashukkiinnn…Rhann…ouhhh…”

Aku turunkan sekaligus celanaku hingga terlepas, aku angkat Lisa hingga berdiri namun kakinya menggantung di pinggangku, tangannya melingkar di leherku.

Aku lingkarkan tangan kananku di pinggangnya hingga mencapai bokong kanannya.

Aku arahkan kontolku dengan tangan kiriku, aku angkat sedikit bokong kanannya agar lubang memeknya sedikit melebar.

Setelah pas lalu kuturunkan tubuhnya dan…

Blessss…..

Kontolku masuk ke memek Lisa hingga mentok.

“Ouhhh…Rhanddyy…emhhh….”

Sejenak kupandang wajahnya, matanya sayu, mulutnya menganga mengeluarkan desahan, wajahnya merah.

Mata kami saling bertemu sama dengan kelamin kami, kemudian aku gerakkan tubuhnya naik turun hingga kontolku keluar masuk memeknya.

“Ouhh…enhakkk…Rhann…nhikmhattt….”

Setelah gerakannya lancar, aku lepaskan tanganku hingga dia bisa naik turun sendiri.

“Ouhh…ouhh…ouhh…ehmm….shhh…” desahnya saat memeknya menghujam kontolku.

Plokk…plokk…plokk…

Bunyi persenggamaan kami.

Aku seperti seseorang yang mengenakan ransel di dadaku saat itu.

Lalu aku terduduk di sofa, aku remas-remas toketnya dengan kedua tangan, kemudian Lisa mendekatkan toketnya itu ke arah wajahku meminta dikenyot.

Aku pun menjilat lalu mengulum putingnya kanan dan kiri, hingga saatnya tiba…

“Ouhhh….Rhan… Akhuuu…mhauuu…nyhampeeee….”

Menyadari sebentar lagi Lisa jebol, aku lalu mengangkat tubuhnya lalu kubaringkan di sofa itu.

Dari atas aku pompa memeknya dengan keras dan cepat.

Plokkk…plokkk…plokkk…

Cleppp…cleppp…cleppp…

Aku semakin mempercepat pompaanku hingga akhirnya…

“Rhannn…..emshhh….archhhhhh……..”

Dadanya membusung, aku merasakan memeknya berkedut seraya menyirami kontolku dengan cairan cintanya.

Srrrrr…srrrr…srrrr…

Lisa mendapatkan klimaksnya yang pertama, aku melihat wajahnya yang penuh birahi menampakkan kepuasan.

Sejenak dia masih mengatur nafasnya, kemudian setelah sadar Lisa balik menatapku, saat itu kontolku masih menancap di memeknya.

“Ran…” panggilnya.

“Iya?”

“Malam ini nginep di rumahku yah,” pintanya kepadaku.

Awalnya aku bimbang, namun melihat wajahnya penuh harap akhirnya aku pun menyetujuinya.

Malam itu kami melakukannya lagi dan lagi hingga Lisa orgasme berkali-kali.

Aku pun akhirnya klimaks dan menumpahkan spermaku di dalam memeknya.

Bersambung

kakak cantik
Maaf Kan Adik Mu Ini Ya Kak
perawan
Terimakasih Untuk Keperawanan Mu
Ngentot Gadis Desa Yang Masih Polos
Ngentot Gadis Desa Yang Masih Polos
bokep teller bca
Bercinta Dengan Pegawai Bank Yang Masih Perawan Bagian Dua
mama muda memek
Nikmatya Ngentot Ibu Muda Tetangga Ku
sepupu hamil
Cerita hot ngentot kakak sepupu yang lagi hamil
Foto Cewek Nakal Bugil Pamer Memek Mulus
kakak sexy
Paling Nafsu Kalo Liat Kakak Ku Pakai Baju Yang Ketat-ketat
adik sepupu polos
Mengajari petting adik sepupuku yang masih polos
Tante hot
Aku Menjadi Kekasih Gelap Tetangga Ku Bagian Satu
Ibu guru sexy
Ku gadaikan tubuh ku untuk melunasi hutang suami ku
Foto Bugil Abg Jembut Lebat Lugu Pemalu
Tante sange
Memuaskan tante Vera di atas ranjang
Foto Bugil Tante Montok Mainin Memek Sampai Basah
Foto Bugil Siswi SMP Toge Jembut Tipis
Cerita Dewasa Enak-Enak Dengan Wanita Malam