Part #18 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Aku terbangun pukul 4 pagi, kulihat Lisa masih tertidur pulas. Kemudian aku bangunkan dia dengan Mencium bibirnya yang melongo itu. Kulihat ada iler yang mengalir di pipinya.

“Beh, baru tau kalo Lisa tidur suka ngiler, hehehe…”

Lalu kujilat iler itu di pipinya yang bercampur dengan keringatnya hingga ia terbangun.

“Hoammzzz….” Lisa meregangkan badannya lalu sejenak melirik ke arah diriku yang senyum-senyum sambil memandangi wajahnya.

“Ngapain liatin gue kek gitu?”

“Gak papa kok, lu keliatan lebih cantik kalo lagi ileran begitu, hahaha…”

Mata Lisa seketika terbelalak, kemudian terduduk lalu mengelap pipinya yang penuh air liurnya dan air liurku.

“Ihh…Randy kok gitu sih,” ucap Lisa sambil menahan malu.

“Tenang aja, udah gue bersihin kok, pake lidah gue, hahaha…” ungkapku kembali tertawa.

“Itu sih bukan bersihin, malah tambah kotor.”

Wajahnya terlihat sebal, namun aku yakin hatinya senang aku perlakukan begitu, terbukti setelah itu dia malah mengajakku mandi.

Aku pun menerima ajakannya, di kamar mandi kami melakukannya satu kali lagi dan lagi-lagi aku keluarkan di dalam memeknya.

“Lu sengaja mau bikin gue hamil ya Ran!” omelnya kepadaku karena aku bandel.

“Gue emang gak bisa keluar di luar Lis, kaya ada yang kurang gitu, kalo lu hamil ya rawat aja anaknya.”

“Emang lu mau tanggung jawab?”

“Ya jangan dong kan masih sekolah, entar anaknya mau dikasih makan apa, hehehe,” jawabku agak bercanda.

“Dasar, enak di elu gak enak di gue,” balasnya singkat.

Selesai mandi aku pun berpamitan pada Lisa sambil berbisik…

“Jaga anak kita baik-baik yah, hahaha…”

Lisa tidak menjawab, hanya memukul lenganku namun tidak terasa sakit.

Saat aku akan keluar dari rumah Lisa, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang masuk ke dalam rumah Lisa.

Dia terlihat sedang mabuk, bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya. Aku menatapnya saat dia berjalan memasuki rumah, dia hanya berjalan melewatiku sambil sempoyongan.

“Lis, itu kakak lu?” tanyaku penasaran.

“Iya, udah sana,” jawabnya sembari menyuruhku pulang.

Aku memang merasa bahwa kakaknya mempunyai aura negatif, sepertinya dia anak berandalan.

Aku tidak memusingkannya, lalu memacu motorku untuk pulang karena paginya aku akan pergi ke sekolah.

Skip…

Paginya saat aku akan berangkat sekolah tiba-tiba kak Ranty menahanku.

“Ran, bentar!” panggil kak Ranty.

“Ada apa kak?”

“Semalem kamu pulang jam berapa?” tanyanya sambil melipat tangannya di dada.

“Jam 4 kak,” jawabku singkat.

“Pasti kamu main ya sama Lisa, hmm…” ucapnya sembari cemberut.

“Hehehe…kakak tau kan kalo aku cintanya cuma sama kakak,” balasku kemudian aku mencium bibirnya lama.

Nampaknya ciuman itu mampu menawarkan racun kecemburuan di hati kak Ranty.

Terbukti setelah mendapatkan ciuman dariku, dia langsung menunduk dan tersenyum.

“Ihh dasar kamu Ran, udah sanah berangkat nanti telat loh,” ucap kak Ranty yang dibarengi dengan sentilan di perutku.

Aku pun berangkat sekolah. Di sekolah aku kembali bertemu dengan Lisa, aku lihat bibir sampingnya membiru.

“Bibir lu kenapa?”

“Gak papa Ran, tenang aja.”

“Kakak lu yang lakuin itu?”

“Bukan, udah gak usah dibahas,” pungkas Lisa menghindari pertanyaan dariku.

“Sebejat apa sih kakaknya itu? kalo tau dari dulu gue abisin dia,” batinku.

Aku kembali menjalani kehidupan sekolahku yang normal, hubunganku dengan Lisa kembali seperti dulu lagi, bahkan jauh lebih baik. Kami sudah seperti orang pacaran saja saat di sekolah, nempel terus.

Skip…

Bel tanda pulang sekolah berbunyi, aku cek hpku, ternyata ada pesan dari kak Ranty minta dijemput beberapa menit yang lalu.

“Lis, sorry gak bisa anter pulang, ada urusan mendadak.”

“Iya gak papa, gue juga mau mampir dulu habis ini.”

“Oke deh kalo gitu, gue cabut dulu ya, bye…muachh…” ucapku seraya memberikan kiss bye.

Setelah itu aku memacu motorku ke kampus kak Ranty, sesampainya di sana aku chat lewat wa tapi tidak dia balas.

“Dimana sih kak Ranty,” batinku.

Setelah aku cari-cari aku menemukannya di sebelah gedung timur kampus itu.

Namun saat itu aku melihatnya sedang berbicara dengan seseorang. Dia seorang wanita yang mengenakan jilbab panjang hingga menutupi seluruh tangannya.

“Kak Ranty sama siapa yah?” batinku lagi.

Keduanya terlihat sangat serius membicarakan sesuatu, bahkan aku lihat wanita itu sampai memegang kedua tangan kak Ranty seperti memohon sesuatu.

Aku putuskan untuk mengamati dari jauh dulu. Beberapa saat kemudian akhirnya wanita itu pergi. Kemudian aku hampiri kak Ranty.

“Kak!” panggilku.

“Eh, Ran baru dateng?” tanya kak Ranty kepadaku.

“Udah lumayan lama sih, cuma tadi Randy ngeliat kakak lagi sama perempuan, itu siapa kak?”

Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran.

“Oh, dia itu mamahnya Reza,” jawab kak Ranty.

Ternyata akhwat itu adalah ibu dari Reza, tapi kenapa orang seperti itu bisa punya anak sebejat Reza? entahlah.

“Emang ada urusan apa kak? kok kayaknya tadi Randy liat ngomongnya serius banget?”

“Iya, tadi mamahnya ngabarin kalo Reza habis kecelakaan, rusuknya patah,” jelas kak Ranty kepadaku.

“Kecelakaan? hmm…pake bo’ong lagi, bilang aja habis kena tendangan super dwi chagi gue kemarin, hihihi…” tawaku dalam hati.

“Terus, kakak bilang apa?”

“Kakak bilang kakak udah putus sama Reza, tapi mamahnya mohon-mohon sama kakak buat memperbaiki hubungan lagi, karena kakak udah dijodohin sama dia.” jelasnya panjang lebar.

“Terus kakak mau?” ucapku penuh penekanan.

Kak Ranty tidak menjawab, melainkan hanya mengangkat kedua bahunya.

“Gue gak boleh ngebiarin ini terjadi, pokoknya gak boleh,” pungkasku dalam hati.

“Oh ya Ran, habis ini kita jengukin Reza dulu yah, gak enak sama mamahnya,” pinta kak Ranty kepadaku.

“Aduh kak, nanti kalo suruh balikan gimana? Randy gak mau!”

“Terus gimana dong Ran, kakak gak punya pilihan lain, mereka masih sodara jauh papah, kakak gak enak.”

“Ya udah kakak jengukin aja gak papa, tapi Randy temenin ya, dan kalo kakak disuruh balikan jangan mau!” perintahku penuh ketegasan.

“Iya nanti kakak coba bicarain baik-baik sama mereka yah,” ucap kakakku menenangkan.

Kamipun pergi ke rumah sakit tempat Reza dirawat. Sesampainya di rumah sakit kami pergi menuju ruangan yang sudah di beritahukan oleh ibunya Reza.

Tok…tok…tok…

Kak Ranty mengetuk pintu ruangan itu. Kemudian seseorang membukakan pintunya, ternyata itu adalah ibunya.

“Ehh, nak Ranty dateng, ayo masuk,” sapa ibunya dengan ramah kepada kak Ranty.

Sejenak ibunya melirik ke arah diriku dengan tatapan sinis, mungkin dia mengira aku adalah orang ketiga yang membuat Reza dan kak Ranty putus.

“Eh iya…kenalin teh, ini Randy adiknya Ranty,” ucap kak Ranty memperkenalkan diriku.

Wajah ibunya sekejap berubah, aku lihat wajahnya memerah karena malu dan tidak enak terhadap diriku.

“Oh, adiknya nak Ranty, maaf teteh gak tau,” tandasnya meminta maaf.

“Iya gak papa teh,” balas kak Ranty singkat.

Kemudian kami menghampiri Reza yang tengah tertidur di ranjang rumah sakit itu.

“Rez bangun, nak Ranty dateng loh.”

Sekejap Reza pun terbangun dari tidurnya, matanya langsung terbelalak melihat diriku ada di situ.

“Awww…..” Reza reflek sedikit bangkit yang membuat dirinya kesakitan.

“Jangan bangun dulu Reza, tiduran aja dulu, nak Ranty gak kemana-mana kok.”

Ibunya kemudian mulai bercerita untuk mencairkan suasana, namun aku melihat Reza sesekali masih melirik ke arah diriku.

Aku dengan gerakan tangan menyilet leherku memberikan isyarat padanya ‘gue habisin lu’.

Dia kemudian kembali memalingkan wajahnya.

Beberapa saat kemudian obrolan mulai membahas tentang hubungan mereka berdua. Itu adalah hal yang ingin aku hindari namun aku tak punya topik lain untuk memotong pembicaraan mereka.

Sampai pada akhirnya…

“Mamah, Reza mau ngobrol sama Ranty bentar dong, berdua aja,” pinta Reza kepada ibunya.

“Berani-beraninya dia minta hal semacam itu, shit! gue jadi gak bisa jagain kak Ranty,” umpatku dalam hati.

“Oh, kamu mau ngobrol empat mata sama nak Ranty, ya udah mamah keluar dulu.”

Ibunya pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar, aku masih mematung diri di samping kak Ranty.

Kemudian kak Ranty menepuk lenganku dan memberi isyarat agar keluar sebentar.

“Sial! gue gak punya pilihan lain kalo kaya gini,” umpatku lagi-lagi dalam hati.

Aku pun terpaksa keluar menyusul ibunya Reza keluar ruangan.

Di luar ruangan aku gelisah, lalu aku duduk di kursi panjang yang disediakan di luar ruangan itu.

Kursi itu cukup panjang namun aku duduk tepat di tengah kursi itu dan tangan merentang di atas sandaran kursi hingga kursi itu hanya cukup untuk satu orang.

Akhwat ibunya Reza masih berdiri sembari melirik ke arahku yang duduk tidak bagi-bagi.

Sesaat aku baru sadar kalau aku diperhatikan oleh teteh itu.

“Eehh…maaf teh, saya lupa kalo ada orang hehehe…”

Aku kemudian menggeser dudukku ke sebelah kanan, baru dia duduk di sampingku dengan jarak sekitar satu meter.

Beberapa saat kami masih saling terdiam, kemudian dia membuka pembicaraan.

“Kamu itu anaknya Rosmala sama Solikin kan?” tanyanya kepadaku.

“Iya teh,” jawabku singkat.

“Oh, jarang keliatan ya, kirain tadi…” ucapnya tertahan.

“Kirain apa teh?”

“Bukan, bukan apa-apa kok.”

“Kirain pacarnya kak Ranty? EMANG BENER!” ungkapku dalam hati.

Kemudian kami berkenalan dan sedikit bercerita tentang keluarga kami masing masing.

Setelah kenalan aku ketahui kalau dia bernama teteh Adibah, dia adalah pemilik salah satu pondok pesantren yang cukup bonafit di Bandung.

Dia memiliki tiga anak yang pertama bernama Kartikasari (Sari) 26 tahun, menikah 2 tahun lalu (saat Reza dan kak Ranty dijodohkan) dan memiliki seorang anak laki-laki.

Yang kedua Reza 21 tahun masih kuliah, satu universitas dengan kak Ranty, dia tinggal ngekost di Jakarta.

Yang ketiga Annisa 18 tahun, sebaya denganku, dia sekolah di Jakarta juga namun beda sekolah denganku dan tinggal di rumah neneknya.

Teh Adibah juga bercerita kalau dirinya sudah lima tahun menjanda karena suaminya meninggal karena serangan jantung.

Dia menjalankan pondok pesantren itu bersama kakeknya dan seorang ustad yang punya reputasi di Bandung.

Aku lihat teh Adibah orangnya cukup terbuka meskipun dengan orang yang baru dikenalnya sepertiku.

Aku pun ikut bercerita tentang kehidupan sekolahku yang tentu saja sedikit banyak ku karang sendiri. Namun ceritaku benar-benar mengalir apa adanya.

Teh Adibah juga sangat antusias mendengarkan ceritaku, dia tidak sungkan-sungkan untuk tertawa dengan lepas.

Aku ngobrol dengannya sampai aku lupa kalau aku sedang menunggu kak Ranty selesai berbicara dengan Reza.

Sampai akhirnya…

Ckrekk….

Pintu kamar Reza terbuka, kulihat kak Ranty keluar dari ruangan itu.

“Eh…nak Ranty udah selesai ngobrolnya?” tanya teh Adibah kepada kak Ranty.

“Udah teh, kalo gitu Ranty pamit dulu yah,” ucap kak Ranty berpamitan.

“Ya udah ati-ati dijalan.”

Kamipun pergi dari rumah sakit itu, saat berjalan aku melihat kak Ranty melamun, aku pun bertanya kepadanya.

“Kak, tadi Reza ngomongin apa?”

“Kakak lagi gak mau bahas.”

“Ayolah kak, kenapa kakak jadi murung gitu?” tanyaku penasaran.

“Nanti di rumah aja ya Ran,” ujar kak Ranty menunda.

Kami kembali berjalan, namun sesaat kemudian aku merasakan ada sesuatu yang hilang.

“Hp gue!!!” jeritku dalam hati.

“Kenapa Ran? kok panik gitu?” tanya kak Ranty melihatku kebingungan.

“Hp Randy kak! ketinggalan kayaknya,” ujarku dengan panik.

“Ya udah sana cari dulu!”

“Bentar ya kak!”

Aku secepat kilat kembali ke ruangan Reza, aku merasa menaruhnya di bangku depan tadi.

Sesampainya kembali di ruangan itu aku mencari-cari di sekitar bangku. Tidak ada…

“Shit!!!” umpatku dalam hati.

Sedang panik-paniknya mencari hpku yang hilang tiba-tiba ada seseorang yang datang.

“Nyari ini?” ucap seseorang itu.

Aku menoleh ternyata itu teh Adibah yang menemukan ponselku, namun entah mengapa wajahnya sangat datar tidak seperti saat kami mengobrol tadi.

“Syukurlah!”

Aku kemudian menerima ponsel itu darinya.

Betapa terkejutnya, teh Adibah sengaja menyerahkan ponselku dalam keadaan layar menyala.

Dan di situ terdapat foto wallpaperku yang menampilkan foto selfie kak Ranty mengenakan daster tali dan diriku tanpa mengenakan asatan sedang memeluknya dari belakang sambil BERCIUMAN BIBIR!!!

DEG…!!!!!!

Bersambung

Bercinta dengan mama
Mengobati Rasa Kesedihan Mama
tante montok
Hangat Nya Tubuh Mbak Nia
sepupu sexy
Tak bisa menahan nafsu birahi gara-gara tidur sekamar dengan sepupu ku
Cerita Dewasa Menginap Di Rumah Tante Lia
perawan
Merawanin dua gadis cantik yang masih daun muda
jilbab bugil ngentot
Rintihan Kenikmatan Gadis Berjilbab
Foto Ngintip Abg Cantik Mulus Pipis di Toilet Umum
istri cantik
Cerita hot tukar pasangan dengan teman lama yang tak terlupakan
Mantan pacar yang sekarang jadi istriku
Mahasiswi montok toket gede montok dan bulat
kakak cantik
Maaf Kan Adik Mu Ini Ya Kak
Foto tante bokong gede nungging di sodok kontol
Foto Bugil Tante Montok Mainin Memek Sampai Basah
cantik bugil masih perawan
Ku renggut keperawanan adik sahabatku waktu liburan bersama
Nikmatnya Bercinta Dengan Tanteku
Ceria Dewasa Enak-Enak Dengan Istri Teman