Part #2 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Sepulang dari kafe itu aku memacu motorku dengan cukup pelan. Kami masih terdiam, belum ada yang berani membuka percakapan.

Beberapa menit kemudian Lisa pun memberanikan diri untuk ngomong duluan.

“Ran,” panggilnya.

“Apa?”

“Marah?”

“Gak!”

“Maaf..”

“Hmm..”

Lisa kemudian mencubit pinggangku.

“Aduh!” Aku memekik, bukan karena sakit melainkan geli.

“Lu masih marah ya? Maaf soal tadi,” ucapnya sambil meletakkan dagunya di atas bahuku.

“Kenapa dari awal lu gak bilang dulu? setidaknya minta persetujuan gue dulu kek, jangan main asal tawarin gue aja, gue ini bukan barang, tau!” omel ku panjang lebar kepadanya.

“Sorry, soalnya gue takut kalo gue bilang dulu lu bakalan langsung nolak.”

“Emangnya sekarang gue bakal terima tawarannya?” tanyaku mengancam, aku hanya ingin melihat ekspresinya.

“Yah jangan gitu dong Ran, gue gak enak sama kak Dimas nih.”

“Emang Dimas itu siapa sih?”

“Gue udah bilang kan kalo dia temennya kakak gue,” balasnya singkat.

“Kok tadi gak ada kakak lu?”

“Kan butuhnya sama gue bukan sama kakak gue,” jawabnya menjelaskan.

Aku sudah lelah berdebat dengannya, aku pun memilih mengalah dan diam.

“Ran, maafin gue ya..” pintanya sekali lagi.

“Iya gue maafin.”

“Hehe, makasih Randy,” jawabnya sambil mencubit pipiku.

Aku kembali memacu motorku sedikit lebih kencang.

“Sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih, habis ini gue traktir deh.”

“Halah palingan traktir cilok depan sekolah.” ucapku mengejek.

“Enggak dong, kali ini beda gue traktir makan di food court,” ajaknya kepadaku.

“Emang lu punya duit?”

“Ada..ada..tapi cuma untuk kali ini aja ya hehe..” jawabnya sambil cengengesan.

“Oke deh,” balasku singkat.

Lalu aku mengarahkan motorku ke tempat yang diberitahukan oleh Lisa itu. Sesampainya di foot court kami pun lalu memesan beberapa makanan dan minuman yang cukup mahal untuk ukuran kantong anak SMA.

“Lis, beneran gak papa nih kita makan di tempat ini?” tanyaku memastikan.

Karena aku memang baru pernah makan di tempat seperti ini dan orang-orang yang datang terlihat dari kalangan menengah ke atas, aku jadi merasa sedikit canggung.

“Udah tenang aja,” jawabnya menenangkan.

“Lu punya uang banyak, darimana?”

“Dari tabungan gue lah.”

“Tabungan?”

“Iya, sebenernya gue nabung buat beliin hadiah ulang tahun nyokap, tapi gak papa lah ulang tahunnya masih lama juga, gue masih bisa nabung lagi, lagian makanan ini juga gak seberapa.”

Aku pun jadi tak enak hati mengetahui uang yang dia keluarkan untuk mentraktirku itu hasil tabungannya untuk membeli hadiah ulang tahun mamanya.

Sebenarnya saat itu aku ingin membayar semua tagihan makanan yang sudah terlanjur kita pesan, tapi apalah daya aku tak punya uang sebanyak itu.

“Nanti gue balikin uangnya kalo gue udah punya duit.”

Lisa tidak menjawab melainkan hanya tersenyum, kemudian kami menyantap hidangan yang sudah disajikan.

“Ran, gimana? lu berminat kan gabung timnya kak Dimas?” tanyanya disela-sela makan.

“Belum tau Lis, emang kenapa?” tanyaku balik.

“Yah kenapa? tawarannya kurang? kalo menurut gue sih terima aja, dibandingin sama ikut lomba di sekolah lu cuma dapet piala doang itupun pialanya buat sekolah,” ucapnya membujukku.

“Gini deh, sekarang gue tanya balik,, emang lu dapet apa kalo gue mau join tim mereka?”

“Gak ada sih, cuman gue gak enak aja sama kak Dimas, dia udah percaya sama gue jadi gue gak mau ngecewain dia.”

“Emang ada hubungan apa sih lu sama dia?” tanyaku menerka-nerka.

“Kenalan,” jawabnya singkat. Aku jadi curiga dengan hubungan mereka, kenapa Lisa bisa sampai seloyal itu padanya.

Namun aku tidak ambil pusing, aku tidak mau merusak momen berduaan kami saat ini. Kamipun mengganti topik lain yang lebih ringan.

Setelah selesai makan di tempat itu Lisa kemudian mengajakku untuk jalan-jalan. Jarang sekali kami menghabiskan waktu berdua seperti ini, biasanya aku hanya mengantarkannya ke tempat yang dia inginkan lalu menjemputnya setelah dia selesai.

Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu seharian dan hari sudah larut malam, saat itu kami masih mengenakan seragam sekolah hanya saja kami mengenakan jaket hoodie agar tidak terlalu mencolok. Kami pun memutuskan untuk pulang.

“Ran, pulang yuk! cape nih,” ajaknya.

“Ayuk deh!” jawabku balik.

Saat itu kami masih berada di salah satu taman di dekat pusat kota sambil menyantap jajanan kaki lima yang kami beli di pinggir jalan. Saat kami berjalan di tempat motorku diparkirkan, sambil ngobrol dia tiba-tiba menggandeng tanganku.

Aku lalu menatapnya, dia balik menatapku, hatiku dag dig dug tidak menentu. Saat itu kami sudah seperti orang pacaran.

Karena terlalu asik kita saling menatap, kita sampai tidak melihat jalan. Saat itu ada dua buah anak tangga menurun, Lisa tidak melihatnya alhasil diapun tergelincir.

Bruk!!!

Aku yang terlambat bereaksi hanya bisa melihatnya tersungkur ke tanah.

“Aduh..aduh..aduh Ran, sakittt!!!” Lisa tampak meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang keseleo.

“Diem dulu, jangan gerak.” Aku mencoba memeriksa kakinya.

“Gak papa cuma keseleo.”

“Tapi sakit Ran!”

Aku pun mencoba mengurutnya. Berkali-kali dia mengerang kesakitan, namun beberapa saat kemudian dia mulai tenang.

“Udah baikan?” Aku mencoba bertanya.

“Masih sakit.”

“Bisa jalan?”

“Enggak.”

Lalu aku memberi isyarat untuk naik ke punggungku, dia melingkarkan tangannya di leherku lalu ku gendong dia menuju ke motorku.

“Ran!” panggilnya.

“Apa?” Aku mencoba memutar sedikit kepalaku merespon panggilannya.

Tiba-tiba

Cuppp…

Lisa mencium pipiku, aku yang syok hampir saja kehilangan pijakan ku namun aku berhasil menyeimbangkan badanku lagi.

“Makasih ya, lu udah care sama gue,” ucap Lisa kepadaku.

Aku diam saja lalu melanjutkan langkahku, aku tersenyum mengingat kejadian barusan, apa dia juga menyukaiku ya? apa aku tembak saja dia sekarang? tembak tidak ya? Ahh pikiranku benar-benar blank.

Pada akhirnya aku tidak melakukan apa-apa, aku takut hubunganku malah jadi renggang karena perasaanku ini tidak diterimanya.

Bersambung

Ternyata diperkosa itu tidak selamanya tidak enak
istri cantik
Cerita hot tukar pasangan dengan teman lama yang tak terlupakan
Mandi Bareng Dengan Tante Dewi
Jatuh Cinta Pertama Season 1
tante hot
Ngentot Tante Ku Sendiri Yang Sedang Asyik Masak Di Dapur
cewek toge
Keinginanku Menikmati Gadis Bertoket Gede Kini Menjadi Kenyataan
Gambar Bugil Ngentot Animasi Gif Bergerak
abak pembantu
Anak Pembantu Ku Yang Penurut Bagian Dua
500 foto chika bandung saat masih perawan dan lugu bugil
pelacur cantik
Pelacur yang telah mengambil keperjakaan ku
Petualangan Sexs Liar Ku Season 1
tante semok
Kenikmatan yang di berikan tante semok di kamar hotel
Cerita sex di ajarin ngentot oleh tante
Ngentot baby sitter
Mbak Marni, Baby Sitter Yang Merawatku Dari Kecil
Foto toket gede pemandu lagu karaoke cantik
Foto telanjang mama muda lagi sange bugil pamer memek