Part #21 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Pagi itu aku terbangun, aku lihat ibuku sudah tidak ada di sampingku. Aku mengingat-ingat kejadian malam tadi, aku masih tidak percaya kalau hal itu nyata atau ilusi.

Tapi melihat ranjangku yang berantakan aku tahu kalau hal itu benar-benar terjadi. Aku tak tahu bagaimana perasaan ibuku saat ini, tapi setidaknya aku lega karena mulai sekarang ibuku sudah lepas dari jeratan Reza.

Aku kemudian mengecek hpku, ada sebuah reminder di sebelah pojok kanan atas layar hpku. Aku buka dan di situ tertulis ‘ultah kak Ranty’ besok…

“Hmm…gue kasih kejutan apa ya buat kak Ranty?” tanyaku dalam hati.

Saat itu kak Ranty masih dalam keadaan murung karena masalah dengan Reza dan ibuku, beberapa hari terakhir bahkan dia tidak berbicara denganku.

Waktu aku coba untuk tanyakan sesuatu kak Ranty hanya menjawab sekenanya saja. Mungkin dengan surprise ulang tahun bisa membuat suasana hatinya jadi lebih baik.

Skip…

Pagi itu aku berangkat sekolah seperti biasa. Saat pelajaran aku sedang melamun, lalu aku dikagetkan oleh suara Lisa.

“Hoyyy,, ngelamun mulu, entar kesambet loh! hehehe…” candanya kepadaku.

“Ishh,, ngagetin aja lu!” ucapku protes.

“Hehe,, emang ada masalah apa lagi sih?”

“Gini,, besok pacar gue ulang tahun, gue bingung mau kasih surprise apaan ya?”

“Pacar lu apa kakak lu?” tanya Lisa dengan nada sindiran.

Lisa memang sudah mengetahui kalau aku pacaran dengan kakakku sendiri.

Kami memang suka curhat antara satu sama lainnya, karena hal seperti itu sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi kami.

Bahkan kami sering bercerita tentang pengalaman seks kami yang paling gila sekalipun.

“Ya sama aja lah,” jawabku sambil menjitak kepalanya.

“Aduh sakit!” pekik Lisa sambil menepis tanganku.

“Hmm,, lu tanya sama orang yang tepat,” imbuhnya lagi.

Aku pun sumringah, sepertinya Lisa dapat membantuku mempersiapkan surprise untuk kakakku.

“Jadi lu mau bantuin gue?” tanyaku dengan antusias.

“Apa sih yang enggak buat lu?” jawab Lisa dengan menjentikkan satu matanya.

Aku tersenyum mendengar jawabannya lalu mencubit kedua pipinya.

“Aihh,, sakit tau!” protesnya.

“Hehehe…” balasku hanya tertawa.

“Tapi ada syaratnya!”

“Apaan syaratnya?”

Lisa mendekatkan bibirnya ke telingaku.

“Kapan-kapan gue kasih tau!”

Dia kemudian tersenyum lalu kembali membetulkan duduknya.

Aku pun menyetujuinya tanpa mempertimbangkan apa yang dimintanya.

“Ah,, paling minta ngentot lagi,” pikirku.

Sepulang sekolah kami mulai merencanakan surprise untuk kak Ranty, Lisa mengajakku ke sebuah cafe dekat pantai yang cukup strategis.

Cafe itu terbuka untuk umum, namun ada salah satu spot yang disediakan khusus untuk acara private seperti ulang tahun seseorang, ulang tahun jadian, atau bahkan untuk menyatakan cinta.

Bentuknya seperti dermaga dengan ujungnya yang berbentuk simbol hati dan terdapat lilin-lilin yang mengitarinya.

Akhirnya kami menyewa tempat itu untuk besok, meskipun agak mahal tetapi tak apa demi kak Ranty dan cinta kita.

Setelah selesai kami memutuskan untuk jalan-jalan sampai malam tiba, kebetulan tempat itu sudah disewa oleh orang lain malam ini dan aku ingin melihat suasana pada malam harinya agar besok aku tidak gugup.

Dan anehnya saat jalan berdua dengan Lisa, dia malah minta ‘jatah entot’, akhirnya kami melakukannya di toilet pom bensin di dekat tempat itu.

Setelah malam tiba aku dan Lisa berdiri di pinggir pantai yang dapat melihat spot dermaga yang kami pesan tadi.

“Wah mantap ya Lis, kek nya romantis banget,” ucapku kepadanya.

“Siapa dulu dong yang pilih!” jawab Lisa dengan bangga.

Sejenak kami saling terdiam merasakan suasana pantai malam. Aku lirik si Lisa itu, aku lihat matanya berkaca-kaca.

“Lis, lu kenapa?”

“Gak papa kok.”

“Kok nangis?”

“Gue gak nangis, gue cuman ngerasa sedikit iri aja sama kakak lu, dia wanita yang beruntung banget bisa dicintai sama cowok yang care kayak lu!” jelasnya panjang lebar.

“Gue cinta kok sama lu…” ujarku lirih.

Lisa menoleh ke arahku.

“Tapi dulu,” lanjutku lagi.

“Ohh.” Lisa kembali berpaling.

“Sebelum gue nemuin arti cinta sejati di dalam dirinya (kak Ranty).”

“Apa lu udah yakin sama pilihan lu? dia itu kakak kandung lu, pasti bakalan banyak halangan buat kalian bersatu.”

“Gue yakin kok dan gue akan perjuangin cinta gue sampe kapanpun! meskipun cinta kita gak direstui.”

Aku kemudian menatap Lisa, dia balik menatapku.

“Lis, gue yakin kok suatu saat lu akan dapat cinta sejati lu sendiri, yang nerima lu apa adanya,” pungkasku kepadanya.

Saat itu mata kami saling bertemu, Lisa tersenyum dan berkata,

“Makasih ya Ran!”

Kemudian dia mencium bibirku dalam.

Skip…

Keesokan harinya adalah hari ulang tahun kak Ranty. Aku sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun, namun mengajaknya untuk ‘ngedate’ pada malam hari.

Kak Ranty bersikap biasa saja, mungkin dia juga tidak ingat dengan hari ulang tahunnya sendiri karena kepikiran dengan masalah kemarin.

Kakakku menerima ajakan ngedateku dengan wajah yang masih murung. Aku bertekad malam ini aku harus membuat kak Ranty ceria kembali.

Pada malam hari kami pergi dengan rentan waktu yang berbeda dan janjian di tempat yang tak jauh dari rumah kami untuk menghindari kecurigaan dari orang tua kami.

Sebelum pergi aku menutup mata kak Ranty dengan sebuah kain penutup mata yang sudah aku siapkan sebelumnya.

“Ran, apaan sih ini? kok pake tutup mata segala?” tanya kak Ranty memprotes.

“Udah kak tenang aja, gak bakal Randy apa-apain kok.”

Kak Ranty hanya menurut saja lalu aku memacu motorku ke tempat yang sudah aku persiapkan.

Sepanjang jalan kak Ranty terus memelukku karena matanya tidak dapat melihat apa-apa.

Sesampainya di tempat tujuan, aku kemudian menuntun kak Ranty menuju ke spot yang sudah ku persiapkan.

“Ran, mau dibawa kemana kakak Ran?”

“Bentar lagi nyampe.”

Aku pun memberi isyarat pada para pelayan untuk pergi dari situ. Setelah semua pelayan pergi dari situ aku build up momen.

Aku lepaskan penutup mata itu perlahan, lalu benda itu jatuh ke leher kak Ranty kemudian dia membuka matanya dan…

Jrengggg…..

Kak Ranty tampak sangat terkejut melihat apa yang ada di depan matanya. Di sana terdapat jalan panjang menuju dermaga, di samping jalan itu terdapat lilin khusus yang menyala menerangi jalan.

Di ujung terdapat dermaga berbentuk simbol hati dan sebuah meja dengan dua kursi.

“Ran,, ka…kamu yang nyiapin ini semua?” tanya kak Ranty terlihat terkejut, dia menutup mulut dengan telapak tangannya.

Aku tersenyum kemudian aku tuntun dia menuju ke meja itu. Di sana sudah ada kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 22.

Aku ambil kue ulang tahun itu lalu aku suguhkan tepat di depan kak Ranty.

“Selamat ulang tahun kak!” ucapku memberi selamat kepadanya.

Kak Ranty tersenyum lalu memejamkan matanya, kedua telapak tangannya bersatu di depan dadanya. Dia sedang make a wish, aku penasaran apa yang ia minta.

Setelah membuat harapan kak Ranty kemudian meniup lilin itu dalam satu kali hembusan.

“Fuhhhh…..”

Lilin pun mati, kak Ranty kemudian memandangku sambil tersenyum lalu secara tiba-tiba dia memelukku.

Tangannya ia lingkarkan di leherku, tangan kiriku aku lingkarkan di pinggangnya dan tangan kananku memegang kue ulang tahun itu.

“Makasih Ran, udah nyiapin surprise ini buat kakak, pasti kamu ngeluarin uang banyak ya buat ini?”

“Gak papa kok kak, demi orang yang paling Randy cintai di dunia ini, Randy rela kok ngelakuin apa aja.”

Aku pun melepaskan pelukan itu seraya menarik salah satu kursi itu agar kak Ranty bisa duduk. Lalu kami duduk dan menikmati candle light dinner di samping pantai.

Malam itu aku lihat kak Ranty sangat cantik meskipun dengan gaun yang sederhana. Raut wajahnya sudah tidak menampakkan kesedihan.

Setelah makan malam, aku mengeluarkan kado yang sudah aku beli seminggu yang lalu bersama Lisa.

“Oh ya, Randy punya satu kado buat kakak, semoga kakak suka.”

Kak Ranty menerima kado itu.

“Apa ini Ran?”

“Buka aja!” jawabku singkat.

Kak Ranty kemudian membukanya. Dia tampak terkejut melihat hadiah yang aku berikan adalah tas berharga 2,5 juta yang pernah ia lihat bersamaku di toko.

“Ya ampun Ran! I..inikan tas yang…” ucapnya terbata sebelum aku potong.

“Iya kak, itu tas yang kita liat di toko itu, Randy tau kok kalo kakak pengin tas itu makannya Randy beliin,” jawabku sambil tersenyum menampakkan gigiku.

“Tapi kan ini malah banget Ran? Kamu dapet uang darimana?” tanya kak Ranty heran.

“Dari upahku ikut POM kak.”

Kakakku mengangguk.

“Emang kamu dapet berapa?”

“3 juta kak.”

“Sisa 500 ribu?”

“Ya sekarang sih udah habis hehehe…” jawabku cengengesan.

“Kenapa kok malah beli tas ini? bukannya beli barang yang kamu suka,” sergah kak Ranty.

“Yang Randy suka kan kakak!” jawabku tegas.

Kak Ranty terlihat sedikit malu dan menunduk. Aku kemudian raih tangannya yang berada di atas meja lalu menuntunnya ke depan dadaku.

“Randy ngelakuin semua ini…demi…” Aku menahan kata-kataku.

Aku tatap mata Kak Ranty, dia terlihat menahan nafasnya untuk menungguku melanjutkan perkataanku.

“Calon istriku,” lanjutku seraya mencium punggung tangannya.

Momen itu terjadi cukup lama, seakan waktu berhenti pada saat itu.

“Kakak mau kan?” imbuhku lagi.

Kak Ranti tidak menjawab melainkan hanya tersenyum kemudian mengangguk.

Setelah itu kami bersila duduk di tepi dermaga beralaskan kayu. Aku lihat kak Ranty termenung.

“Kenapa kak?”

“Gak papa kok Ran, kakak cuma bayangin gimana hidup kakak tanpa kamu sekarang, pasti kakak gak akan kuat.”

“Itu lah kenapa Randy ada di sini, jadi kakak jangan pernah merasa sendirian, kalo kakak butuh bahu buat bersandar, di sini aja,” jawabku sambil menepuk-nepuk bahuku.

Kak Ranty kemudian mendekatkan dirinya ke arahku lalu menyandarkan kepalanya di bahuku, aku kemudian merangkulnya.

“Ran!” panggilnya.

“Iya kak?”

“Bawa kakak pergi dari sini Ran! Bawa pergi kemana pun kamu mau! Kakak rela asalkan bisa terus bersama kamu Ran, kamu bilang kamu mau nikahin kakak kan?” ucap kak Ranty tegas.

Jujur aku sempat terkejut mendengar apa yang kak Ranty katakan, namun aku senang ternyata niatku tidak bertepuk sebelah tangan.

“Sabar kak, beberapa tahun lagi setelah Randy lulus terus punya pekerjaan, Randy bakalan bawa kakak pergi dari sini dan kita akan nikah, tapi…” ujarku tertahan.

Kak Ranty menoleh ke arahku.

“Tapi apa Ran?”

“Tapi, apa kakak siap ninggalin papah sama mamah?” tanyaku kepadanya.

Kak Ranty mendekatkan wajahnya ke arah wajahku.

“Kakak gak peduli, yang kakak pikirin cuma kamu,, cuppp….”

Kemudian kak Ranty menciumku yang ku sambut dengan kecupan hangat.

Bersambung

mama muda memek
Nikmatya Ngentot Ibu Muda Tetangga Ku
abg nakal
Wisata unik di jogja, mencoba three some dengan tiga gadis abg
Berbuat mesum di warnet waktu mati lampu
belahan dada pembantu
Nikmatya Memek Sempit Pembantu Ku
Foto memek basah tante cantik lagi horny
anak nakal
Cerita Anak Nakal Ngentot Mama Dan Adik Kandung Sendiri
Cewek cantik perawan sexy
Teman Kampusku Pemuas Nafsuku
Menikmati Memek Mulus Tante Meli
cewek sange ngentot
Bercinta Dengan Cowok Yang Masih Perjaka
ngentot teman
Kenikmatan ketika aku sedang DIJARAH dua teman lelakiku bagian 2
Ngentot Cewe Bispak Toge Mulus
Dosen Baru Yang Cantik
kimcil bugil
Apa Yang Akan Terjadi Bila Di Rumah Hanya Berdua Dengan Gadis ABG
istri pak tr
Istri pak RT yang super sexy ketagihan dengan kontol ku
Perawan anak ibu kost
Anak Ibu Kost Yang Masih Perawan
Rahasia Yang Akan Terus Ku Simpan