Part #23 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Aku tidak habis pikir kenapa si Icha bisa hamil dan kenapa dia bisa yakin kalau anak yang dikandungnya itu adalah anakku.

Padahal aku dan dia hanya melakukannya sekali saja dan aku yakin kalau dia sering bermain dengan laki-laki lain selain diriku.

Sedang pusing-pusingnya memikirkan masalah ini tiba-tiba hpku kembali berbunyi. Icha kembali mengirim pesan kepadaku.

“Gue tunggu di cafe mocca (kafe dekat kampus), SEKARANG!”

“What? sekarang? tapi kan gue lagi sekolah,” ucapku dalam hati.

Aku tahu kalau Icha berfikir aku adalah mahasiswa di kampusnya, apakah aku harus jujur saja dengan dia tentang statusku sehingga dia bisa berpikir ulang untuk meminta pertanggung jawabanku.

Untunglah saat itu guru fisikaku sedang tidak ada di kelas, aku bisa memanfaatkannya untuk kabur dari sekolah.

Aku pun mengemasi barang-barangku lalu memakai jaketku dan bersiap akan pergi dari sekolah ini.

“Eeh,, lu mau kemana?” cegah Lisa dengan menahan tanganku.

“Mau nyelesein masalah ini!” jawabku singkat.

“Gue ikut dong!”

“Gak usah, lu di sini aja.”

Lisa menghembuskan nafas berat.

“Kabarin gue kalo ada apa-apa ya!”

Aku hanya mengangguk lalu pergi begitu saja.

“Kenapa dia jadi khawatir begitu? padahal tadi dia ngejekin gue, ahh udah lah,” batinku.

Aku pun segera pergi menuju ke kafe yang disebutkan tadi. Dalam perjalanan pikiranku benar-benar kacau.

Bagaimana nanti nasibku, aku belum siap menjadi ayah, aku tidak mencintai Icha dan hal yang paling aku takutkan, aku akan kehilangan kak Ranty untuk selama-lamanya.

Tapi kalau aku memutuskan untuk menghindar, aku tidak akan tenang, suatu saat pasti akan terbongkar juga.

Bahkan aku sempat berpikir akan membunuh Icha, tapi kalau dipikir-pikir lagi itu adalah hal yang bodoh.

Beberapa kali aku hampir menabrak karena aku melamun di jalan, namun tak ayal aku sampai juga di kafe tersebut.

Aku lalu memarkirkan motorku dan bersiap untuk menghadapi kenyataan.

Kemudian aku masuk ke kafe itu, aku cari-cari batang hidungnya tidak kutemukan.

Aku kemudian mengirim pesan kepada Icha untuk menanyakan lokasi dia saat ini.

Saat itu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu, aku bermaksud untuk terus terang saja.

Beberapa saat kemudian aku mendapatkan balasan dari Icha.

“Pojok bagian selatan!” Isi pesannya.

Aku pun mencari-cari dan akhirnya ketemu. Saat itu memang kafe sedang dalam keadaan sepi dan dia memilih bagian yang paling aman agar tidak ketahuan orang lain.

Aku mendekatinya dari belakang, dan langsung duduk di sampingnya. Icha yang saat itu sedang mengenakan earphone langsung melikir ke arahku lalu melepaskan earphonnya.

Sejenak mata kita saling bertemu kemudian dia langsung menyeletuk.

“Oke Ran! gue tau ini bukan kabar yang enak, tapi di sini gue mau jujur sama lu kalo gue hamil anak lu,” pungkas Icha jelas menusuk telingaku.

“Lu tau darimana kalo itu anak gue? kita kan baru ngelakuin sekali doang dan gue yakin lu juga sering main sama cowok lain kan?” tanyaku dengan nada heran.

“Denger ya Ran, kita emang baru sekali ngelakuin itu dan gue emang sering main sama cowok lain, tapi cuma lu satu-satunya yang keluar di dalem gue, jadi anak ini seratus persen anak lu!” sergak Icha lagi membuatku mati kutu.

Aku pun menghembuskan nafas berat dan berharap pilihan terakhirku ini bisa menolongku.

“Gini kak Icha…” ucapku tertahan. Icha tampak mengernyitkan dahinya mendengar aku memanggilnya dengan sebutan ‘kak’.

“Kakak tau kan ini celana apa?” pungkasku sambil menunjuk celana abu-abu yang aku kenakan.

“Elu…???” ujarnya lirih sambil jari telunjuknya menunjuk ke arahku.

Aku perlahan menurunkan reslering jaketku dan menampakkan logo osis yang berada di dada kiriku.

“Ja…jadi lu itu…” ucap Icha tergagap.

“Iya kak, gue ini masih SMA, gue pura-pura jadi mahasiswa buat ikutan POM.”

Icha tampak melongo sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.

“Sekarang gini deh kak, apa untungnya kakak minta tanggung jawab sama anak SMA kaya gue, masa depannya aja belum jelas, keluarga gue bukan keluarga yang mampu, kalo hidup sama gue yang ada menderita doang kak,” jelasku panjang lebar.

Aku harap kata-kataku itu mampu mempengaruhi Icha agar dia tidak meminta pertanggung jawabanku lagi.

Icha tampak menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Terus gue harus gimana? masa harus aborsi? gak mau, rasanya sakit!” ucapnya lagi.

“Hah! udah pernah kak?”

“Bukan gue, tapi temen gue pernah dan sekarang dia lumpuh gak bisa jalan jadi gue gak mau ngelakuin itu!” pungkasnya tegas.

Aku sanggah daguku dengan tanganku yang aku letakkan di meja. Aku pun ikut berfikir jalan keluarnya.

Sesaat kemudian aku mendapatkan ide.

“Nah, gimana kak kalo kakak minta tanggung jawab sama Reza aja, kalian kan udah sering tuh main bareng, pasti dia mau,” gagasku kepadanya.

Sejenak Icha menatapku tajam.

“Dia gak pernah keluar di dalem gue, mana mungkin dia mau tanggung jawab,” sergah Icha.

“Itu sih gampang, kakak tinggal ajakin dia ml terus kakak yang di atas, pas dia mau keluar kakak teken aja gak usah diangkat gampang kan? apalagi dia sering main sambil mabok,” ungkapku panjang lebar.

Aku terus mempengaruhi Icha. Icha tampak berfikir mempertimbangkan rencanaku itu.

“Inget kak, si Reza itu meskipun masih kuliah orang tuanya tajir, mamahnya punya pondok pesantren di Bandung, pokoknya kalo kakak nikah sama dia dijamin bakalan hidup enak.”

Icha menatapku, aku hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk. Dalam hati aku berharap kalau Icha setuju dengan tawaranku.

Kalau benar dia mau melakukannya bisa double kill aku balaskan dendam kepada Reza.

Reza akan menikahi wanita yang sedang mengandung anak orang lain yaitu diriku.

“Hmm,, okelah gue coba, tapi awas kalo gagal, lu yang tetep harus tanggung jawab, gue gak peduli!” tegasnya kepadaku.

Aku tak menjawab melainkan hanya menyatukan jari telunjuk dan jari jempolku membentuk huruf ‘Ok’.

Setelah sepakat kami pun berpisah. Aku mengeluarkan hpku dan mencari kontak Icha lalu memblokirnya. Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya.

Karena aku malas untuk kembali ke sekolah aku memutuskan untuk mampir ke warung Ririn yang letaknya berada di belakang sekolah.

Namun saat sampai di sana aku melihat ada dua preman sedang meminta uang kepada ibu Siti (ibunya Ririn).

“Ehh,, bu warung minta uangnya dong buat beli rokok kalo gak rokoknya aja tiga bungkus,” ucap salah satu preman itu.

“Aduh maaf, saya lagi gak ada duit, belum banyak yang dateng hari ini, rokoknya buat dijual,” balas ibu Siti kepada preman itu.

“Alah banyak alesan, tadi aja gue liat warung ini rame kok, jangan pelit-pelit lah sama kita!” bentak preman itu lalu memukul wajah bu Siti hingga terjatuh.

“Awwwhhhh…!!!” pekik bu Siti menerima pukulan dari preman itu.

Aku yang melihat hal itu tidak tinggal diam.

“Hoeyyy…!!! jangan beraninya sama perempuan! sini kalo berani lawan gue!!!” tantangku.

Kedua preman itu berbalik dan menatapku dengan seringai tajam.

“Ini bocah cilik songong banget ya! sini gue kasih pelajaran sopan santun sama orang tua!”

Lalu kedua preman itu mendekatiku dengan wajah gaharnya. Aku bersiap memasang kuda-kuda untuk melawan preman tersebut.

“Hyyaaaa…!!!”

Salah satu preman tiba-tiba berlari ke arahku dan hendak melakukan pukulan.

Aku yang sudah mengantisipasi langsung melakukan gerakan ap chagi yang tepat mengenai dagu dari preman itu dan langsung tumbang.

“Arkhhhh…!!!” pekik preman itu.

Aku memasang wajah heran. Preman yang berperawakan sangar tiba-tiba jatuh hanya dengan sekali gerakan kakiku.

Preman yang satunya pun sedikit terbawa emosi melihat temannya tersungkur lalu langsung menyerangku.

“Ann****nk kau…!!!”

Preman itu berusaha memukulku lalu aku menghindar dengan melakukan gerakan memutar sehingga sekarang aku berada di belakang preman itu yang pukulannya miss.

Aku menoleh ke arah preman itu dan menunggu dia membalikkan badannya kearahku agar aku bisa melakukan fatality dengan gerakan andalanku.

Saat preman itu berbalik dia tidak memasang pertahanan apapun lalu aku dengan gerakan dwi hurigi aku menyelesaikannya.

“Hiiiyyaaaaakkkk…!!!

Bruggggkkkk……

“Arkhhhhhhh…!!!”

Tubuh preman itupun berputar di udara sebelum akhirnya jatuh mencium tanah. Dia terlihat tidak sadarkan diri, lalu preman yang sebelumnya kena tendanganku bangkit dan membawa preman yang tidak sadarkan diri itu pergi.

Setelah mereka pergi aku melihat ke arah bu Siti yang tadi terkena pukulan preman itu kemudian aku mendekatinya.

“Bu, ibu gak papa?” tanyaku kepadanya.

Aku melihat bibir sebelah kanannya mengeluarkan darah.

“Gak papa nak Randy, makasih banyak udah nolongin ibu, untung tadi ada kamu,” balasnya berterima kasih.

“Bu,, tapi bibir ibu berdarah, biar Randy obatin ya bu!” ujarku lalu mengambil kotak obat yang sudah aku ketahui tempatnya.

Saat itu memang warung sedang sepi, Ririn juga masih sekolah karena waktu itu masih jam pelajaran.

Hal itu yang dimanfaatkan oleh preman untuk memalak warung ibu Siti.

Ibu Siti kemudian duduk di kursi bagian dapur warung itu agar tidak terlihat oleh pengunjung yang datang.

Aku lihat matanya sedikit berkaca-kaca, mungkin karena syok dengan kejadian barusan.

Aku kemudian datang dengan membawa air hangat untuk dikompres di area lukanya.

Lalu kami duduk berhadapan, bibir sampingnya terlihat bengkak membiru dan mengeluarkan darah. Aku kemudian membersihkan luka itu.

“Awhh…!!! sakit nak Randy,” pekik ibu Siti.

“Ehh,, maaf bu gak sengaja,” ucapku meminta maaf lalu meneruskannya.

Saat itu aku pandangi wajahnya. Wajahnya masih menampakkan kecantikan alami tanpa make up khas wanita desa. Umurnya ku taksir tidak jauh berbeda dengan ibuku.

Ibu Siti saat itu juga menatapku, entah kenapa tatapannya seperti wanita sedang merasa nyaman berada di dekat seorang pria.

“Duh,, jangan baper dong, masa gini aja baper,” umpatku dalam hati.

Aku masih meneruskan mengobati lukanya.

“Bu,, tadi itu preman siapa bu?” ujarku membuka pembicaraan agar suasana tidak kaku.

“Ibu juga gak tau, baru beberapa hari ini dateng, kemarin juga tapi udah ibu kasih uang dan hari ini datang lagi.”

“Kalo semisal preman itu dateng lagi ibu bilang aja sama Randy, nanti Randy hajar sampe bonyok mereka.”

Ibu Siti hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Nak Randy, sebenernya kamu sama Ririn itu pacaran gak sih? tiap kali ibu tanya sama Ririn dia cuma senyum-senyum aja,” pungkas ibu Siti kepadaku.

“Enggak kok bu, kita cuma temenan aja,” jawabku singkat.

“Tapi kayaknya si Ririn suka deh sama kamu, ya wajar aja sih soalnya kamu kan ganteng, badannya tinggi besar, dan yang pasti pembela kebenaran,” ucapnya dibarengi dengan tertawa kecil.

Aku jadi tersipu malu kala itu. Aku kemudian mulai menetesi lukanya dengan obat merah.

“Kamu suka gak sama Ririn?” tanya bu Siti tiba-tiba.

“Seneng deh kalo suatu saat punya menantu yang bisa diandalkan kaya kamu Ran!” lanjutnya lagi.

“Ya suka lah bu, tapi sebagai teman, kalo ketertarikan ke arah situ sih belum ada bu, hehehe…” jawabku sedikit tertawa.

Tiba-tiba bu Siti memegang tanganku yang sedang mengobati lukanya lalu menurunkan tanganku.

Mata kami saling bertemu, detak jantungku menjadi cepat dan keras tak menentu. Lalu bu Siti berbisik.

“Kalo sama ibu suka gak?”

Deggg….

Aku terkejut mendengar perkaraan bu Siti kepadaku namun melihat sorot matanya aku tidak menemukan sebuah candaan di sana.

Entah siapa yang memulai tiba-tiba wajah kita saling mendekat dan semakin mendekat, lalu…

Cupppp…

Aku hanya bisa melotot tidak percaya merasakan bibir bu Siti menempel lembut di bibirku.

Merasa bu Siti juga menginginkannya aku lalu mengambil inisiatif untuk mulai memainkan bibirku dengan bibirnya.

Cpppp…ssssppp…ccpppp…

Bunyi kedua bibir kami saling beradu. Aku julurkan lidahku hingga masuk ke dalam rongga mulut bu Siti yang langsung disambut dengan lidahnya.

Lidahku disapu oleh lidah bu Siti, akhirnya kami bersilat lidah dan bertukar air liut.

Saat suasana sedang hot-hotnya tiba-tiba pintu warung diketuk oleh seseorang.

“Bu,, Ririn pulang!”

Secepat kilat kami menarik bibir kami masing-masing dari pagutan yang kami lakukan.

Kemudian kami sama-sama mengelap bibir kami yang penuh air liur yang telah bercampur.

Bu Siti kemudian berdiri sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri memberi isyarat agar aku tak memberitahu Ririn tentang kejadian barusan lalu pergi dan membuka pintu belakang warung yang selalu dilewati Ririn saat pulang.

Bersambung

Foto Bugil Ngentot Memek Tembem Gif Bergerak
Terima kasih Bu Yena
ngentot bos cantik
Three some dengan tiga gadis cantik waktu liburan ke tretes
pembantu sexy
Mendapatkan Kesempatan Untuk Menikmati Tubuh Pembantuku
teman cantik
Teman wanita ku yang seorang hyper sexs
Foto bugil pamela duo srigala terbaru toge bugil toket tumpah tumpah
pacar alim dan lugu
Cerita ngajakin ML pacar yang alim dan lugu
Tante sange
Memuaskan tante Vera di atas ranjang
Foto Abg Cantik Sange Bangun Tidur
bokep teller bca
Bercinta Dengan Pegawai Bank Yang Masih Perawan Bagian Dua
500 foto chika bandung bugil merangsang pengen di entot
Ceria Dewasa Enak-Enak Dengan Istri Teman
dukun cabul
Cerita dukun cabul yang menikmati tubuh pasien nya bagian satu
Ngentot Istri Orang Di Kereta Api
abg sexy
Cerita ngentot kegadisan ku yang di renggut pakdhe ku sendiri
memek cantik
Dapet ngentot gratis gara-gara dari sms nyasar