Part #25 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Malam hari setelah maghrib aku tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ririn sesuai janji. Ririn sudah sharelok beberapa jam yang lalu.

Saat aku sedang memanasi motorku tiba-tiba kak Ranty keluar menyapaku.

“Ran, mau kemana?” tanya kak Ranty.

“Mau belajar kak di rumahnya temen.”

“Tumben kamu mau belajar Ran, biasanya males,” sindir kak Ranty sambil tersenyum.

“Terpaksa lebih tepatnya sih, bentar lagi kan UN jadi Randy harus lulus kak, biar cepet bisa …. sama kakak,” jawabku sambil menaik turunkan alisku. Sengaja aku lewatkan satu kata yang membuat kak Ranty penasaran.

Kak Ranty hanya menggembungkan pipinya seraya mencubit pipiku.

“Dasarrr kamu, ya udah semangat belajarnya yah,” ucap kak Ranty sembari tersenyum.

Senyumannya itu benar-benar moodbooster buatku, aku jadi bersemangat walaupun akan melakukan hal yang tidak aku sukai.

“Ouh ya mamah sama papah dimana? Randy gak liat tadi di dalem,” tanyaku kepada kak Ranty.

Tiba-tiba senyumnya hilang berganti dengan rengutan, kak Ranty terlihat tidak senang aku menanyakan hal itu.

“Ya udah Randy berangkat dulu yah,” imbuhku lagi.

Aku tengok kanan kiriku aman, tidak ada orang yang melihat, kemudian kucium keningnya, pipinya, lalu bibirnya. Aku tahan lama di bibirnya sebelum aku lepaskan.

Aku sempat acak-acak rambut kak Ranty itu sebelum aku menaiki motorku.

“Hati-hati di jalan!” serunya kepadaku.

Aku hanya tersenyum kemudian mengerlingkan sebelah mataku lalu aku mulai memacu motorku menuju rumah Ririn.

Di dalam perjalanan aku masih berfikir apakah sebegitu bencinya kak Ranty terhadap ibuku sampai-sampai mendengar aku menanyakannya saja dia tidak sudi. Apakah sudah tidak ada pintu maaf lagi untuk ibuku.

“Biarlah, bukannya malah jadi lebih mudah aku bawa kak Ranty pergi dari sini kalau hubungannya dengan orang tua kami tidak harmonis,” batinku.

Aku sadar kalau hubunganku dengan kak Ranty sudah pasti tidak direstui, maka dari itu satu-satunya jalan agar kami bisa bersatu adalah membawa pergi kak Ranty bersamaku dan kami akan hidup bahagia berdua.

Beberapa saat aku memikirkannya lalu kembali fokus pada motorku. Sebelum aku sampai ke rumah Ririn aku sengaja melewati warung bu Siti terlebih dahulu.

Ini pertama kalinya aku melewati warungnya pada malam hari. Di sana suasananya cukup sepi, hanya ada tiga orang bapak-bapak sedang bermain catur sembari merokok dan minum kopi. Ada yang gendut, kurus hitam, dan yang satunya lagi botak.

Setelah melewatinya aku langsung pergi menuju rumah Ririn yang tertera di google map.

Sesampainya di sana aku sudah disambut oleh Ririn yang sedari tadi menungguku di depan rumah.

Aku lihat rumahnya memang cukup kecil dengan dinding tembok bata tanpa dilapisi semen tambahan hingga batanya masih terlihat.

Lantai rumahnya hanya berupa lantai plester tanpa keramik yang beberapa bagiannya sudah terkelupas.

Di sana terdapat sofa bekas yang sudah robek dan bolong sana sini. Ririn tampak sedikit malu saat mengajakku masuk.

“Sorry ya, rumah gue jelek,” ucapnya kepadaku.

“Kalem aja, sama aja kayak rumah gue kok,” jawabku singkat.

Aku pun dipersilahkan duduk di sofa itu, Ririn masuk ke dalam untuk mengambil cemilan dan minuman.

Aku menaruh tasku dan mengeluarkan bukuku. Tapi yang aku bawa malahan buku novel ‘My Sex Journey’.

Teledornya diriku tidak menyiapkan dulu buku apa yang akan aku bawa. Buru-buru aku masukan lagi buku itu ke dalam tas.

Tidak lama berselang Ririn kembali dengan suguhannya.

“Sekarang mau belajar apa?” tanya Ririn kepadaku.

“Apa aja deh, gue gak tau apa-apa hehehe…” jawabku sekenanya.

“Lu ada pr gak? kalo ada kerjain aja sekalian.”

“Gak tau hehehe,, biasanya kalo ada pr gue nyontek Lisa sih, itu juga salah semua hehehe…” pungkasku sambil cekikikan.

Lisa memang 11 12 denganku untuk urusan otak, bedanya dia mau mengerjakan pr itu sendiri meskipun hasilnya dia karang semua.

Kalau aku yang penting di pr ku ada tulisannya aku sudah bisa bernafas lega.

“Masa gak tau? hmm,, guru kita beda sih, jadi gak tau pr nya sama apa beda.”

Aku hanya menggaruk-garukan kepalaku yang pusing meskipun belajarnya belum dimulai. Mungkin aku sudah phobia dahulu dengan yang namanya belajar.

“Ya udah kita belajar matematika aja yah, kebetulan gue ada pr MTK,” ujarnya sembari mengeluarkan pr nya.

“Duh,, jangan MTK dong gue pusing nih,” balasku sambil memijat kepalaku.

“Lebay ahh,, belum aja mulai udah pusing, terus mau belajar apa kalo gitu?”

“Penjaskes aja yah,” tawarku.

“Aihh,, mana ada penjaskes jadi materi UN,” tolak Ririn.

“Udah, matematika aja,” imbuhnya lagi.

Akhirnya kamipun belajar matematika, salah satu pelajaran yang paling aku benci.

Berkali-kali aku memejamkan mataku karena tidak kuat melihat angka lalu sesekali aku menyandarkan kepalaku di bahu Ririn.

Ririn tampak beberapa kali mendorong kepalaku dengan bahunya agar aku fokus ke pembahasannya.

Namun memang dasar diriku yang otaknya lemot ini, aku malah memilih tidur bersandarkan sandaran sofa dan bahu Ririn.

Entah berapa lama aku tertidur tiba-tiba aku terbangun dan membuka mataku. Saat itu aku sempat terkejut karena wajah Ririn tepat berada di depan wajahku.

Matanya terpejam dan bibirnya sedikit maju dan mendekati bibirku dan semakin dekat.

Saat itu Ririn berusaha mencium bibirku dan tidak sadar kalau aku sudah terbangun dari tidur.

Saat bibirnya tepat berada di depan bibirku…

“Rin!” panggilku lirih.

Seketika matanya terbelalak lalu dia langsung bangkit dari duduknya sambil berteriak kecil membuatku tersungkur di atas sofa itu.

“Adawww…!!!” pekikku.

Ririn terlihat salah tingkah kala itu, wajahnya merah padam layaknya kepiting rebus.

“Ehh,, Ran…gu…gue angkat jemuran dulu…” ucapnya langsung berlari ke dalam ruangan.

“Lha ini kan udah malem, masa angkat jemuran sih,” ujarku dalam hati sembari tertawa kecil melihat tingkahnya.

Lama sekali dia berada di dalam, aku iseng membuka hpnya yang tergeletak di atas meja.

Hpnya ternyata tidak dikunci layar, saat itu aku dapat membukanya hanya dengan sekali usap.

“Beh, teledor amat nih Ririn gak dikunci layar,” batinku.

Aku kemudian sedikit kepo dengan apa yang ada di dalam hpnya itu. Aku buka wa nya, mumpung yang punya belum kembali.

Di riwayat chatnya hanya ada empat orang yaitu diriku, ibunya, temannya yang bernama Laras, dan satu lagi wali kelasnya.

Aku buka isi chatnya satu per satu. Tidak ada yang menarik, benar-benar tipikal siswi teladan, lalu aku buka riwayat chatnya denganku, masih full dari pertama kali aku chat dia hingga sekarang tidak pernah dihapus satupun.

Kemudian aku buka galerinya. Isinya full foto-foto member BTS.

“Hmm,, kpopers nih,” pikirku.

Namun ada satu folder yang menarik perhatianku namanya ‘Pujaan hati’. Kemudian aku buka.

Betapa terkejutnya diriku melihat foto-fotoku terpampang di layar hpnya itu.

“Hah,, pujaan hatinya itu gue?” Aku sempat tidak percaya.

Aku scroll terus galerinya, banyak fotoku yang diambilnya secara diam-diam, bahkan ada beberapa yang diedit fotoku dan dia dalam satu frame seakan kita sedang foto bersama.

Aku senyum-senyum sendiri kala itu. Segitunya dia menyukaiku sampai-sampai dia mengedit fotoku dengan dirinya.

Kemudian aku taruh lagi hpnya di atas meja dan menunggu Ririn kembali.

Saat sedang menunggu tiba-tiba ada orang yang masuk ke rumahnya tanpa mengetuk pintu, tanpa memberi salam.

“Loh, kamu siapa?” tanya orang itu kepada diriku.

“Saya temennya Ririn om,” jawabku sekenanya.

Setelah aku perhatikan dia adalah lelaki tambun yang tadi ada di warung bu Siti. Seketika Ririn keluar mendengar ada yang datang.

“Ehh,, pak udah pulang,” ucap Ririn menyapanya.

“Loh ada temennya kok malah ditinggal masuk,” sergah pria itu yang ternyata ayah dari Ririn.

Ririn hanya menundukkan kepalanya pelan lalu menghampiriku. Ayahnya itu langsung masuk ke dalam.

Aku tak tahu kenapa Ririn terlihat sangat canggung dengan ayahnya sendiri.

“Rin, itu bapak lu?”

“Iya,” jawabnya masih malu karena tertangkap basah akan menciumku.

“Kok lu kayaknya canggung banget sama bapak lu sendiri?”

“Gue bukan canggung sama bapak gue, tapi sama lu,” balasnya lalu memalingkan muka.

“Ohh…” timpalku.

Ririn kemudian sedikit menceritakan tentang keluarganya dengan suara yang tidak terlalu keras agar ayahnya tidak mendengar.

Dan dari ceritanya aku ketahui bahwa ayahnya itu adalah seorang pengangguran, kadang ayahnya pulang dalam keadaan mabuk.

Ekonomi keluarganya hanya bergantung dari penghasilan warung ibunya itu, yang paling membuatnya takut adalah sifat ayahnya yang galak.

Kadang dia dan ibunya mendapatkan kekerasan apalagi jika dia tidak diberi uang rokok dan uang miras.

Untunglah malam ini ayahnya tidak kambuh penyakit mabuknya.

Aku yang mendengarkan cerita dari Ririn merasa simpatik. Mereka berdua (Ririn dan bu Siti) hidup dalam ketidaknyamanan karena kelakuan ayahnya itu.

Setelah itu kami kembali melanjutkan belajar kami. Suasana saat itu benar-benar canggung, Ririn seperti was-was apabila aku membahas tentang kelakuannya yang diam-diam ingin menciumku.

Untuk mencairkan situasi maka aku sengaja untuk memancingnya.

“Rin!” panggilku.

“Iya?”

“Bapak lu keluar lagi gak?”

“Biasanya sih kalo pulang langsung tidur, kenapa?”

“Gak papa,” balasku melirik ke arahnya.

Ririn tidak menoleh sedikitpun dan terlihat sok sibuk dengan pr nya itu.

“Rin!” panggilku lagi.

“Apa?”

“Lu udah pernah ciuman belum?” tanyaku kepadanya.

Ririn mengernyitkan dahinya, mata Ririn sedikit melirik namun hanya sebatas buku yang ada di depanku.

“Belum,” jawabnya singkat.

“Mau coba gak.” Aku mencoba memancing.

“Gak tau!” balasnya singkat.

Keringat mulai mengucur deras di dahi Ririn, padahal saat itu suasananya cukup dingin.

“Kok gak tau? mumpung gue kasih kesempatan nih, daripada nyuri-nyuri kaya tadi hehehe…” pungkasku tertawa kecil.

Keringatnya semakin membanjir, kini kaos yang dipakainya menjadi basah karena keringat yang keluar.

“Ini anak senervous itu kah?” batinku.

Ririn kembali melirik sedikit namun belum berani bertatap muka langsung denganku.

“Hmm???” gumamku menunggu jawabannya.

“Emmm,, enak gak?” tanya Ririn dengan polosnya.

Aku sedikit terbatuk menahan tawa mendengar kepolosannya itu. Dalam hati aku berujar.

“Bener-bener masih segel ini anak.”

Lalu aku sedikit menggeser dudukku mendekatinya.

“Menurut gue si enak, coba aja sendiri.”

Kemudian aku pegang dagunya dengan jempol dan jari telunjukku lalu aku arahkan wajahnya tepat menghadap wajahku.

Matanya masih menghadap ke bawah meskipun wajah kami saling berhadapan.

“Kalo lu malu, lu boleh tutup mata kok.”

Ririn hanya mengangguk lalu mengikuti instruksiku. Aku dapat merasakan detak jantungnya sangat keras dan cepat.

Aku kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya, semakin dekat dan…

Cuppp…..

Sejenak aku menempelkan bibirku di bibirnya dan melihat reaksinya. Ririn bereaksi layaknya patung yang sedang duduk tegap.

Kemudian aku jilat bibirnya agar basah lalu aku emut bibir bawahnya, Ririn masih diam saja.

Aku julurkan lidahku agar masuk ke mulutnya namun tertahan oleh giginya yang dikatupkan rapat.

Jadi aku hanya menyapu giginya dengan lidahku lalu kembali memagut bibir bawahnya.

Aku pegang bahunya kaku sekali, benar-benar seperti patung hidup.

Sesaat kemudian aku lepaskan ciumanku di bibirnya lalu menjentikan jariku layaknya pesulap saat membangunkan orang dari hipnotis.

Aku masih memaklumi karena itu adalah ciuman pertamanya jadi aku harus bersikap lembut dan sabar.

Ririn kemudian membuka matanya.

“Gimana? enak gak?” tanyaku kepadanya.

Ririn tersenyum dan mengangguk.

“Enak,” jawabnya singkat.

Sepertinya Ririn mulai agak rileks. Aku usap keringat yang ada di dahinya dengan telapak tanganku.

“Mau lagi?”

Ririn mengangguk dengan antusias kemudian kembali memejamkan matanya.

“Sekarang giliran lu, lakuin sama persis kayak yang tadi gue lakuin,” perintahku.

“Duh, gue gak bisa.”

“Coba dulu.”

Ririn menghembuskan nafas berat lalu kami kembali berciuman.

Mula-mula Ririn menjilati bibirku, masih terasa sedikit ketegangan dari Ririn namun sudah jauh berkurang bila dibandingkan dengan sebelumnya.

Kemudian Ririn mulai mengemut bibir bawahku namun dia lakukan dengan gigi sehingga membuat bibirku sedikit luka.

Aku lepaskan sebentar.

“Jangan digigit sayang,” ucapku lalu kembali mencium bibirnya.

“Mmaafslppp…” jawabnya saat kami sedang berciuman.

Setelah itu Ririn mulai dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Aku masih melakukan sama seperti yang dia lakukan tadi yaitu diam.

Saat lidahnya menyapu gigiku, aku kemudian membuka gigiku dan menyedot lidahnya ke dalam mulutku.

Ririn tampak terkejut lalu menarik bibirnya dari bibirku.

“Kenapa Rin?”

“Gak papa,” jawabnya sambil mengecap-ngecap lidahnya.

Aku sedikit tersenyum.

“Itu namanya french kiss,” ujarku singkat.

Aku kemudian kembali mengarahkan dagunya agar mendekat lalu kami kembali berciuman.

Lidah Ririn kembali terjulur masuk ke dalam rongga mulutku yang langsung kusambut dengan lidahku.

Lidah kami saling bergulat, kami saling bertukar air liur. Nafasnya megap-megap, keringatnya kembali mengucur deras di dahinya.

Sejenak kami lepaskan ciuman kami. Ririn kembali mengatur nafas yang tersengal-sengal.

“Gimana rasanya, enak kan?” Aku bertanya kepada Ririn.

Ririn hanya mengangguk karena tak sanggup berkata dibalik nafasnya yang memburu.

Aku rangkul dia hingga kepalanya bersandar di lenganku. Sejenak kami saling bertatapan. Ririn sudah berani menatapku sekarang.

Aku usap keringat yang ada di dahinya lalu aku cium bibirnya lagi lalu lepaskan, lalu cium lagi, dan lepaskan lagi hingga beberapa kali sampai dia puas.

Setelah itu aku melirik ke arah jam. Saat itu sudah pukul 09.45 WIB.

“Bentar lagi jam 10, gue harus cepet pamit nih buat ke warung bu Siti,” ucapku dalam hati.

“Rin, gue pamit dulu ya, udah malem nih.”

“Ya udah, beresin dulu.”

Aku pun dengan cepat membereskan tasku, sebenarnya hanya menutup resletingnya saja karena dari tadi aku tak mengeluarkan apapun.

Kemudian aku pamit kepada Ririn. Saat di depan pintu aku menyeletuk.

“Pulang dulu ya sayang…” ujarku sambil mencoba untuk menciumnya lagi tanda perpisahan malam itu.

“Iihhh,, apaan sih,” tolak Ririn sembari menahan bibirku dengan telapak tangannya.

Aku hanya cengengesan saja.

“Ya udah deh, byeeee….”

Aku melambaikan tangan lalu berbalik, namun sesaat kemudian Ririn memanggilku.

“Ran!”

“Iya?” ujarku sambil menoleh.

“Besok lagi yah!”

“Lagi apanya nih? belajarnya atau…” pungkasku sembari menunjuk-nunjuk ke bibirku.

Ririn tertawa tersipu malu.

“Dua-duanya,” jawab Ririn singkat kemudian langsung menutup pintunya.

Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya itu, lalu kunyalakan motorku kemudian pergi ke warung bu Siti.

Bersambung

Cerita sexs akibat di rumah sendirian
Hanya Demi Nilai Aku Rela Digoyang Dosenku
Foto Bokep Mahasiswi Ngentot di Hotel
bulan madu
Cerita dewasa bulan madu yang membawa bencana
Aku Diperkosa Oleh Guruku Sendiri
ngocok bareng
Ngocok bareng dengan ibu ibu cantik sampai keluar
Foto telanjang mama muda lagi sange bugil pamer memek
tante hot
Tante Ratna Sang Rentenir Cantik
Menikmati berkaraoke di bali yang tiada dua nya
Burung Jalak
dukun cabul cantik
Cerita hot kisah si dukun cabul bagian dua
Ceria Dewasa Enak-Enak Dengan Istri Teman
cewek toge
Keinginanku Menikmati Gadis Bertoket Gede Kini Menjadi Kenyataan
foto bugil anak sma
Foto bugil anak sma lagi sange colok memek pakai jari
Ngewe dengan ibu guru saat liburan
Cerita Dewasa Selingkuh Dengan Bibiku Sendiri