Part #28 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Sore itu aku sedang rebahan di atas ranjangku setelah seharian mengikuti pelajaran di sekolah.

Tiba-tiba hpku berbunyi, kemudian aku cek ternyata ada pesan dari Ririn. Sejenak aku berfikir ada apakah gerangan dia tiba-tiba chat, lalu aku langsung pesan itu.

“Ran, nanti malem bisa ke rumah gue gak? ada yang mau gue omongin, gue gak mau kita marahan terus,” isi pesan tersebut.

Kemudian aku membalasnya.

“Boleh, sekalian belajar kaya biasa?” balasan pesanku.

“Terserah,” balasnya singkat.

Aku lalu melemparkan hpku ke kasur kemudian kembali tertidur.

Skip…

Malamnya aku bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ririn. Saat aku melewati meja makan yang berada satu ruangan dengan dapur tiba-tiba aku mendengar ayah dan ibuku sedang berbincang.

Maka aku putuskan untuk menguping sekaligus mengintip sebentar.

“Mah, mamah tau kan Reza anaknya teh Adibah?” tanya ayahku.

Aku yang sedang mengintip melihat ekspresi wajah ibuku yang berubah menjadi pucat saat mendengar nama Reza.

“I..iya tau pah, e…emang kenapa?” ucap ibuku gugup.

“Minggu depan dia nikah loh, ini undangannya,” balas ayahku sambil menyodorkan surat undangan.

“Sama siapa pah?”

Ibuku lalu membuka udangan itu.

“Di situ sih tulisannya Alicia Salsabilla, gak tau deh dia siapa.”

“Alicia? Alicia itu si Icha bukan sih?” batinku.

Aku kemudian kembali memfokuskan pada percakapan mereka.

“Gak nyangka yah, padahal dulu katanya mau dijodohin sama Ranty ehh malah ngehamilin anak orang, untung gak jadi sama Ranty,” ujar ayahku.

Ibuku hanya diam saja tidak dapat berkata apa-apa.

“Minggu depan mamah ikut yah kondangan sama papah,” ajak ayahku kepada ibuku.

“Ahh, mamah gak ikut ah pah,” tolak ibuku tegas.

“Loh kenapa? gak enak lah mah sama mereka, udah diundang loh.”

Aku tak melanjutkan mendengar perbincangan mereka lalu mengeluarkan motorku dan pergi begitu saja.

Di perjalanan aku masih memikirkan kejadian barusan.

“Gue yakin Alicia itu si Icha dari kronologinya juga sama persis, ngehamilin anak orang,” pikirku.

“Rasain lu Rez,” imbuhku puas.

Aku kembali memacu motorku lebih cepat.

Sesampainya di rumah Ririn aku lalu memarkirkan motorku di depan rumahnya. Suasananya cukup sepi, biasanya dia selalu menungguku di depan rumah, tetapi kali ini tidak.

Kemudian aku ketuk pintunya.

Tok…tok…tok…

Beberapa saat kemudian pintunya terbuka.

“Masuk Ran!” ajak Ririn kepadaku.

Aku kemudian masuk dan duduk di sofanya seperti biasa. Ririn masuk dan mengambilkan aku beberapa cemilan.

Tak lama berselang Ririn kembali dengan teh hangat dan cemilan yang ia bawa di atas nampan.

“Minum dulu Ran.”

Ririn menawariku, aku minum sedikit teh itu yang masih terasa panas.

Ririn duduk di sebelahku setengah menunduk dengan nampan yang berada di pahanya.

“Ran, maafin gue atas sikap gue sama lu dulu,” sergahnya.

“Gak Rin, justru gue yang minta maaf, gue yang salah, gue gak seharusnya berbuat gitu.”

Ririn kemudian menatapku lalu menyodorkan jari kelingkingnya.

“Jadi kita baikan yah?” ucap Ririn sembari tersenyum kecil.

Aku mengangguk seraya menyambut jarinya dengan jariku.

“Oke Rin!”

Jari kelingking kita saling bertautan. Kemudian kami mulai mengobrol. Ririn bertanya-tanya tentang kehidupan pribadiku.

“Ran, lu udah punya pacar?” Tiba-tiba Ririn bertanya seperti itu.

“Emm,, udah,” jawabku jujur.

Ririn mengangguk pelan.

“Namanya siapa?”

Sejenak aku berfikir akan menjawab apa. Tetapi aku rasa Ririn tidak mengetahui nama dari kakakku. Maka dari itu aku jawab jujur saja.

“Namanya Ranty.”

“Oh, anak mana?” Ririn kembali bertanya.

“Kepo deh, emangnya mau apa sih kalo tau?” jawabku sambil mencubit hidungnya.

Aku sengaja menghindari pertanyaan itu, karena kalau diteruskan pasti akan ketahuan juga.

“Ya gak papa, pengin tau aja.”

Aku tak menjawab, aku alihkan untuk memakan cemilan dan meminum teh yang ia sediakan.

“Lu sama pacar lu udah pernah ngapain aja?”

Uhukk…uhukk…

Aku tiba-tiba terbatuk mendengar pertanyaan itu, lalu aku menoleh ke arahnya.

“Ngapain maksudnya?”

“Ya kalo kalian lagi berdua biasanya ngapain aja?”

“Emm,, biasanya ya ngobrol, makan bareng, nonton, jalan-jalan.”

“Kalo seks?” tanya Ririn dengan gamblangnya.

Aku sempat terkejut mendengar pertanyaan itu namun tetap ku jawab.

“Yah kita lakuin cuma kalo dia bener-bener mau aja,” jawabku apa adanya.

“Apa karena itu lu cinta sama dia?” Ririn masih terus mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Aku menghembuskan nafas berat.

“Enggak juga, gue cinta sama dia emang karena perasaan gue aja, kalo dia mau ngelakuin itu sama gue itu bukti kalo dia juga cinta sama gue,” jelasku panjang lebar.

“Jadi,, kalo cewek cinta sama cowok, dia harus mau berhubungan seks sama cowok itu?”

“Gak harus, tergantung kenyamanan aja, semua didasari suka sama suka.”

Ririn kemudian mengangguk, lalu kembali menatapku.

“Ran!” panggilnya lirih.

“Iya?”

“Apa ciuman udah bisa jadi bukti kalo seorang cewek suka sama cowok?” tanya Ririn kepadaku.

“Tergantung cara cewek itu mempresentasikan cintanya, kenapa emang? lu lagi suka sama cowok ya?” sergahku kepadanya.

Ririn setengah menunduk, jarinya memainkan ujung bawah bajunya terlihat gugup.

“Gu…gue suka sama lu…” pungkasnya ragu-ragu.

Aku sedikit terkejut, bukan karena tahu kalau Ririn menyukaiku, tetapi karena keberaniannya menyatakan perasaannya padaku.

Aku sudah lama tahu kalau Ririn memendam perasaannya padaku dan akhirnya hari ini dia mengungkapkan secara langsung.

“Oh ya?” ujarku singkat.

Ririn masih menunduk, keringatnya mulai keluar seperti biasa apabila dia merasa gugup.

Aku kemudian mendekatkan wajahku ke wajahnya dan berbisik.

“Kalo gitu tunjukin dong kalo lu emang suka sama gue.”

Ririn lalu menatapku. Dia merapatkan bibirnya seraya mengangguk. Kemudian dia mulai mendekatkan bibirnya ke bibirku, dan…

Cuppp…

Kami mulai berciuman, mula-mula hanya bibir lalu Ririn mulai menjulurkan lidahnya dan kusambut dengan lidahku.

Ciuman kali ini terasa sangat lamban seakan kami benar-benar saling meresapi inci demi inci bibir kami masing-masing hingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya yang menerpa wajahku.

Kali ini aku melakukannya dengan nafsu yang seminimal mungkin untuk mencegah kejadian seperti sebelumnya. Ciuman ku lakukan hanya untuknya, untuk memuaskannya tanpa aku meminta lebih.

Sesaat kemudian Ririn melepaskan ciuman kami. Aku pikir ini sudah puas dan dia ingin mengakhirinya.

Sejenak kami saling berpandangan. Aku tersenyum padanya dan mengecup keningnya yang penuh dengan keringat hingga bibirku basah.

Setelah selesai tiba-tiba Ririn bangkit dan menarik tanganku untuk ikut bersamanya. Aku kemudian berdiri dan mengikuti kemana ia pergi.

Aku heran karena dia menarikku ke suatu kamar yang ku ketahui itu kamarnya.

Aku terperangah melihat sebuah papan seperti mading yang terpasang di tembok tepat di depan meja belajarnya. Di sana terdapat foto-fotoku yang pernah aku upload di status wa, ada juga foto yang dia jepret secara diam-diam.

“Lu tau, waktu mood gue lagi kacau, gue tinggal duduk di sini dan ngeliatin foto-foto yang ada di situ terus mood gue balik lagi deh,” ujarnya sembari memandangku.

Aku balas memandangnya, mata kita saling bertemu. Saat itu aku luluh dengan ketulusan cintanya.

“Duh kenapa gue jadi oleng gini, gue udah punya kak Ranty,” umpatku dalam hati.

Tiba-tiba Ririn mendekatiku, tangannya ia letakkan di belakang leherku lalu dia tarik agar aku sedikit menunduk dan…

Cuppp…

Ririn kembali menciumku saat itu. Ririn menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Aku reflek memeluk punggungnya.

Ciuman kami begitu lembut, begitu mesra. Kami seolah terbawa emosi yang kami buat sendiri.

Sesaat kemudian Ririn melepaskan ciuman kami. Lalu dia sedikit menunduk hingga pandangannya tepat ke arah perutku.

Kemudian kedua tangannya memegang ujung baju bawahnya, lalu dengan ragu-ragu dia angkat bajunya perlahan ke atas.

Aku menarik nafas sontak terkejut melihat apa yang dilakukannya.

“Rin, lu mau ngapain?” tanyaku dengan nada sedikit meninggi.

Ririn kemudian melirik ke atas ke arah wajahku.

“Ma…mau buktiin cinta gue sama lu,” jawabnya lalu kembali menaikkan bajunya hingga bra yang dipakainya terpampang dihadapanku.

Seketika aku tahan tangan Ririn yang sedang melepaskan baju itu lalu kembali menurunkannya.

“Lu gak perlu buktiin apa-apa, gue percaya kok sama lu, jangan maksain hal yang gak lu mau” ucapku sembari memeluknya.

Ririn menyandarkan kepalanya di dadaku. Sesaat terjadi keheningan hingga suara jangkrik terdengar begitu nyaring di telinga.

Namun beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar suara.

“RIRIN…!!! KAMU DIMANA…!!!” Teriak seseorang.

Kami panik saling berpandangan.

“Bapak gue!” sergah Ririn kemudian aku disuruhnya untuk bersembunyi.

Dokkk…dokkk…dokkk…

Pintu kamar Ririn di gedor dengan sangat keras.

Aku lalu bersembunyi di samping lemari pakaian yang ada di kamarnya. Lalu buru-buru Ririn membuka pintu kamarnya.

“KAMU DARI TADI DIPANGGILIN DIEM AJA…!!! BUDEG YAAA…!!! DASARRR ANAK SIALAN…!!!” bentak ayahnya lagi.

Dengan penuh amarah ia menjambak rambut Ririn lalu menariknya keluar kamar.

“Aaa…ampun pak, sakit…!!!” jerit Ririn sembari memegangi rambutnya.

Aku sengaja menunggu mereka pergi agar ayahnya tidak mengetahui aku berada di kamar Ririn sedari tadi.

Setelah mereka berlalu aku kemudian keluar dari persembunyian lalu secepat mungkin mencari Ririn.

Saat itu aku mendengar suara jeritan Ririn di dalam kamar mandi yang tertutup.

Aku coba buka, ternyata terkunci. Lalu aku dobrak dengan tendangan yop chagi dan…

Brakkk……

Pintu pun terbuka. Mataku terbelalak melihat kepala Ririn sedang ditenggelamkan di bak mandi itu oleh ayahnya.

Melihatku masuk ayahnya melepaskan kepala Ririn.

“HEHH…!!! SIAPA KAM….”

Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya aku selesaikan dulu dia dengan tendangan dollyo chagi hingga dia tersunkur di atas lantai kamar mandi.

“ARKHHH…!!!” pekik ayahnya.

Setelah ayahnya KO, aku kemudian menarik tangan Ririn keluar dari situ. Dia tampak menangis sesunggukkan.

“Ayo Rin!”

“Kemana???”

“Ke warung ibu lu, dia harus tau kelakuan bapak lu,” ujarku dengan tegas.

“Ja…jangan Ran! gue takut,” tolak Ririn sembari menangis.

“Rin,, gue gak akan rela lu hidup sama orang brengsek kaya bapak lu itu!!!”

Ririn tak menjawab hanya bisa menangis.

“Gue bakal minta ibu lu buat cerai sama dia dan tendang sampah itu keluar dari rumah!”

Aku kembali menariknya agar ikut bersamaku. Lagi-lagi Ririn menahan.

“Gak Ran, lu gak ngerti posisinya, terakhir ibu gue minta cerai, dia hampir dibunuh sama bapak gue,” sergah Ririn.

“Gue jaminannya, gue janji bakal ngelindungin lu sama bu Siti!”

Ririn tetap menggelengkan kepala.

“Jangan ke warung Ran, ke tempat lain aja.”

Aku kemudian menghela nafas.

“Ya udah kalo lu gak mau, kita pergi ke tempat lain, yang penting gak di rumah.”

Ririn hanya mengangguk pelan, kemudian kami pergi menaiki motor berboncengan.

Aku arahkan motorku ke sebuah taman dekat danau kecil yang berada tak terlalu jauh dari situ.

Saat itu sudah pukul 09.00 WIB. Jadi suasana saat itu cukup sepi. Kami duduk di salah satu kursi kayu panjang yang ada di situ.

Setelah duduk lalu aku menatap Ririn. Kepalanya basah kuyup karena kelakuan ayahnya tadi.

Kemudian aku lepaskan jaketku lalu aku kerubungkan ke tubuhnya. Setelah itu aku lepaskan kaos yang aku kenakan hingga aku bertelanjang dada.

“Lu mau ngapain?” tanya Ririn kepadaku.

“Udah diem aja,” jawabku singkat.

Kemudian aku letakkan kaosku di kepalanya lalu ku usapkan kaos itu di rambutnya agar rambutnya kering.

“Jangan Ran, nanti kaos lu basah,” cegah Ririn.

“Biarin,” balasku sekenanya.

“Entar lu masuk angin.”

Aku pengang dagunya lalu aku arahkan ke wajahku.

“Mending gue yang masuk angin daripada lu.”

Ririn menghela nafas panjang lalu mengangguk pelan. Aku kemudian meneruskan mengelap rambutnya hingga sedikit mengering.

Suasana saat itu memang cukup dingin, tapi aku tahan agar Ririn tetap mendapatkan kehangatan.

“Makasih ya Ran, udah nolongin gue,” ucapnya berterima kasih.

“Iya,, oh ya omong-omong bapak lu emang sering kaya gitu?”

“Kalo lagi mabok, terus kalah judi, ya begitu lah.”

“Kenapa lu bisa tahan sih hidup sama orang kaya gitu?”

“Dulu dia orang baik kok, tapi sejak keluar dari penjara jadi gitu,” jelas Ririn.

“Kalo dibilang gak tahan sih ya gak tahan, tapi gue gak punya pilihan lain,” imbuhnya lagi.

“Jalan satu-satunya cerai!” pungkasku tegas.

“Ran, lu gak tau bapak gue kaya apa orangnya.”

“Gue tau kok, dia cuma menang gertakan doang, yang lu butuhin cuma orang yang bisa ngelindungin lu.”

Ririn menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Percaya sama gue Rin, minta ibu lu buat ceraiin dia, kalo dia macem-macem dia bakal berhadapan sama gue.”

Beberapa saat dia berfikir keras, lalu akhirnya dia mengangguk setuju.

“Ya udah sekarang kita ke warung dulu, biar gue jelasin sama ibu lu soal yang tadi.”

Kami lalu pergi ke warung bu Siti. Aku hanya mengenakan jaket sedangkan kaosku aku taruh di bawah jok motor karena basah.

Sesampainya di warung, kami langsung masuk ke bagian belakang warung. Saat itu warung sudah hampir tutup.

Melihat kedatangan kami bu Siti tampak terkejut. Mungkin dia mengira hanya aku yang datang.

“Loh kalian kok bisa ke sini berdua,” tanya bu Siti kepada kami.

Kami saling berpandangan kemudian aku menjelaskan tentang kejadian yang dialami oleh Ririn. Bu Siti bilang akan mempertimbangkannya.

Kemudian karena ada Ririn di situ kami tidak bisa berbuat hal seperti biasa. Akhirnya setelah menutup warung kami pulang bersama-sama.

Sesampainya di rumah bu Siti mengecek keadaan rumahnya, aku dan Ririn menunggu di depan. Beberapa saat kemudian bu Siti kembali keluar.

“Gak ada, mungkin udah pergi, biasa lah kalo udah sembuh dari maboknya juga balik lagi kaya biasa,” pungkas bu Siti.

“Gak papa Ran, tinggal aja,” ucap Ririn kepadaku.

Aku lalu memegang kedua bahunya.

“Lu baik-baik yah, kalo ada apa-apa hubungi gue.”

Ririn hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Ganti baju dulu Rin, entar masuk angin loh,” suruh bu Siti kepada Ririn.

“Iya bu.”

Kemudian Ririn masuk ke rumahnya. Pandangan bu Siti mengikuti arah Ririn berjalan, setelah punggungnya menghilang di balik tembok, bu Siti menoleh ke arahku.

Lalu dia memberikan aku sesuatu. Sebuah kotak kecil yang di bungkus plastik.

“Apa ini bu?” tanyaku penasaran.

“Hadiah buat kamu, dibuka nanti pas di rumah ya.” jawabnya lalu menutup pintu.

Kemudian aku pun pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah aku memasukkan motorku lalu buru-buru masuk ke kamar. Saat itu semua orang sudah tertidur.

Di dalam kamar aku langsung membuka hadiah yang di berikan oleh bu Siti. Setelah dibuka aku melihat sebuah kertas pipih panjang.

“Tespek!” pikirku.

Lalu di situ aku melihat dua garis di sana.

“Positif…!!!”

Bersambung

cewek sange
Perselingkuhan Ku Dengan Tante Yang Kesepian Bagian Dua
Foto bugil janda muda ngangkang pamer memek
buruh pabrik cantik
Menikmati Tubuh Buruh Pabrik Yang Cantik Dan Montok
Hanya Demi Nilai Aku Rela Digoyang Dosenku
cewek cina bugil
Antara Perih Dan Nikmat
Mai Shirakawa uncensored
rekan kerja
Menikmati Lubang Surga Rekan Kerja Ku
Dua Cewek Jilbab Kurus Show Memek Pengen Ngentot
Foto Bugil Jilbab Super Cantik Tetek Super Gede
Cerita Dewasa Desahan Manja Seorang Janda Seksi
Ngewe dengan sepupu yang lagi hamil
Cerita hot ngentot dengan anak bungsu ku sendiri
Foto hot jepang Kana Tsuruta bening men
Ibu guru bugil
Ngentot Ibu Guru Berjilbab Yang Masih Perawan
cerita remaja
Pengalaman masa muda yang tak akan pernah terlupakan bagian 2
gadis manja
Cerita cewek manja yang punya nafsu gede