Part #29 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Hari demi hari berlalu, aku jadi semakin perhatian dengan Ririn dan bu Siti. Aku selalu menanyakan kabarnya. Apalagi aku mengetahui kalau ayahnya adalah seorang lelaki yang brengsek dan suka main tangan.

Dan bu Siti, setelah aku mengetahui kalau dia sedang mengandung anakku, aku jadi sering mengunjunginya hanya untuk mengelus-elus perutnya yang belum terlihat besar.

Skip…

Tibalah saatnya aku menghadapi ujian nasional. Pagi hari pukul 04.30 WIB aku merasakan tubuhku digoyang-goyang.

“Ran! Randyyy…!!!”

Aku pun terbangun lalu mengucek mataku. Ternyata yang membangunkanku adalah kak Ranty.

“Bangun! kamu kan mau ujian Ran…” perintah kak Ranty.

“Baru jam berapa nih kak,, hoamzzz,” jawabku sambil menguap dan meregangkan badan.

“Tapi kan kamu harus siap-siap, belajar dulu, inget-inget pelajaran yang udah kamu pelajari, biar nanti bisa ngerjainnya.”

Aku tak menghiraukannya justru menarik tubuh kak Ranty lalu memeluknya seperti aku memeluk guling.

“Aduh Ran, kok malah ngajak tiduran sih,” protes kak Ranty kemudian dia menggelitikiku.

“Aaaah,, geli kak…” Aku kelojotan di atas kasur menahan tangannya agar berhenti menggelitik.

“Makannya bangun jangan males-malesan, katanya mau perjuangin masa depan kita.”

Aku setengah membuka mata dan menatap kak Ranty yang berada di sebelahku.

“Kasih buff dulu dong kak,” ujarku sambil tersenyum penuh arti.

“Huh? maksudnya?” jawab kak Ranty tidak mengerti.

Aku tak menjawab hanya menunjuk ke arah bibirku sambil memanyunkannya.

“Halah kamu ini, ada aja alesan buat cari kesempatan.”

“Hehe,, mana ada cari kesempatan, emang bener kok, dulu aja waktu pertandingan basket Randy dapet ciuman dari kak Ranty buff nambah 40%, kalo ML nambah 100%, nanti Randy tiba-tiba jadi pinter deh,” pungkasku sambil tertawa kecil.

“Hih,, dasarrr…” rajuk kak Ranty namun tak ayal dia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku dan cuppp…

Kami berciuman lembut. Posisiku sedang terlentang sedikit miring, posisi kak Ranty miring ke arah diriku.

“Ihh bau,, belum gosok gigi yah Ran!”

“Kan baru bangun kak, masa gosok gigi sambil tidur,” ucapku dengan santai.

“Emang kakak udah gosok gigi?” imbuhku lagi.

“Udah dong, enak aja.”

“Ya udah Randy gosok gigi pake mulut kakak aja, hehehe…” balasku setengah bercanda.

“Dasarrr…”

Setelah itu kak Ranty kembali menciumku dan benar saja dia jilati gigiku dengan lidahnya.

Aku gigit lidahnya lalu aku sedot hingga masuk ke dalam mulutku. Aku mainkan lidahnya di dalam mulutku, kak Ranty terlihat diam saja sembari lidahnya dijulurkan layaknya anjing.

Kemudian aku remas pantatnya dan beberapa kali aku tabok hingga kak Ranty sesekali memekik. Saat itu dia masih mengenakan piyama.

Setelah itu aku tarik tubuh kak Ranty hingga tubuhnya tepat berada di atas tubuhku dan menindihku.

Tangan kak Ranty berada di kedua pipiku sembari kami berciuman. Dadanya menempel erat di dadaku.

Tanganku lalu kumasukkan ke dalam celananya dan aku remas pantat kak Ranty tanpa penghalang. Ternyata dia tidak mengenakan celana dalam.

Aku sibakkan bokongnya ke kanan dan kiri hingga lubang pantatnya meregang. Lalu ku usap-usap lubang itu dengan jari telunjuk kemudian aku dorong jariku hingga masuk satu ruas jari.

“Ouhhh…Rhann…!!!” pekiknya merasakan jariku yang masuk menerobos lubang pantatnya.

Tiba-tiba lubang itu menyempit sehingga jariku terjepit erat di dalam. Tanganku ia cubit dan tabok sambil memintaku untuk mencabutnya.

“Tarik Ran, duhh…kakak jadi mules nih dicolok begitu,” protesnya.

“Hehehe…ya udah keluarin aja kalo gitu.”

“Sembarangan…!!!”

Kemudian aku tarik jariku hingga terlepas dari lubang boolnya.

Tanganku berpindah ke bagian atas tubuh kak Ranty. Dia sedikit mengangkat badannya dan menciptakan space diantara dada kami.

Pertama-tama aku remas toketnya yang menggantung itu. Lalu aku buka kancing bajunya satu per satu hingga bra pink milik kak Ranty menyembul dari dalam.

Aku langsung mengangkat bra itu ke atas lalu aku kecup dan sedot puting sebelah kirinya. Kak Ranty kemudian sedikit menurunkan badannya agar aku dapat mengenyotnya tanpa harus mengangkat kepalaku.

“Ouhhh…shhhh…emhhhh…” desah kak Ranty.

Aku menyedot puting kirinya dan memilin puting kanannya dengan jariku, begitu juga sebaliknya.

Setelah puas aku lepaskan pagutanku di toketnya itu. Lalu kak Ranty turun hingga mencapai pinggulku.

Kemudian dia langsung menarik celana boxerku hingga terlepas dan menampakkan kontolku yang mengacung dengan keras.

Kak Ranty melirik ke arah wajahku sambil tersenyum nakal. Kemudian kak Ranty menjilat batang kontolku dari testisku hingga ke kepala kontolnya, naik dan turun.

Lalu ditegakkan batang kontolku dan langsung dimasukkan ke dalam mulutnya.

“Ouhhh…nikmat kakkk…!!!” desahku menerima blowjob darinya.

Aku menikmatinya beberapa saat, kemudian kak Ranty mulai melepaskan celananya hingga bagian tubuh bawahnya telanjang.

Lalu kak Ranty kembali merangkak naik di atas tubuhku hingga tubuh kami sejajar.

Kak Ranty kemudian mengarahkan kontolku ke lubang memeknya, dan…

Blesss…

“Ouhhhh….!!!”Kak Ranty memekik pelan.

Kontolku masuk sepenuhnya ke memeknya. Saat itu posisi kak Ranty sedang duduk di pangkuanku dengan piyama atasnya terbuka seperti adegan gisel, ehh…

Setelah diam beberapa saat, kak Ranty mulai menggoyangkan pinggulnya.

“Ouhhh…shhh…ouhhh…shhh…ouhhh…” Desah kami berdua.

Tak ketinggalan toketnya yang menggantung aku remas dan kenyot sepuas hati.

Semakin lama gerakannya semakin cepat tetapi itu tak membuatku merasa akan jebol sedikitpun.

Tampaknya aku telah mendapatkan pelajaran yang cukup berharga dari bu Siti dalam hal memuaskan wanita.

Ditambah lagi jamu yang sering dia buatkan untukku tiap kali kita bertemu membuat staminaku menjadi semakin kuat.

Hingga beberapa saat kemudian.

“Enghhh…Rhannn…kakakkk…mhauuu…nyampheee…ouhhh…”

Plokkk…plokkk…plokkk…plokkk…

Dan…

Srrr…srrr…srrr…srrr…

Aku merasakan kontolku disemprot oleh cairan kenikmatan kak Ranty. Dia ambruk dan memelukku. Aku diamkan dia agar menikmati sisa-sisa orgasmenya sembari mengatur nafas.

Setelah nafasnya mulai teratur aku kemudian membalikkan tubuh kami sehingga sekarang aku berada di atas tubuh kak Ranty.

Tanpa melepaskan kontolku aku gerakkan sedikit demi sedikit memompa memeknya. Beberapa saat kemudian kak Ranty mulai mendesah kembali.

“Ouhhh…shhh…Rhannn…”

Aku pagut lehernya dan aku remas toket kirinya untuk menambah rangsangan pada tubuh kak Ranty.

Dan benar saja, beberapa saat kemudian kak Ranty kembali mencapai orgasme.

Srrr…srrr…srrr…

Wajah kak Ranty mendongak ke atas sembari menggigit bibirnya saat merasakan orgasmenya yang kedua.

Aku melihat kasurku basah kuyup di bagian kemaluan kami karena cairan cinta kak Ranty yang keluar.

Kemudian aku cabut kontolku yang masih mengacung dengan keras.

“Kak nungging dong!” pintaku kepadanya.

Tetapi kak Ranty malah hanya membalikkan badannya saja hingga dia telungkup.

Aku tabok dengan lembut pantatnya.

“Dibilang nungging malah tengkurep doang!” protesku.

Kak Ranty diam saja, lalu aku berinisiatif untuk mengangkat pantatnya hingga dia menungging dengan bertumpu pada lututnya.

Terlihat dua lubang yang sangat menggoda terpampang jelas dihadapanku.

Kemudian aku jilat bibir memeknya ke atas hingga mencapai lubang pantatnya, lalu aku mainkan lidahku di area lubang anus kak Ranty dan ku tekan-tekan dengan lidahku hingga sesikit masuk.

“Awhhh…Rhannn…” pekik kak Ranty lirih.

Aku ludahi sedikit kedua lubang itu kemudian aku arahkan kontolku ke lubang memeknya dan…

Blesss…

Masuklah kontolku ke dalam lubang memeknya lagi.

“Uhhh…” pekik kak Ranty menerima kontolku.

Aku kembali menggoyangkan kontolku di dalam memeknya.

Plokkk…plokkk…plokkk…

Bunyi kemaluan kami saling beradu. Kepala kak Ranty menoleh ke belakang.

“Rhann…udahhh…dhuluuu…entharrr…kamuuu…teerlammbattt…shhh…ouhhh…”

Kemudian aku percepat gerakan kontolku agar cepat mencapai klimaks.

Plokkk…plokkk…plokkk…

Beberapa saat kemudian aku merasa bahwa aku akan jebol maka aku percepat gerakan kontolku yang mengaduk memeknya, dan…

Srrr…srrr…srrr…srrr…

Kak Ranty mencapai orgasmenya yang ketiga terlebih dahulu, lalu tak lama berselang…

Crottt…crottt…crottt…crottt…crooottt…

Aku menumpahkan spermaku di dalam rahim kak Ranty. Setelah selesai aku lalu mencabut kontolku dari memek kak Ranty.

Terlihat lubang memeknya terbuka lebar dan kembang kempis karena sedari tadi diganjal oleh kontolku. Lalu keluar cairan putih kental mengalir ke pahanya.

Kak Ranty masih berdiam diri dengan posisi yang sama. Iseng aku jepret dirinya dengan hpku untuk kujadikan koleksi.

Setelah itu kudorong tubuhnya hingga ambruk ke samping. Terlihat kak Ranty lemas tak berdaya.

Aku kemudian memakai kembali pakaianku dan keluar kamar untuk mandi dan bersiap pergi ke sekolah.

Mata kak Ranty mengikuti arah perginya diriku hingga aku menghilang dibalik pintu kamarku.

Usai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, aku menyalakan motorku. Kak Ranty menemaniku di depan teras rumah.

“Ran!” panggilnya.

Aku menoleh.

“Semangat!” ucapnya sambil menggenggam tangan di depan wajah.

“Tenang aja kak, udah dapet buff dari kakak, Randy pasti bisa ngerjain soal,” balasku sembari tersenyum.

“Oke deh,” jawab kak Ranty singkat.

Aku pun kemudian menjalankan motorku meninggalkan kak Ranty.

Sesampainya di sekolah, seperti biasa setelah aku memarkirkan motorku aku mampir ke warung bu Siti untuk sarapan.

Saat itu aku sudah disambut oleh Ririn dengan nasi goreng ati ampela dan segelas teh hangat.

“Udah siap buat ujian?” tanya Ririn sambil menyodorkan sarapanku.

“Siap gak siap,, hehehe…” jawabku sekenanya.

Aku menyantap makanan sembari mengulang pelajaran yang telah kita pelajari sebelumnya.

“Oh ya Ran, lu tau gak?” ucap Ririn tertahan.

“Tau apaan?”

“Bentar lagi gue punya adik,” balas Ririn.

“Oh ya…???” Aku pura-pura terkejut.

“Iya…”

“Bentar lagi gue juga punya anak,” batinku.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

“Terus perceraian ibu lu gimana?” tanyaku kepadanya.

“Lagi proses Ran!”

“Terus bapak lu gimana? ngamuk lagi?”

Ririn menggelengkan kepala.

“Gue sama ibu gue ngungsi di rumah sodara, hehehe…”

“Oh, bagus deh buat sementara lebih baik gitu.” Aku manggut-manggut.

Aku kembali menyelesaikan makanku. Sejenak aku lirik ke arah bu Siti yang sedang melayani tamu yang datang.

Saat itu bu Siti juga melirikku. Dia tersenyum penuh arti sembari mengelus perutnya itu lalu melanjutkan aktifitasnya.

“Ya udah yuk, entar telat lagi,” ajak Ririn kepadaku.

“Yuk!” balasku singkat.

Kami lalu masuk ke sekolah melewati tembok seperti biasa. Di dalam koridor kami berpisah karena kita beda kelas.

Sesampainya di depan ruang ujianku aku bertemu dengan Lisa.

“Lis!” panggilku.

Dia menoleh lalu melambaikan tangan.

“Ran, gimana udah siap contekannya?” sergah Lisa.

“Ya elah ngapain pake contekan, kan gue udah belajar,” ujarku bercanda.

“Alahhh, sok iya banget deh,” balasnya lalu menoyor kepalaku.

Saat itu para siswa hanya duduk di depan ruangan menunggu pengawas datang. Mereka duduk sembari belajar untuk yang terakhir kalinya sebelum ujian dimulai.

Namun berbeda dengan mereka, aku dan Lisa justru sedang berada di bagian belakang toilet siswa yang biasa dijadikan tempat pembakaran sampah.

“Ran, cepet Ran!”

Lisa mengintip dibalik tembok sedang mengawasi situasi apabila ada orang yang datang. Saat itu hanya kepalanya saja yang terlihat apabila dilihat dari sudut yang lain.

Dengan cepat aku menaikkan roknya lalu menurunkan celana dalam Lisa hanya sebatas lutut. Saat itu posisinya setengah membungkuk.

Setelah dua bongkahan pantatnya terpampang dihadapanku, aku langsung mengarahkan kontolku yang sudah bebas sejak sampai di tempat itu kearah memeknya.

Blesss…

“Ouhh…Rhannn…enakkk…” desah Lisa.

Aku langsung pompa memeknya dengan kecepatan maksimal.

Plokkk…plokkk…plokkk…plokkk…

Tubuh Lisa tersentak-sentak. Dia menarik kepalanya yang tadi mengintip lalu menghadap ke tembok dengan bertumpu pada kedua tangan.

“Uhhh…Rhann…ghuee…mauu…nyampheee…”

Aku percepat pompaanku lalu tiba-tiba…

Teeeeettttt……!!!

Bel sudah berbunyi, itu tandanya para pengawas sudah masuk ke ruangan masing-masing dan ujian akan segera dimulai.

“Waduh telat masuk nihhh…!!!” batinku panik.

Sesaat sebelum Lisa mencapai klimaks dengan buru-buru aku tarik kontolku hingga terlepas dari memeknya.

Lisa kelojotan kemudian terjongkok merasakan klimaksnya yang sekali hit lagi sampai namun harus tertahan.

“Awhhh…Rhanndy…anjhimmm…ngaphainn..di…lephasss…” pekik Lisa protes.

Aku tak memperdulikannya lalu aku angkat celanaku dan memakainya lagi. Kemudian aku berlari meninggalkan Lisa yang masih terjongkok.

“Rhannn tunggu…!!!” panggilnya dari jauh.

Setelah sampai ruangan aku langsung masuk dan duduk. Saat itu pengawas sedang membagikan soal dan lembar jawaban.

“Kamu dari mana? kenapa telat?”

Pengawas itu bertanya dengan wajah yang jutek.

“A…anu pak, tadi habis ke toilet,” jawabku sekenanya.

“Ya udah duduk, telat satu menit lagi kamu gak saya kasih masuk!” bentaknya lagi.

“I…iya pak.”

Aku kemudian duduk di mejaku.

Beberapa menit kemudian Lisa menyusulku masuk. Kondisinya acak-acakan.

Ujung baju sebelah kanannya masuk ke dalam rok sedangkan sebelah kirinya di luar. Rambutnya juga berantakan.

Sepertinya Lisa tidak sempat membenahi dandanannya karena terburu-buru.

“Loh kamu darimana? kok baru dateng?” ucap pengawas itu dengan nada lembut.

“I…itu pak, habis dari belakang,” jawab Lisa dengan gugup.

“Oh gitu ya, ya udah sekarang kamu masuk, besok jangan diulangi lagi yah.”

Pengawas itu tersenyum dan mempersilahkan Lisa duduk begitu saja padahal dia sendiri yang bilang kalau telat satu menit lagi dia tidak ijinkan masuk, tetapi Lisa yang lebih dari semenit tetap diperbolehkan masuk.

“Dasarrr,, kalo sama cewek aja lu jinak,” umpatku dalam hati.

Ujian pun dimulai, aku langsung mengatur strategi untuk membuka contekanku. Aku lirik pengawas itu.

Matanya jelalatan kemana-mana. Bukan untuk mengawasi tapi untuk tebar pesona kepada siswi di sana, terutama Lisa yang dari saat masuk ruangan sudah menggugah birahi.

Aku lirik ke arah Lisa, dia tampak menggaruk-garuk kepalanya karena pusing tidak bisa membuka contekannya karena dilihat terus oleh pengawas itu.

Aku tertawa dalam hati, lalu ku manfaatkan kesempatan itu untuk membuka contekanku dan menyalinnya di lembar jawab hingga selesai.

Kertas bocoran itu hanya berisi 60% dari total jawaban yang ada di soal UN. Jadi kalau aku menyalin seluruh contekan itu dengan benar aku sudah dijamin lulus dengan nilai minimum, dan soal lain yang tidak ada di contekan aku kerjakan sendiri dengan otakku.

Setelah aku menyelesaikan semua soal UN itu aku lalu meregangkan badanku. Sejenak aku lirik ke arah Lisa, dia balik melirikku.

Ku sunggingkan senyum kepuasan sambil menaikkan kedua alisku. Raut wajah Lisa tampak cemberut dan iri.

“Heh kamu! ngapain tengak tengok, udah selesai?” ujar pengawas itu menegurku.

Aku tersenyum dengan bangganya.

“Udah dong pak,” jawabku dengan santai.

“Kalo udah keluar sana! jangan gangguin yang lain!” sergah pak pengawas dengan nada tinggi.

Aku lalu berdiri hendak beranjak dari kursiku. Sesaat aku kembali melirik ke arah Lisa. Aku kembali tersenyum dan mengedipkan salah satu mataku.

Lisa membuang muka. Aku kemudian beranjak pergi dari ruangan ujian itu. Dari luar aku aku mengintip ke dalam ruangan.

Aku lihat Lisa melotot ke arahku. Aku hanya tertawa sembari menjulurkan lidahku lalu dia berpaling.

Tetapi beberapa saat kemudian aku jadi merasa kasihan dengannya. Maka aku memutuskan untuk sedikit membantunya.

Lalu aku berjalan menuju pintu ruangan itu kemudian aku ketuk pintunya.

Tok…tok…tok…

“Siapa itu?” ujar pengawas lalu bangkit menuju ke arahku.

Dia kemudian membuka pintu.

“Oalah kamu lagi, ngapain kamu ke sini lagi?” bentaknya seperti biasa.

“Hehehe,, gak papa pak, cuma mau nanya nanti ujian kedua jam berapa ya pak?”

“Ealah malah nanyak kamu sama saya, kan kamu yang punya jadwalnya, tinggal diliat!”

“Oh iya lupa,” jawabku sambil cengengesan.

Dia berbalik namun aku tahan.

“Bentar pak!”

“Apalagi sih kamu!!??”

Aku berfikir sejenak untuk mencari topik pembicaraan yang menarik agar perhatian pengawas itu teralihkan dari ujian itu.

“Ehh iya, bapak tau gak bu Ningsih?” tanyaku kepadanya.

Benar saja ketika dia mendengar nama wanita dia langsung fokus terhadap pembicaraan.

“Bu Ningsih siapa?” balasnya penasaran.

“Guru bahasa inggris sekolah ini pak.”

Aku melirik ke arah dalam ruangan. Semua siswa memanfaatkan momen itu untuk membuka contekan mereka masing-masing, termasuk Lisa.

“Emang kenapa sama dia?”

“Bu Ningsih itu orangnya cantik, terus…”

Aku mendekatkan mulutku ke telinganya.

“Janda baru,” bisikku.

“Ah yang bener?” tanyanya bersemangat.

“Iya bener lah pak, kalo gak percaya bapak datang aja ke ruang guru terus mejanya nomor 3 dari depan paling kiri.” ujarku menjelaskan.

Pengawas itu terlihat antusias dengan topik itu.

“Dasarrr pengawas mesum,” batinku.

Setelah kami berbincang cukup lama, bel tanda selesai pun berbunyi. Semua murid keluar dari ruangan.

Lisa keluar dengan wajah bete. Aku tersenyum menyambutnya keluar.

“Hehehe,, gimana tadi ujiannya lancar?” tanyaku menggoda.

“Arkhhh…!!!” serunya sambil menjambak rambutku lalu dipontang-pantingkan ke sana kemari.

“Aduhhh…Lis nyebut Lis nyebut…!!!” pekikku merasa pusing.

Lisa melepaskan jambakannya lalu terduduk di kursi depan ruangan. Aku kemudian menyusul untuk duduk di sampingnya.

“Aduh Ran gimana nih! tadi gue belum sempet nyalin semuanya,” pungkas Lisa terlihat stress.

“Lah kan tadi udah gue bantu biar pengawas tadi gak liatin lu terus.”

“Iya tapi lu telat tadi ngelakuinnya, gue buru-buru jadi gak sempet deh.”

Lisa menutup wajahnya dengan telapak tangan tampak frustasi. Lalu aku merangkulnya dari samping.

“Udah tenang aja,” ucapku seraya mendekatkan wajahku ke arahnya.

Lisa lalu menoleh sehingga mata kita saling bertemu, dia mengernyitkan dahinya.

“Kan masih ada tahun depan, hahaha…aww…!!!” tawaku tertahan karena dia mencubil pinggangku.

“Iya sama lu!” jawabnya singkat.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba Ririn datang. Aku langsung menarik tanganku yang sedang merangkul Lisa.

Ririn menatap kami secara bergantian.

“Ada apa Rin?” tanyaku kepadanya.

“Gak papa, eh gimana tadi ujiannya, bisa?” ujarnya dengan nada datar.

“Bisa dong,” balasku sembari mengacungkan jempolku.

“Oh syukur deh, berarti belajar kita selama ini gak sia-sia dong.”

Aku hanya mengangguk.

“Bisa apaan, orang nyontek juga,” celetuk Lisa tiba-tiba.

Seketika langsung aku bungkam mulutnya dengan tanganku.

“Hnggann..vrrrchhaa..hmma..arnnddy.. (Jangan percaya sama Randy)” gumam Lisa tak jelas karena bungkamanku.

Lisa kemudian melepaskan tanganku dari mulutnya lalu mencubit pinggangku.

“Aww…!!!”

Lisa memasang muka sebal kepadaku. Saat itu Ririn memperhatikan tingkah kami.

“Kalian akrab banget yah!” ucap Ririn.

Aku dan Lisa sontak melotot ke arah Ririn secara bersamaan.

“Akrab apanya…!!!” ujar kami secara bersamaan.

Kemudian kami saling berpandangan karena jawaban kami yang berbarengan. Ririn tertawa kecil melihat tingkah kami.

“Ya udah kalo gitu, semangat ya buat ujian selanjutnya,” kata Ririn memberi semangat.

Ririn kemudian kembali ke ruangannya untuk belajar dan mempersiapkan jam ujian kedua.

Setelah Ririn berlalu, Lisa kemudian menoleh ke arahku.

“Ran!”

“Iya?”

“Teganya lu bikin gue kentang tadi,” sungut Lisa.

“Emangnya gue gak kentang, gara-gara lu sangean di saat yang gak tepat, huuu…” protesku tidak mau kalah dengannya.

“Ya udah, tapi nanti pulangnya lu harus tanggung jawab ya.”

“Iya,” jawabku singkat.

Kami pun kembali mengikuti ujian kedua pada hari itu.

Bersambung

nabilah jkt46 sexy bugil ciuman
Ngentot Gadis Sma Cantik Dan Binal
pacar kakak bugil
Mas Andi, Pacar Kakak Ku Tersayang
Bayar hutang dengan memek , Cerita bokep bayar hutang
Foto bugil ayam kampus cewek kuliahan tubuh sexy
Cerita Dewasa Enak-Enak Dengan Wanita Malam
frida hot
Cerita sex menikmati memek frida yang nikmat
ngentot teman
Kenikmatan ketika aku sedang DIJARAH dua teman lelakiku bagian 2
mami Mertua sexy
Mami Mertua Tergila-gila Dengan Kontol Ku
Permainan Buas Mbak Santi Yang Bohay
Foto Tante Cantik Kesepian Ngangkang Sange
sekertaris cantik sange
Sex Appeal Yang Menggoda Dari Boss Ku
pacar cantik
Pengalaman sex ngentotin anak kost cantik
Foto Bugil Ngentot Memek Tembem Gif Bergerak
Foto Sex Cewek Mulus Memek Rapat
ttm hot
Hubungan sexs meskipun tanpa status
istri teman
Membalaskan Dendam Istri Teman Kantor Ku