Part #30 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

‘Three days of nightmare’ telah selesai. Aku yakin kalau aku bisa lulus ujian meskipun dengan nilai pas-pasan.

Di hari terakhir ujian aku keluar ruangan dengan perasaan lega. Seperti biasa aku selesai lebih dahulu daripada teman-temanku.

Karena bosan aku memutuskan untuk pergi ke warung bu Siti untuk jajan atau sekedar mengunjungi anakku dan ibu dari anakku.

Sesampainya di sana aku melihat ada keributan, ternyata suami dari bu Siti berada di sana dengan membawa dua orang temannya untuk melabrak bu Siti.

“Pokoknya bapak gak mau cerai! ibu harus cabut talak dari pengadilan, bapak gak mau tau…!!!” Bentak suami bu Siti.

“Sabar pak, jangan di sini ada pelanggan,” sergah bu Siti ketakutan.

“Alaaahhh,, persetan…!!!”

Dia lalu melayangkan sebuah tamparan ke wajah bu Siti. Bu Siti sudah bersiap menerima tamparan itu namun kemudian…

Setttt…

Tangannya berhasil aku tahan. Dia lalu menoleh ke arahku dan tampak terkejut, sepertinya dia mengenali aku yang telah membuat dia K.O di suatu malam.

“Hah,, kau lagi rupanya…!!!” ucapnya sekaligus menangkis tanganku.

Tampaknya dia cukup percaya diri karena membawa dua gundiknya.

“Sini! saya bakal kasih kamu pelajaran…!!!”

Tiba-tiba dia langsung melayangkan pukulan ke arah wajahku. Reflek aku tangkis dengan tangan kiriku lalu ku layangkan side kick ke arah lutut kirinya.

“Arkhhhh…” pekiknya menerima tendanganku.

Saat itu juga dia jatuh dengan posisi berlutut menyamping. Kedua temannya tidak terima dan langsung menyerangku secara bersamaan.

Brukkk…

Satu orang melayangkan pukulan ke arah wajahku sedangkan yang lain melakukan tendangan ke arah pinggangku.

Aku berhasil menangkis pukulannya namun karena pertahananku sudah aku gunakan, tendangannya berhasil bersarang di pinggangku dan membuatku oleng.

Namun sesaat aku dapat langsung menahan dengan bertumpu pada kaki kiriku.

Suami bu Siti kembali bangkit, karena melihat aku goyah dia langsung melakukan pukulan sekali lagi.

Karena pukulannya lamban dan lemah aku dengan mudah menangkisnya lalu sembari berbalik aku lancarkan serangan dwi hurigi ke arah wajahnya.

“Arkhhhh…!!!”

Sekali lagi dia tersungkur ke tanah. Dua orang temannya tidak terima lantas kembali melayangkan pukulan ke arah wajahku dan perutku.

Aku tak bisa menghindar dan…

Bukkkk….

Aku terkena pukulan dan sedikit goyah, mereka berdua memanfaatkannya untuk menyerangku bertubi-tubi.

Bakkk…bukkk…bakkk…bukkk…

Aku terkapar di atas lantai warung bu Siti dan menerima tendangan berkali-kali.

“Shit…!!! Gue gak bisa cover kalo di serang terus begini,” umpatku dalam hati.

Saat menerima semua serangan itu tiba-tiba salah satu dari mereka mundur, lalu disusul oleh yang lain.

Aku lihat apa yang terjadi. Ternyata ada salah satu pengunjung warung bu Siti yang membantuku dan melawan kedua orang itu.

Wussss….wussss….wussss…

Orang itu menghajar kedua gundik dari suami bu Siti dengan teknik silat. Saat dia berhasil mengalahkan keduanya, suami bu Siti tiba-tiba mengambil sebuah pisau yang tergeletak di atas meja dan berusaha menusuk orang itu dari belakang.

“Hiiiiyyyaaaatttt…!!!”

Seketika aku langsung berlari ke arah suami bu Siti dan…

Bruukkkkk….

Aku aku layangkan serangan dwi chagi tepat ke ayah dagunya hingga dia tersungkur.

Semua mata tertuju pada perkelahian kami. Suami bu Siti sudah tak berdaya. Dengan emosi yang meluap aku tindih dirinya dan bersiap untuk melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajahnya.

Namun tiba-tiba tanganku ditahan oleh seseorang. Saat berbalik aku lihat orang yang tadi menolongku.

“Sudah, dia sudah tidak berdaya, jangan diserang lagi,” ucap seorang lelaki paruh baya yang baru saja menolongku.

Aku menghembuskan nafas berat seraya melepaskan suami bu Siti. Beberapa saat berselang dua orang gundik suaminya bangkit dengan tertatih lalu membawanya pergi.

“Awas kalo kalian berani balik lagi…!!!” bentakku kepada mereka.

“Huuuu…!!!” teriak pengunjung yang lain kepada suami bu Siti dan kedua gundiknya saat pergi.

Setelah mereka pergi, orang yang tadi menolongku menatapku.

“Nak, teknik beladirimu bagus, tapi kamu harus bisa mengendalikan emosimu,” ucapnya sembari menepuk pundakku.

Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian dia berbalik dan kembali duduk di kursi menyantap makanan yang dia pesan seakan tidak terjadi apa-apa. Aku mengernyitkan dahiku.

“Orang ini sakti! udah tua begitu masih bisa ngalahin dua orang sekaligus,” pikirku.

Lalu aku dihampiri oleh bu Siti.

“Ran, ayo Ran masuk biar ibu obati.”

Bu Siti kemudian menarik tanganku untuk masuk ke dalam dapurnya. Di sana aku duduk di kursi kayu yang biasa aku duduki.

“Duduk bentar, ibu ambilin obat merah dulu,” ujarnya lalu mengambil obat.

“Gak usah bu gak papa kok, ibu layani pelanggan dulu.”

Aku menatap ke arah cermin kecil yang ada di dinding. Wajahku penuh lebam dan bibir sampingku mengeluarkan darah segar.

“Jangan ngeyel, kamu lebih penting buat ibu daripada pelanggan, sekarang duduk sini!” perintah bu Siti kepadaku.

Aku lalu duduk berhadapan dengannya dan dia mulai mengobati lukaku. Aku tatap wajahnya, dia terlihat khawatir sekali dengan apa yang aku alami tapi itu membuatku tersanjung.

Saat sedang mengobati tiba-tiba ada seorang pelanggan memanggil.

“Bu udah! Mau bayar!” serunya dari arah luar.

Bu Siti kemudian bangkit.

“Bentar ya Ran, kamu jangan kemana-mana,” suruh bu Siti.

Dia lalu pergi ke luar untuk menerima uang dari pelanggannya. Aku bangkit dari dudukku dan kembali berkaca pada cermin.

“Duh, wajah ganteng gue jadi bonyok begini,” pungkasku dalam hati.

Tak berapa lama bu Siti kembali masuk.

“Loh kok malah berdiri, sini ibu belum selesai ngobatinnya.”

Aku menoleh ke arahnya dan menyunggingkan senyuman, lalu aku hampiri bu Siti seraya menarik tubuhnya ke dalam pelukanku.

Kami saling berpelukan. Tanganku aku lingkarkan di pinggangnya, tangan bu Siti melingkar di leherku.

Sejenak mata kami saling berpandangan. Kedua dahi dan ujung hidung kami saling menempel.

“Randy gak papa kok bu, yang penting ibu dan anak kita baik-baik aja,” sergahku sembari mencoba mencium bibirnya.

Saat bibir kami hampir saling bertemu datang lagi gangguan.

“Bu! Beli!” seru seseorang dari arah depan.

Bu Siti menatapku.

“Duh bentar ya Ran, warung lagi rame.”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Namun saat dia berbalik aku tahan tangannya. Dia pun kembali menoleh.

Saat itu juga aku manfaatkan momen untuk mencium bibirnya dengan sangat dalam.

Cuppp…

Bibir kami berciuman cukup lama. Ada suatu kerinduan yang terpancar dari ciuman itu.

Entah kenapa aku seperti memiliki suatu kontak batin dengan bu Siti. Mungkin karena dia sedang mengandung anakku.

Lalu aku melepaskan ciuman kami. Saat itu wajah bu Siti memerah. Dia lalu mencubit perutku kemudian berlalu.

Aku kembali duduk di kursi, beberapa saat kemudian pintu belakang di ketuk.

“Ririn nih!” pikirku.

Aku kemudian membuka pintu itu.

“Loh Randy kok lu di sini? terus muka lu?” sergah Ririn penasaran.

“Tadi ujiannya gue selesai duluan terus gue ke sini karena laper, eh ada bapak lu sama temennya ngancem ibu lu biar dak dicerein, terus gue tolongin dan hasilnya kek gini,” jawabku panjang lebar sambil menunjuk wajahku yang lebam.

“Hah,, bapak gue tadi ke sini? terus gimana? lu gak papa?” tanya Ririn lagi panik.

“Gak papa gimana? nih buktinya.” Aku kembali menunjuk-nunjuk mukaku.

“Udah sini gue obatin.”

“Tadi udah diobatin sama ibu lu kok,”

Ririn menarikku ke arah kursi.

“Belum selesai,” balasnya singkat.

Dia kemudian mulai mengobatiku dengan obat yang sudah berada di atas meja. Bu Siti kembali masuk ke dapur.

“Eh, Rin kebetulan kamu udah dateng, kamu obatin Randy duly ya, ibu lagi ngelayanin pelanggan dulu,” sergah bu Siti sambil menyiapkan pesanan pelanggan.

“Iya bu, nanti kalo udah selesai Ririn bantu ibu,” jawab Ririn.

Bu Siti tidak menimpali karena sedang sibuk. Ririn kembali melanjutkan aktifitasnya mengobatiku.

“Maaf ya Ran, lagi-lagi lu harus kebawa masalah keluarga gue,” pungkasnya kepadaku.

“Tenang aja Rin, gue yang minta ibu lu cerein suaminya demi kalian, gue udah tau konsekuensinya kok.”

Ririn tersenyum kecut.

“Makasih Ran, harusnya lu gak perlu berbuat sejauh ini untuk keluarga gue.”

Aku kemudian memegang kedua bahunya.

“Denger ya Rin, gue gak mau lu disakiti terus sama bapak lu, gue sayang sama lu!” sergahku.

Ririn tampak menahan nafasnya.

“Sa…sayang?”

Ririn mengernyitkan dahinya. Aku mengangguk.

“Gue udah anggep lu sebagai adik gue sendiri.”

Deggg…

Tiba-tiba ekspresi Ririn berubah. Dia menunduk namun kemudian mengangguk pelan.

“Rin!” panggilku karena melihat dia melamun.

“Iya?”

“Lu kenapa?” tanyaku memastikan.

Dia menggelengkan kepala dengan senyum yang terkesan dipaksakan.

“Gak papa kok.”

Saat itu aku melihat matanya berkaca-kaca. Aku pun tak tahu apa yang terjadi dengannya.

“Ehh iya, gimana tadi ujiannya bisa?”

Ririn tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

“Bisa kok, gampang hehehe…”

Aku mencoba bercanda namun tampak garing. Dia tersenyum seraya mengacungkan jempolnya.

“Oh ya Rin, entar malem ada acara gak?” tanyaku kepadanya.

“Gak ada, emang kenapa?”

“Jalan yuk? kan udah free, sekaligus gue mau berterima kasih karena udah ngajarin gue pelajaran.”

“Emm, boleh deh tapi jemputnya bukan di rumah gue, di rumah sodara gue,” jawabnya.

Aku tahu karena dia sedang mengungsi di rumah saurada karena menghindari ayahnya.

“Oke, sharelok aja kaya biasa.”

Ririn hanya mengangguk. Kemudian setelah selesai dia bangkit.

“Ran, gue bantuin ibu gue dulu ya, kasian lagi rame.”

“Oke deh,” balasku singkat.

Ririn kemudian pergi. Karena bosan aku memainkan hpku, ternyata ada pesan dari Lisa.

“Woy Ran, lu dimana sih? Kok dicariin gak ada?” Isi pesan Lisa.

“Di warungnya Ririn, emang kenapa? lagi sange ya?” Aku membalas pesannya.

“Lu kali yang sange.”

“Lu lah!”

“Lu!”

“Lu!”

“Lu!”

Aku tidak membalas dan hanya membaca pesan itu. Kalau diteruskan tidak akan selesai.

Beberapa saat kemudian Lisa menelfonku.

“Randy…!!!”

“Apaan?”

“Anterin gue pulang!”

“Ah males.”

“Ah Randy gitu deh,” ucapnya dibuat manja.

“Bodo!”

“Entar gue kasih hadiah deh.”

“Hadiah apaan?”

“Biasa, hehehe…”

“Ah itu sih lu yang dapet hadiah.”

“Aaa…aaahhh Randy,” jawabnya manja.

“Hmm,, iya iya ahh…”

Aku pun menyetujuinya.

“Nah gitu dong, jemput gue di depan sekolah ya,”perintahnya kepadaku.

“Siap tante.”

Aku langsung menutup telfonku, kemudian bergegas menjemput Lisa.

Setelah sampai di depan gerbang Lisa sudah menyambutku.

“Loh muka lu kenapa? kok biru-biru gitu,” tanya Lisa heran.

“Make up,” jawabku singkat.

“Ih, cowok kok pake make up, mana gak rata lagi, tapi kalo diperhatiin kaya bonyok gitu,” sergah Lisa cerewet.

“Ya udah tau bonyok, pake nanya lagi,” pungkasku kesal.

“Loh kok bisa, kenapa? berantem ya?”

“Banyak nanya gue cium juga lu!” balasku sambil mengatupkan bibirnya dengan jariku.

Lisa hanya menepis tanganku.

“Udah cepet! keburu gue berubah pikiran nih!”

Dia memanyunkan bibir namun kemudian naik ke atas motorku. Aku pun langsung memacu motorku menuju ke rumahnya.

“Ran, berhenti bentar Ran!”

Tiba-tiba Lisa meminta berhenti di sebuah mini market.

“Mau apa sih?”

“Beli ice cream bentar, lu mau rasa apa?”

“Gak usah deh,” tolakku.

“Hadiah buat lu udah nganterin gue.”

“Mending hadiahnya ‘itu’ aja,” jawabku sambil menyelipkan jempol di kedua jariku.

“Tadi katanya gak mau.”

“Idih siapa bilang? ya mau lah.”

Lisa tak menjawab lalu pergi membeli ice cream di mini market itu. Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan.

Di tengah perjalanan, dari arah belakang Lisa menyodorkan ice cream di depan wajahku.

“Mau?” tawar Lisa kepadaku.

Aku lihat ice cream itu basah semua tanda Lisa sudah menjilati seluruh bagian ice cream itu.

Tanpa ragu aku gigit setengah bagian ice cream itu hingga hanya tersisa setengah. Lisa lalu menarik kembali ice itu.

“Yah banyak amat,” sungut Lisa.

“Hahaha…” Aku hanya tertawa.

Lisa kemudian mencubit pinggangku agak keras hingga aku hampir kehilangan keseimbangan.

“E…e…ehh Lis, gue lagi naik motor nih, entar nabrak.”

Aku berusaha menyeimbangkan motorku lagi.

“Bodo!” jawabnya acuh tak acuh.

Sesampainya di rumah Lisa, dia langsung turun.

“Makasih Ran!”

“Sama-sama, ya udah gue pulang dulu ya,” ujarku hanya untuk melihat reaksinya.

“Ya udah sana.”

Lisa kemudian berbalik hendak masuk ke rumah. Saat dia berada di pintu dia mendapati aku sudah di belakangnya.

“Loh kok masih di sini? katanya mau pulang?”

“Gak disuruh mampir, hehehe…”

Lisa menghembuskan nafas berat lalu menarikku masuk ke dalam.

“Lu masuk ke kamar dulu, entar gue nyusul.”

Lisa kemudian pergi ke dapur untuk mengambil cemilan. Aku lalu pergi menuju ke kamarnya.

Di dalam kamar Lisa, aku duduk di atas kasur. Aku lihat dia memiliki banyak koleksi dvd film (bukan bokep).

“Kalo gini sih gak perlu pergi ke bioskop kali gitu,” pikirku.

Beberapa menit kemudian Lisa datang dengan membawa wejangan.

“Lu punya koleksi flim banyak ya, gak bilang-bilang,” sergahku.

“Mau? Ambil aja, gue udah nonton semuanya,” jawab Lisa sambil duduk di atas karpet dengan bersandar pada bibir ranjang.

“Gue aja gak punya dvd, mau nontob gimana, hehehe…”

Lisa tidak menjawab lalu membuka salah satu cemilan yang ia bawa dan memakannya.

“Eh, kita nonton ini ya,” ujarku seraya menunjukan sebuah dvd film action.

Lisa hanya mengangguk kemudian aku mulai menyalakan dvd itu. Kami nonton bersebelahan sambil ngemil.

“Ran, liburan kemana?” tanya Lisa kepadaku.

“Belum tau nih, gak ada rencana.”

“Kamping yok, sekali-kali sebelum kita lulus dan pisah, lu pernah naik gunung belum?”

“Pernah lah, emang lu berani?” tanyaku meragukannya.

“Siapa takut,” balasnya percaya diri.

“Oke kapan?”

“Minggu depan gimana?”

“Boleh,” jawabku singkat.

Setelah percakapan itu kami sama-sama terdiam dan fokus ke film yang sedang kita tonton. Saat itu kami duduk dengan memeluk lutut kami.

Selesai film itu, Lisa lalu bangkit.

“Gue ganti baju dulu,” sergahnya.

Saat itu dia memang masih mengenakan seragam sekolah. Dia kemudian membuka lemari bajunya.

Setelah dia memilih baju, dia lalu membuka kancing bajunya satu per satu hingga terbuka seluruhnya.

“Ran, tolong bukain kancing bh gue dong,” pintanya kepadaku.

Aku kemudian menghampirinya dan melepaskan kancing bh yang ada di punggungnya.

Setelah kancing itu terlepas Lisa melemparkan bra itu ke bawah kemudian memakai kaos yang barusan diambilnya dari lemari.

Namun sebelum ia sempat memakainya aku merebut kaos itu dari dia. Secara otomatis dia berbalik ke arahku dengan bagian tubuh atasnya telanjang.

“Ran, balikin ihh…”

Lisa berusaha berebut kaosnya lagi. Aku sembunyikan kaos itu dibelakang badanku. Dia menjangkau kaosnya dengan posisi memelukku sehingga toketnya yang tak terbungkus itu menempel di dadaku.

Sejenak mata kita saling bertemu. Aku menyunggingkan senyuman lalu perlahan wajah kami saling mendekat dan…

Cuppp…

Bibir kami saling berciuman, aku melemparkan kaosnya ke sembarang tempat lalu ku lingkarkan tanganku di pinggangnya, dia melingkarkan tangannya di leherku.

Kemudian aku angkat tubuhnya lalu melemparkannya ke atas kasur.

Lisa tersenyum nakal kemudian memundurkan tubuhnya, lalu menggerakkan jari telunjuknya mengundangku untuk naik.

Aku lalu naik ke ranjangnya dan merangkak di atas tubuhnya. Sejenak kami saling berpandangan kemudian aku cium bibirnya lagi lalu bergerak ke lehernya.

“Shhhh…Rhann…!!!” desah Lisa.

Aku pagut lehernya, Lisa menengadahkan wajah hingga aku dapat dengan leluasa mengakses lehernya.

Tanganku aku gunakan untuk meremas toketnya yang menggantung. Kemudian ciumanku aku turunkan di sepanjang leher hingga dada.

Aku kenyot puting payudara Lisa kanan dan kiri secara bergantian. Tanganku aku selipkan di belakang bokong Lisa untuk peraih resleting celana osisnya.

Lisa membantuku dengan memiringkan sedikit tubuhnya lalu dengan mudah aku menurunkan celana itu hingga terlepas.

Terpampanglah memek Lisa yang bersih, putih, mulus tanpa bulu. Dengan cepat aku lepaskan seluruh pakaianku hingga telanjang bulat.

Setelah itu aku mendekatkan wajahku ke arah memeknya. Aku jilat klitorisnya lalu aku sedot-sedot hingga sedikit mengacung.

“Ouh Rann,, masukin Ran udah gak tahan…shhh…”

Kemudian aku arahkan kontolku yang sudah mengacung dengan keras ke arah memek Lisa.

Blesss….

Kontolku dengan mudah masuk ke dalam memeknya.

“Uhhh…Rhann,, kontol lu yang terbaik, penuh banget…shhhh…” ucapnya meresapi kenikmatan yang dia dapatkan.

Aku gerakan sedikit kontolku menggesek memeknya, mula-mula pelan lama kelamaan pompaanku semakin cepat dan cepat.

“Enggghhh…Rhann…ghueee…mhauu…kheluarrrr…”

Saat sedang panas-panasnya tiba-tiba aku mendengar engsel pintu dibuka. Reflek aku menoleh ke arah pintu.

Betapa kagetnya ada seorang wanita membuka pintu kamar.

“Lis, kamu tau Kunci mobil mamah gak?”

Ternyata itu adalah ibunya Lisa. Aku sontak diam mematung dalam posisi missionary dengan Lisa.

Lisa kelojotan karena aku yang tiba-tiba menghentikan gerakanku. Aku salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa, tetapi ibunya aku lihat santai seakan melihat anaknya sedang belajar bersama temannya dan bukan sedang ngentot.

“Uhhh…shhhh…aihhh…mamahhh…ghangguuu…ajhaaa…diii…lachiii…tiviii…” jawab Lisa sambil menahan kenikmatan.

“Ya udah,” balas ibunya singkat lalu kembali menutup pintu.

Aku sempat melihat sorot mata ibunya mengarah ke selangkangan kami yang sedang bersatu.

Setelah pintu tertutup aku kembali menoleh ke arah Lisa. Dia terlihat melototiku.

Plakkk…plakkk…

“Aduh…!!!”

Dua kali dia menampar pipiku.

“Jangan berenti Randy…!!! lu hobi banget bikin orang kentang ya…!!!” omel Lisa kepadaku.

“Dasar, sakit tau…!!!” omelku membalasnya.

Aku kemudian kembali menggoyangkan pinggulku memompa memeknya. Aku tusuk dengan keras menghentak-hentak hingga tubuhnya terguncang.

“Awwhhh…Rhann…ngiluuuu…!!!” desah Lisa.

Aku tak memperdulikannya. Siapa suruh menamparku. Lalu gerakan pompaanku semakin keras dan cepat.

Beberapa saat kemudian dia akan mencapai klimaks.

“Ouhh…Rhann…awwwhhh…!!!”

Srrr…srrr…srrr…srrr…

Lisa mencapai klimaks untuk yang pertama kalinya. Aku pompa terus meskipun kakinya menahan bokongku.

“Awwhhh…Rhannn…stoppp…dhulluu…Rhann,” pinta Lisa kepadaku.

“Bodo,” jawabku acuh.

Lisa pun hanya pasrah menerima hujaman kontolku yang tak henti-henti itu. Berkat ilmu dari bu Siti aku dapat mengontrol kapan aku ingin orgasme.

Aku terus memompanya hingga Lisa mendapatkan orgasme yang kedua.

“Aduuhhh…Rhann…iyaaa…iyaaa…amphuuunnn…amphunnn…Rhann…”

Lisa memohon kepadaku untuk menghentikan pompaan kontolku di memeknya.

“Tadi katanya jangan berhenti,” sindirku kesal karena tadi aku ditamparnya.

“Ahhh…!!!”

Tiba-tiba tubuh Lisa menjadi lemas dan diam tidak bergerak sama sekali. Aku lalu menghentikan pompaanku.

“Lis! Oyyy Lis!” panggilku sembari menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Lisa tetap tidak bergerak. Saat itu aku jadi panik sekali. Aku tarik tangannya untuk bangkit tetapi kemudian dia jatuh lagi.

“Lis! bangun Lis! jangan tinggalin gue!” pungkasku sedikit keras.

Bisa gawat kalau dia tidak bangun lagi. Aku bisa dituntut dengan pasal pembunuhan.

Aku angkat tubuhnya dengan kontol yang masih menancap di memeknya hingga terduduk di pangkuanku. Kepalanya lemas bersandar di bahuku.

“Bangun dong Lis, maafin gue, gue janji gak akan ngelakuin itu lagi, gue sayang sama lu, gue cinta sama lu, jangan tinggalin gue plisss,” sergahku dengan ekspresi merengek.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba…

“Hehehehe….”

Aku langsung memasang wajah datar mendengar Lisa tertawa. Kulepaskan pelukanku darinya. Aku lihat dia cengengesan di atas pangkuanku.

“Ah, lu mah becandanya kelewatan, hampir aja gue jantungan,” protesku kepada Lisa.

“Hehehe,, habisnya lu baperan amat, cuma ditampar dikit doang ngambek.”

“Dikit apaan, sakit tau…!!!” jawabku masih kesal dengannya.

Sejenak kami saling terdiam dengan posisi yang sama.

“Eh, tadi beneran lu sayang dan cinta sma gue?” tanya Lisa tiba-tiba.

Aku menatap matanya.

“Kan gue udah pernah bilang sama lu.”

“Maksudnya sekarang,” ujar Lisa dengan nada serius.

“Dikit, hehehe…”

“Iiihhhh…!!!” Lisa mencubit pipiku.

“Kalo lu?” tanyaku balik.

Lisa tampak mengatupkan bibirnya.

“Perasaan gue masih tetep sama,” jawabnya jujur.

Aku tersenyum sumringah.

“Nah kan, ge’er kan, huuuu…” timpalnya lagi sambil mendorong bahuku.

Wajahnya memerah seakan menahan malu. Aku kemudian mencium pipinya.

“Lu baik-baik ya kalo kita udah gak sama-sama lagi,” ujarku dengan ekspresi serius.

Lisa hanya mengangguk. Matanya tampak sedikit berkaca-kaca.

“Aihhh,, kok lu jadi mellow gini sih,” ucapnya seraya mendorong wajahku hingga aku rebahan.

Sekilas Lisa menghapus air matanya yang keluar.

Mungkin setelah kelulusan ini, kita akan menjalanin kehidupan kita masing-masing.

Bersambung

Menikmati Memek Mulus Tante Meli
Foto ABG masih lugu tubuh putih mulus genit di ranjang
Menikmati memek janda muda berjilbab
mami Mertua sexy
Mami Mertua Tergila-gila Dengan Kontol Ku
cantik pembantu bugil
Tidur Bareng Sama Pembantuku Yang Lugu Bagian Satu
cewek sange ngentot
Bercinta Dengan Cowok Yang Masih Perjaka
spg cantik
Cerita ku ngentot pertama kali dengan seorang SPG
cewe pantai parangtritis
Cerita sex di pantai parangtritis yang tak terlupakan
janda gersang
Ngentot Janda Gersang Yang Butuh Kehangatan
Cerita dewasa menjadi penikmat istri orang
Foto bokong gede bule cantik lagi telanjang
Petualangan Sexs Liar Ku Season 1
Booking Cewek Bispak Spg Rokok Yang Cantik
500 foto chika bandung bugil telanjang di hotel sambil ngangkang
terjerumus sexs bebas
Kehidupanku yang terjerumus sexs bebas dan dunia malam
Polwan mesum
Bercinta Dengan Polwan Cantik Dan Sexy