Part #31 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Setelah kami melakukan seks di siang hari aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak klimaks saat itu karena keburu bad mood karena prank yang dilakukan oleh Lisa yang berpura-pura pingsan.

Dia tak mengantarku keluar rumah dan memilih untuk rebahan di atas ranjang karena merasa linu di area memeknya setelah sebelumnya aku sodok dengan cepat dan tanpa henti.

Saat aku akan keluar rumah tiba-tiba ibu Lisa keluar dari kamarnya hanya menggunakan handuk yang melilit tubuh sambil berteriak-teriak.

“Mas…mas tolong ada tikus masuk ke kamar…!!!” pekiknya.

Aku buru-buru masuk ke kamarnya untuk membantu menangkap tikus itu. Di dalam kamar aku mencari-cari tikus yang dia maksud.

Saat aku mencari di bawah ranjang aku melihat tikus itu berlari ke pojok ruangan.

“Tante ada kain gak?”

Aku bertanya tanpa menoleh karena takut tikus itu kabur dan aku kehilangannya.

“Nih,” balasnya sembari memberikan sebuah kain ke tangan kananku.

Setelah mendapatkan kain darinya aku langsung menangkap tikus itu dengan menggunakan kain.

Saat tikus itu berada di dalam kain butu-buru aku berlari menuju jendela dan langsung melemparkan tikus itu keluar.

Setelah tikus itu berhasil ku buang aku kemudian berbalik. Betapa terkejutnya aku melihat ibu Lisa dalam keadaan telanjang bulat.

Saat aku lihat kain yang aku gunakan untuk membuang tikus tadi, ternyata itu adalah handuknya.

Aku sempat menelan ludah melihat tubuh telanjang ibu Lisa yang tepat berada di hadapanku. Aku tak bisa berkata apapun.

“Syukur lah tikusnya udah dibuang, huft…” ucapnya sambil mengelus dadanya karena lega.

Aku salah tingkah saat itu lalu memberikan handuk itu kembali. Dia menerima handuk itu namun langsung di lemparkan ke keranjang baju.

“Udah kotor.”

Dia dengan cuek berjalan ke arah meja riasnya lalu membuka tas dan mengambil dompet. Dikeluarkannya uang seratus ribuan.

“Nih buat kamu, makasih ya udah bantuin tante nangkep tikus itu,” ujarnya sembari memberikan uang seratus ribu dengan masih dalam keadaan telanjang.

Aku heran kenapa dia bisa sesantai itu saat bertelanjang bulat di depan orang asing, seperti hal itu bukan masalah besar baginya.

“E…e…enggak usah tan,” tolakku sambil wajah tertunduk.

Namun mataku sedikit melirik ke arah selangkangannya yang ditumbuhi bulu tipis.

Dia tidak menimpali dan langsung memasukkan uang itu ke saku baju seragam osisku.

Kemudian dia berbalik menuju lemari. Sepertinya dia akan mengambil baju yang akan dipakainya.

Bodohnya aku masih diam menyaksikan dirinya yang dalam keadaan telanjang itu.

Dibukanya lemari itu lalu dia membungkuk untuk mencari sesuatu di lemari bagian bawahnya.

Posisinya tepat berada di depanku sehingga aku dapat melihat bokongnya meregang dan menampakkan lubang pantatnya yang mengkerut dan bibir vaginanya yang tembem.

Dia tekuk lututnya secara bergantian hingga membuat bibir memeknya bergesekan. Dia tampak seperti sengaja melakukan itu di depanku.

Setelah dia mendapatkan sesuatu yang dicarinya, dia kemudian bangkit.

“Loh kok masih di sini?” tanyanya membuat aku terkejut.

“Eh iya tante, kalo gitu saya pamit dulu.”

Aku kemudian menundukkan badanku untuk berpamitan kemudian pergi. Aku heran mengapa dia benar-benar cuek saat telanjang di hadapanku.

Tak aku pikirkan lagi, aku lalu menaiki motorku dan pulang ke rumah.

Skip…

Pada malam hari aku bersiap-siap untuk pergi ke tempat saudara Ririn karena aku sudah janji akan menemuinya pada malam itu.

Tapi sebelum pergi ke rumah saudaranya aku sempatkan mampir ke warung bu Siti.

Di sana seperti biasa aku masuk melalui pintu belakang warung. Aku lihat dia sedang memasak nasi goreng pesanan pelanggan.

Dia tampak tak menyadari kehadiranku karena suara percikan minyak goreng di atas wajan.

Aku mendekati bu Siti lalu seketika aku memeluknya dari belakang.

“Eh…!!!”

Bu Siti terkejut sesaat, namun setelah mengetahui bahwa itu adalah diriku dia kembali melanjutkan memasak.

“Kamu Ran, ngagetin aja,” sergah bu Siti.

“Hehe,, kangen bu.”

“Kangen sama siapa hayo…”

“Kangen sama anak Randy, hehehe…” ujarku sembari mengelus-elus perutnya.

“Hmm,, sama ibunya enggak?”

“Ya kangen juga dong bu.”

Aku sedikit memiringkan wajahnya lalu kucium bibirnya dengan lembut. Dia balas ciumanku dengan menjulurkan lidahnya hingga masuk ke dalam mulutku.

Langsung ku sedot lidahnya itu dengan penuh nafsu. Kami mainkan lidah kami seakan lidah kami saling bergulat. Sesaat kemudian bu Siti melepaskan ciuman kami.

“Ibu nyiapin pesenan dulu buat tamu, kamu mau makan apa?”

“Randy ke sini bukan buat makan kok bu, cuma kangen aja sama ibu, lagian Randy cuma bentar doang,” pungkasku menimpali pertanyaannya.

“Emang kamu mau kemana?”

“Mau ketemu Ririn bu, hehehe…”

Bu Siti tersenyum.

“Ealah, bagus dong kalo gitu, siapa tau kamu berubah pikiran jadi suka sama Ririn kan,” balas bu Siti.

“Randy kan sukanya sama ibu,” jawabku singkat.

“Ya udah kalo gitu nikah aja sama ibu yah.”

“Hahaha,, ibu becanda aja.”

Aku tertawa menganggap hal itu cuma gurauan.

“Siapa bilang becanda, ibu serius kok.”

Ekspresi wajahku langsung berubah.

“Maksudnya gimana bu?” tanyaku penasaran.

“Nikah siri, bentar lagi kan ibu mau cerai sama suami ibu, ya biar ibu merasa punya suami waktu anak kita lahir nanti.”

Aku bingung harus berkata apa pada saat itu, karena aku tidak tahu sama sekali tentang hukum nikah siri.

“Tapi kalo kamu gak mau juga gak papa kok,” timpal bu Siti lagi.

“Randy pikir-pikir dulu deh bu.”

Bu Siti kemudian memindahkan nasi goreng itu ke piring dan bersiap untuk mengantarkannya ke pelanggan yang berada di depan.

“Ya udah kalo gitu, ibu mau anter makanan dulu ke depan, kamu katanya mau nemuin Ririn.”

Bu Siti sudah memegang dua piring di tangannya bersiap untuk mengantarkan makanan kepada pelanggan.

Aku kemudian menunduk ke arah perut bu Siti lalu menciumnya.

“Baik-baik yah sayang, papah pergi dulu.”

Lalu aku bangkit dan mencium bibir bu Siti untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi.

Setelah itu aku menaiki motorku yang ku parkir dekat warung lalu aku pergi ke tempat yang sudah diberitahukan oleh Ririn.

Saat sampai di sana, dia sudah menungguku. Aku sempat terkejut karena saat itu dia berdandan dengan cantik membuatku pangling.

Ririn tampak menunduk malu, di belakangnya ada seorang wanita yang ku tebak adalah saudaranya sedang memegang bahu Ririn.

Dia tersenyum kepadaku lalu menundukkan kepala kemudian masuk ke rumah meninggalkan Ririn dan diriku.

“R…Ran, dandanan gue berlebihan ya?” ucapnya sedikit gugup.

Aku tersenyum seraya mendekatinya.

“Lu cantik banget malam ini,” jawabku sembari menggandeng tangannya untuk pergi.

Kami lalu menaiki motorku dan pergi jalan-jalan malam itu. Saat itu aku memacu motorku ke food court yang pernah aku datangi bersama Lisa.

Sesampainya di sana kami turun dari motor lalu ku gandeng tangan Ririn masuk ke tempat itu.

“Ran, cari tempat lain aja, jangan di sini.”

Ririn menahan tanganku untuk tidak masuk.

“Emang kenapa?”

“Malu Ran,” jawabnya singkat.

“Malu kenapa? lu orang paling cantik yang ada di sini.”

Ririn tidak menjawab, tetapi akhirnya dia mau masuk ke dalam. Setelah mendapatkan tempat aku kemudian bersiap untuk memesan makanan.

“Lu mau pesan apa?” tanyaku kepada Ririn.

“Air putih aja.”

Ririn menengok kanan dan kirinya. Sepertinya dia masih minder dengan orang-orang di sekitar.

“Gue yang pesenin.”

Aku kemudian berjalan ke tenan-tenan yang ada di situ memilih makanan untuk dipesan. Setelah beberapa menit memilih makanan aku kemudian kembali ke tempat Ririn duduk.

Saat itu aku melihat ada dua gadis yang sedang berbicara dengan Ririn, tetapi gestur tubuhnya tampak tidak bersahabat. Ririn tampak menunduk.

Lalu aku berjalan mendekati mereka.

“Ihh, ada anak kampung nyasar dimari, sadar diri dong, orang kaya lu tuh gak pantes di sini, pantesnya di warung lesehan pinggir jalan, hahaha…” ejek orang itu kepada Ririn.

Saat itu aku berada di belakang mereka.

“Ada apa ini yah?” ujarku santai.

Kedua gadis itu menoleh ke arahku. Saat mengetahui diriku menyapa mereka, mereka langsung melemparkan senyuman.

“Eh,, hai kak, gak papa kok, ini ada anak kampung nyasar,” ucap salah satu gadis menyapaku.

Aku hanya manggut-manggut. Tiba-tiba gadis itu menyodorkan tangannya kepadaku.

“Kenalin namaku Lia.”

Aku menjabat tangannya.

“Randy.”

Gadis sebelahnya ikutan menyalamiku.

“Sari.”

“Randy.”

Setelah itu aku lepaskan tanganku pada gadis itu.

“Oh ya kakak duduknya dimana? boleh gabung?” tanya gadis yang bernama Lia.

Aku tersenyum kecut.

“Gue duduk di sini,” jawabku sembari duduk di hadapan Ririn yang masih satu meja.

Kedua gadis itu tampak terkejut. Lia melongo sambil tangannya menutup mulutnya sendiri.

“K…kok di sini kak?”

“Iya kan gue dateng bareng pacar gue.”

Aku tersenyum melihat wajah terkejut mereka. Sepertinya mereka jadi tidak enak padaku karena sudah menghina Ririn.

“E…gitu yah, ya udah maaf ya kak udah ganggu.”

Aku hanya mengangguk, kemudian mereka pergi dari situ dan duduk di tempat yang tidak terlalu jauh dari kami.

Ririn tampak sedikit melirik ke arah mereka.

“Siapa itu Rin?” tanyaku kepadanya.

“Temen SMP,” jawabnya singkat.

“Bukan temen SMP, tapi anak yang kebetulan satu SMP sama lu,” timpalku.

Ririn kembali melirik dua gadis itu. Aku juga sempat menoleh ke arah mereka. Saat itu mereka masih melihat ke arah kita dengan tatapan sinis sambil berbisik-bisik.

“Udah gak usah dipikirin orang kaya mereka, percaya sama gue, lu orang paling cantik di sini.”

Ririn tak menanggapi omonganku. Beberapa saat kemudian pesanan kami tiba. Kami menyantap makanan dengan kesunyian.

Waktu itu aku memesan seafood untuknya. Tampaknya dia belum terbiasa dengan makan itu sehingga membuat mulutnya belepotan.

Aku kemudian mengelap makanan yang ada di samping bibirnya. Ririn melotot kepadaku dan heran dengan yang ku lakukan.

Setelah mengelap kemudian aku jilat sisa makanan itu. Ririn salah tingkah menerima perlakuanku. Keringat mulai mengucur di keningnya seperti biasa.

Tanpa ragu aku lap keringat itu menggunakan telapak tanganku. Ririn tampak malu lalu menepis tanganku. Aku hanya tersenyum melihat dirinya.

Selesai menyantap makanan di situ, kami lalu pergi. Sejenak aku lirik dua gadis yang tadi membuli Ririn.

Mereka ternyata masih melihat ke arah kita. Mengetahui aku menoleh ke arah mereka, mereka buru-buru mengedarkan pandangannya ke arah lain.

Setelah dari situ, kami kembali pergi jalan-jalan. Ririn tampaknya lebih suka di outdoor daripada indoor, maka aku ajak dia ke suatu taman dekat pusat kota.

Di sana kami membeli arum manis yang dijual di pinggir jalan. Ririn memakan arum manis itu dengan lahap. Dia sepertinya lebih menyukai itu daripada makanan yang dia makan di foodcourt tadi.

Sejenak kami duduk di bawah pohon beringin. Aku memberikan arum manisku karena miliknya sudah habis.

Aku memandanginya memakan arum manis itu sambil senyum-senyum. Sesaat kemudian mata Ririn melirik ke arahku yang sedang memandanginya.

“Ih, Randy ngapain sih liatin gue terus,” protes Ririn kepadaku.

Wajahnya memerah menahan malu karena dari tadi dia makan tanpa ada tata krama sambil aku perhatikan.

“Rin, lu cantik banget deh malam ini,” sergahku kepadanya.

“Apaan sih,” jawabnya singkat.

Wajahnya tampak sebal mendengar gombalanku itu, namun ada senyum yang tersungging di balik wajah sebalnya itu.

Aku hanya tersenyum lalu mendekatkan dudukku ke arahnya. Ririn lalu menyodorkan arum manis itu yang tinggal tersisa sedikit kemudian aku menggitnya dan ku makan.

“Ran!” panggilnya.

“Iya?”

“Setelah lulus lu mau kemana?” tanya Ririn kepadaku.

“Cari kerja lah.”

“Gak minat kuliah?”

Aku tertawa kecil.

“Gue gak minat kuliah, lagian gak ada gunanya juga, lu tau kan otak gue sekecil apa,” timpalku sembari memberi gambaran betapa kecilnya ukuran otakku.

“Jangan pesimis gitu, kalo lu punya niat dan semangat, gak ada yang gak mungkin.”

“Yah emang gak punya,” jawabku santai.

Ririn masih meneruskan makannya.

“Kalo lu, habis lulus lu mau kemana?” tamyaku balik.

“Kalo gue dapet beasiswa gue mau nerusin kuliah, tapi kalo gak dapet yah nerusin usaha ibu gue, hehehe…”

Ririn tampak tersenyum kecut.

“Emang cita-cita lu apa?”

“Cita-cita gue pengin jadi dokter, kalo gak ya yang berhubungan sama kesehatan gitu.”

“Wah cocok tuh, lu juga berbakat di bidang itu.”

“Tau darimana?”

“Dulu waktu lu perban tangan gue, habis itu gue langsung sembuh,” ujarku sambil memberikan jempolku.

“Ah, itu sih semua orang juga bisa.”

Aku kemudian merangkulnya dan menepuk bahunya beberapa kali.

“Rin, kalo lu yakin sama cita-cita lu, lu harus tetep kejar, gak usah ragu, gue akan selalu dukung lu, tunjukin sama orang-orang yang sering ngebuli lu kalo lu bisa sukses, lu bisa di atas mereka,” pungkasku panjang lebar.

Ririn tersenyum seraya mengangguk.

“Makasih ya Ran, kalo gak ada lu, gue gak tau harus ngapain.”

Aku lalu memeluknya dari samping.

“Oh ya Ran, lu inget gak pertama kali kita ketemu? waktu itu gue lagi di buli sama Siska dan Mirna.”

Aku mengernyitkan dahiku seraya mengingat-ingat kejadian yang sudah lama terjadi.

Kejadiannya hampir sama persis dengan yang terjadi di foodcourt tadi.

Flashback…

Kelas 1 SMA

Aku sedang berjalan menuju motorku yang aku parkirkan di parkiran motor sekolah. Tiba-tiba aku melihat tiga orang anak perempuan di pojok parkiran.

Salah satu perempuan itu sedang menunduk dan bersandar ke tembok. Dua orang lagi sedang menghadap ke gadis itu sambil berkacak pinggang.

“Eh dia bukannya anak yang punya warung belakang sekolah ya?” tanya salah satu gadis yang bernama Siska pada temannya Mirna.

“Iya deh, pantesan bau rokok, yang dateng ke warungnya kan rata-rata kuli bangunan semua,” jawab Mirna dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah untuk menghilangkan bau.

“Kok bisa ya anak kaya gini masuk ke sekolah kita, gila sih bikin suasana sekolah jadi gak enak aja, tiap kali dia lewat pasti bau rokok, huekkk…” ujar Siska sambil seolah-olah muntah.

Aku kemudian mendekati mereka.

“Woy, mau ngapain kalian berdua…!!!” seruku kepada mereka.

Mereka berdua langsung menoleh ke arahku.

“Apa sih? siapa sih lu? ikut campur aja!” balas Siska tidak terima.

“Meskipun dia anak pemilik warung tapi dia lebih berguna daripada kalian anak manja yang bisanya cuma minta-minta sama orang tua kalian…!!!”

“Sok tau lu, emang lu tau keluarga gue…!!!”

“Lu juga gak tau keluarga dia kan? tapi lu sok ngejudge kalo lu merasa lebih baik dari dia…!!!”

Kami saling melotot satu sama lain. Bibirnya bergetar, tampak emosinya sudah diubun-ubun.

Lalu tiba-tiba Siska melayangkan sebuah tamparan ke arah pipiku. Dengan sigap aku tangkap tangannya.

Deppp…

Sejenak kami masih saling melotot. Lalu kemudian dia melepaskan tangannya yang aku genggam.

“Awas, jangan pegang-pegang gue, jijik…!!!” ujarnya lalu pergi begitu saja.

Setelah dia pergi aku menoleh ke arah gadis itu.

“Lu gak papa kan?”

Dia hanya mengangguk pelan.

“Nama gue Randy, nama lu siapa?” tanyaku kepadanya.

“Ri…Ririn,” jawabnya ragu.

“Oke Ririn, salam kenal yah.”

Lagi-lagi dia hanya mengangguk.

“Oh ya katanya lu punya warung belakang sekolah ya, gue boleh mampir dong.”

“Bo…boleh.”

“Oke yuk!”

Aku menarik tangannya dan pergi ke warung milik ibunya itu, dan sejak saat itu aku menjadi langganan warung Ririn, terlebih karena aku tidak pernah sarapan di rumah.

Flashback End…

Aku senyum-senyum mengingat kejadian itu.

“Hehehe,, masih inget aja lu,” ujarku menimpalinya.

“Gue gak akan pernah lupa sama kejadian itu, gue gak tau apa yang terjadi kalo waktu itu lu gak dateng.”

“Itu namanya takdir, dan setelah ini gue harap ada ‘gue’ yang lain yang bisa ngelindungi lu.”

Ririn mengangguk lalu tersenyum.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba hujan turun. Kami lalu berlari menuju ke motorku untuk bergegas pulang. Aku kerudungi Ririn dengan jaketku. Di dalam perjalanan hujan semakin deras.

“Ran, kita mampir ke rumah gue dulu aja,” ucap Ririn memberi saran karena lebih dekat dengan rumahnya ketimbang rumah saudaranya.

“Tapi bapak lu gimana?”

“Biasanya bapak gue gak di rumah, tapi kalo ada ya kita pergi aja,” timpal Ririn lagi.

Aku pun langsung memacu motorku dengan sangat cepat, karena aku tak membawa mantel kami jadi basah kuyup.

Sesampainya di rumah Ririn, ternyata ayahnya memang tidak berada di rumah. Aku buru-buru menepikan motorku lalu masuk ke rumahnya.

“Masuk Ran, habis itu mandi biar gak pusing.”

“Tapi gue gak bawa ganti.”

“Pake baju bapak gue dulu,” pungkasnya sembari memberikan handuk.

Aku lihat dia tampak kedinginan.

“Lu dulu aja,” ujarku singkat.

“Lu yang hasah kuyup gitu, kalo gue bawahnya doang, atasnya cuma dikit karena pake jaket lu.”

“Ya udah kita mandi bareng aja,” saranku.

“Hah?”

Ririn terkejut mendengar saranku.

“Pake baju aja, gak usah dilepas yang penting kepala kesiram air.”

Ririn sempat menimbang-nimbang lalu akhirnya dia setuju. Kami masuk ke kamar mandinya bersama-sama.

Lalu kami langsung mengguyur tubuh kami berdua. Ririn masih dengan pakaian lengkap aku hanya mengenakan boxer saja dengan tubuh bagian atas telanjang.

Saat itu Ririn mengenakan kaos dan celana pendek. Karena basah kaosnya mengecap bagian tubuhnya, membuat bra yang dipakainya terlihat menembus kain.

Setelah selesai kami keluar dari kamar mandi. Ririn mengantarku ke kamar ayahnya untuk mengambilkan baju untukku.

“Nih bajunya sama celananya, gue ganti baju dulu ya,” pungkasnya lalu pergi ke kamarnya sendiri.

Aku kemudian mengganti pakaianku dengan milik ayahnya. Baju ayahnya itu aneh, lebar bajunya lebih panjang daripada panjang baju itu dari bawah ke atas.

Tipikal baju untuk orang gemuk dan pendek sedangkan aku memiliki badan proporsional dan tinggi.

Saat dipakai aku jadi seperti banci jablay yang mangkal di pinggir jalan dengan bagian pusarku terlihat karena saking pendeknya.

Setelah selesai aku keluar dari kamar ayahnya. Saat itu Ririn juga selesai berganti pakaian.

Saat dia melihatku dia tampak terkejut lalu tertawa kecil.

“Hehehe, lu keliatan seksi banget pake itu Ran!” ujar Ririn bercanda.

“Seksi apanya, kaya banci kaleng begini,” sungutku.

Aku kemudian diajak Ririn masuk ke kamarnya. Di kamarnya dia duduk di kursi belajarnya sambil masih mengelap rambutnya yang basah.

Lalu aku mendekatinya, saat tepat berada di belakangnya aku pandang dia dari arah cermin kecil yang tersanding di atas meja.

Aku cium ubun-ubunnya yang basah. Ririn kemudian menghentikan aktifitasnya.

Aku sandarkan daguku di bahunya. Dia sedikit menoleh ke arah wajahku.

“Kalo diperhatiin lu itu cantik Rin, cuma lu nya aja yang gak sadar.”

Mukanya memerah mendengarku mengatakan itu.

“Maaf gue gak bisa balas perasaan lu, tapi dari lubuk hati gue yang paling dalam, gue sayang sama lu, gue gak mau lu sakit, sedih, gue mau lu bahagia, karena lu pantes dapetin itu,” jelasku panjang lebar.

“Iya Ran, gak papa gue ngerti kok, kenal sama lu aja udah kebahagiaan terbesar dalam hidup gue, gue beruntung banget bisa punya sahabat kaya lu.”

Aku lihat mata Ririn berkaca-kaca. Aku tersenyum dan mengangguk lalu ku peluk dia dari belakang.

“Ran!”

“Iya?”

“Boleh gak kalo…” ucapnya tertahan.

“Boleh kok,” jawabku seenaknya.

“Kan gue belum selesai.”

“Buat lu apa aja boleh kok, khusus malam ini hehehe…”

“Kalo gitu gue mau dicium,” pungkasnya mantap.

Aku tak menjawab melainkan mendekatkan bibirku ke bibirnya dan…

Cuppp…

Bibir kami saling menempel. Ririn menatapku sambil berciuman, tampaknya dia sudah bisa sedikit mengalahkan nervesnya, terlihat dia sangat rileks.

“Hmmm….cppp…shhh…cppp…”

Ririn bangkit sambil masih berciuman, lalu aku didorong ke ranjang hingga aku terduduk.

Kemudian tanpa ku duga dia naik ke atas pangkuanku lalu kembali menciumku. Terakhir kali kami melakukan saat Ririn berada di pangkuanku itu aku sudah hampir melucuti pakaiannya.

Namun saat itu berakhir dengan buruk dan aku tak mau hal itu terjadi lagi.

Aku tak tahu mengapa Ririn saat itu begitu berani melakukannya. Dia menciumku dengan buas.

Bibir bawahku dilumatnya lalu lidahnya dimasukkan ke dalam mulutku yang langsung ku sambut dengan lidahku.

Saat itu dia tidak mengenakan kaos melainkan kemeja dengan kancing baju di bagian depan.

Kemudian dia berinisiatif untuk menjilat seluruh bagian wajahku seperti yang pernah ku ajarkan. Maka aku nikmati saja momen itu.

Setelah selesai Ririn melepaskan bibirnya dari wajahku. Betapa terkejutnya aku, ternyata kancing baju Ririn sudah terbuka seluruhnya sehingga menampakkan toketnya dengan pembungkus bra dan perutnya yang kembang kempis.

“Rin, lu mau ngapain Rin?” tanyaku lirih.

Ririn hanya mengangguk pelan tak tahu apa yang dimaksudnya. Kemudian dia mulai melepas kemeja itu dari tubuhnya, seketika itu aku tahan.

“Rin, lu gak perlu ngelakuin itu,” ucapku menahannya.

“Gue udah mikirin ini baik-baik kok, dan ini keputusan gue,” jawabnya meyakinkanku.

“Lu yakin? gue gak mau kalo lu sampe nyesel di kemudian hari.”

Ririn menggelengkan kepalanya seraya melanjutkan melepas kemejanya hingga jatuh ke lantai.

Aku tatap dadanya yang tidak terlalu besar itu. Terlihat bulir-bulir keringat yang jatuh dari lehernya cukup banyak yang menandakan dia sedang gugup.

Aku maklumi karena itu adalah pengalaman pertamanya bertelanjang dada di hadapan lelaki.

“Rin, gue boleh…” tanyaku tertahan.

“Boleh, malam ini gue sepenuhnya punya lu,” jawabnya penuh keyakinan.

Tanpa ragu lagi aku cium dadanya dan merasakan keringat Ririn di wajahku. Aku hirup aroma tubuhnya yang memabukkan itu.

“Ouhhh…shhh…” desah Ririn pendek.

Kemudian aku jilati keringat Ririn, terasa asin namun begitu nikmat di lidahku. Tanganku meraih pengait bhnya di bagian belakang hingga terlepas dan…

Boom…

Toketnya bebas menggantung. Ririn menutupi buah dadanya dengan kedua tangan. Aku lirik wajahnya tampak merah padam.

Aku sengaja tak menyingkirkan tangan Ririn yang menutupi payudaranya. Kalau dia mau dia akan melepaskan tangannya dengan sendirinya.

Kemudian aku cium punggung tangannya yang menutupi toket itu bergantian kanan dan kiri.

Sedikit demi sedikit dia turunkan tangannya hingga munculah puting berwarna merah muda mencuat kecil, benar-benar belum pernah dijamah sama sekali.

Aku cium buah dadanya bagian atas lalu merambat sedikir ke bawah. Ku tatap sejenak puting itu lalu ku lirik wajah Ririn meminta persetujuan.

Aku lihat dia memejamkan mata Sambil menggigit bibir bawahnya. Aku yakin dia sudah bersiap-siap untuk menerima cumbuanku.

Kemudian dengan lembut ku kecup puting payudaranya.

“Awngghhh…..!!!”

Kurasakan tubuhnya mengejang dengan keras merasakan puting payudaranya disentuh oleh lelaki untuk pertama kalinya.

Ririn menjambak rambutku sedikit keras. Saat itu tubuhnya sangat kaku. Kurasakan ada tetesan air yang jatuh ke rambutku. Rupanya keringat yang menetes dari dagunya.

Sengaja tak aku gerakan bibirku menunggunya agar sedikit rileks. Setelah badannya tidak terlalu kaku lagi aku kemudian menjulurkan lidahku menyentuh putingnya.

Lalu aku gerakan lidahku mengitari putingnya. Dia kembali mengejang. Sepertinya puting Ririn sangat sensitif.

“Shhh…Rhann…emphhh…”

Setelah itu aku kembali menggerakan lidahku lalu aku sedot putingnya agar sedikit mencuat keluar.

“Ouhhh…shhh…Rhann…mmmhhh…”

Kemudian aku balikan tubuh kami sehingga kini Ririn rebahan di atas ranjang dan aku berada di atasnya.

Aku pagut lehernya merasakan tiap tetes keringat yang keluar dari tubuh Ririn. Buah dadanya aku remas secara bergantian.

Beberapa saat kemudian tanganku berpindah ke celananya. Aku tahan tanganku dan aku tatap matanya seolah meminta persetujuan.

Ririn hanya mengangguk, lalu aku bangkit dan bersiap untuk menurunkan celananya. Mula-mula celana pendeknya aku turunkan hingga hanya tersisa celana dalam Ririn.

Pahanya mengatup menutupi segitiga miliknya yang paling berharga. Kemudian aku tarik cd itu Secara perlahan.

Tangan Ririn bergerak menutupi miss v nya saat cd miliknya itu terlepas. Ku dekatkan wajahku ke arah miss v nya.

Aku lirik sejenak wajahnya dari bawah. Dia menatapku dengan tatapan sayu. Kemudian tanpa menyingkirkan tangannya aku mulai cium paha bagian dalam.

Ririn merasa geli menerima ciuman di pahanya. Dia pontang pantingkan pahanya ke kanan dn ke kiri.

Aku tarik lengannya sedikit ke samping Hingga telapak tangan yang sedari tadi menutupi miss v nya bergeser.

Ririn tak melawan saat tangannya disingkirkan hingga terpampanglah segitiga yang menjadi kehormatan terakhirnya.

Bentuknya masih sangat rapat, hanya berupa garis membujur. Aku bentangkan pahanya hingga garis itu sedikit meregang.

Terlihat lubang yang sangat kecil dan rapat. Tanpa ragu aku dekatkan wajahku dan…

Cuppp…

Aku cium belahan memeknya. Ririn kembali mengejang. Kepalaku diapitnya menggunakan paha.

“Awhhh…Rhanndyy…ghelliii…!!!” desah Ririn merasakan memeknya dijamah untuk yang pertama kali.

Kedua tangannya menggenggam sprei dengan kuat. Nafasnya naik turun memburu.

Aku diamkan sejenak, memang untuk menghadapi Ririn aku harus lebih bersabar, tidak seperti dengan bu Siti ataupun Lisa.

Setelah jepitan pahanya mulai mengendur aku mulai melancarkan aksiku menjilati bibir vaginanya.

Pinggulnya kembali kelojotan. Bibirku mengikuti arah gerakannya. Aku sibakkan sedikit bibir memeknya. Aku lihat klitorisnya sangat kecil dan hampir tak terlihat.

Aku jilat seluruh area memeknya hingga basah kuyup. Di bawah aku mulai melepaskan celana yang aku pakai hingga keluarlah kontolku yang mengacung dengan keras.

Tak lupa aku lepaskan kaos ayahnya yang kupakai sehingga kita sama-sama bugil.

Setelah selesai aku kemudian bangkit lagi. Ririn secara reflek menutupi matanya ketika melihat kontolku yang berdiri tanpa penutup.

Aku merangkak di atas tubuhnya dan menyentuhkan kontolku ke arah memeknya. Lalu aku berbisik.

“Yakin gak Rin? kalo lu berubah pikiran bilang ya, gue gak akan lanjutin,” bisikku di telinganya.

“Pelan-pelan yah Ran,” ucap Ririn menimpali.

“Iya,” jawabku singkat.

Setelah mendapat persetujuan dari Ririn aku kemudian mulai mengarahkan kontolku ke lubang memeknya.

Aku cari-cari lubangnya tidak ketemu, padahal kalau dengan bu Siti aku hanya dorong saja sudah pasti masuk.

Ku putar-putar batang kontolku di area memeknya. Saat aku yakin itu adalah lubang memeknya kemudian aku tekan sedikit.

“Awhhh…Rhann…duhhh…” rintih Ririn kesakitan.

Aku bingung saat itu. Aku tidak berpengalaman menghadapi gadis yang masih perawan.

Aku tak tahu harus melakukan apa. Tetapi tatapan Ririn meyakinkanku untuk terus melakukannya.

Kemudian aku tekan lagi sedikit lebih keras.

“Awhhh…shhakittt…Rhann…”

Aku merasakan lubang itu sedikit meregang dan menelan kepala kontolku. Ku diamkan sejenak hingga ririn tidak merasakan sakit lagi.

Setelah Ririn mulai tenang, aku kembali menekan kontolku. Aku merasakan ada sebuah selaput yang menghalangi kontolku untuk masuk lebih dalam.

Aku sempat ragu untuk melanjutkannya. Namun dengan hembusan nafas beratku, aku tetapkan hati untuk melakukannya.

“Maaf sayang!” bisikku di telinganya.

Lalu dalam sekali hentakkan lembut ku dorong kontolku menembus sesuatu yang menghalanginya masuk dan…

Prrreeett…

“Arkhhhhnnnnggghhh…!!!” jerit Ririn keras sekali saat kontolku berhasil menembus selaput daranya.

Punggungku ia cakar hingga sedikit berdarah, namun aku tidak memperdulikannya.

Setelah selaput itu robek kontolku masuk dengan cukup mudah hingga mentok.

Air mata menetes di samping wajahnya. Aku belai rambutnya yang kusut itu kemudian berbisik.

“Rin, maafin gue ya.”

Ririn diam saja tak menjawab. Mungkin dia masih merasakan ngilu di selangkangannya.

Aku tengok ke bawah dan ku tarik kontolku sedikit. Terlihat batang kontolku berlumur darah.

“Darah perawannya!” pikirku.

Setelah itu aku kembali mendorongnya masuk dan ku tarik beberapa kali. Ririn masih memejamkan matanya dan bibir bawahnya ia gigit.

Aku gerakan secara perlahan kontolku di memeknya. Dia hanya memegang lenganku sembari masih terdiam.

Saat dia mulai rileks, aku mempercepat pompaanku di memeknya. Saat itu aku hanya ingin Ririn menikmati pengalaman pertamanya itu.

Plokkk…plokkk…plokkk…

Suara kemaluan kami saling bertumbukan. Ririn mulai merintih lagi namun kali ini berbeda, rintihannya kali ini menampakkan kalau dia sedang menikmati persenggamaan kami.

“Shhh…enghhh…shhh…emhhh…shhh…”

Aku goyangkan kontolku untuk mencapai area g-spot yang pernah diajari oleh bu Siti.

Terbukti beberapa saat kemudian Ririn mencapai klimaks untuk yang pertama kalinya, mungkin dalam hidupnya.

“Ouhhh…Rhann…ouhhh…Rhann…ouhhh…!!!”

Srrr…srrr…srrr…srrr…srrr…

Tubuhnya mengejang-ngejang, kakinya ia lingkarkan di pinggangku dan tangannya di leherku.

Tubuhnya basah kuyup oleh keringat yang keluar. Benar-benar seperti mandi di atas kasur.

Aku basuh keringat yang ada di keningnya dengan tanganku. Kalau seperti itu dia bisa dehidrasi karena mengeluarkan keringat banyak sekali.

Setelah itu aku cabut kontolku dari memeknya secara perlahan dan…

Plooppp…

Bunyi kontolku yang terlepas.

Aku lihat cairan merah bercampur cairan kenikmatan Ririn. Aku tahu saat itu aku sudah mengambil keperawanan Ririn.

Kemudian aku berjalan menuju dapur lalu mengambil gelas dan menuangkan air mineral. Setelah itu aku kembali lagi ke kamar Ririn.

“Rin diminum dulu,” pintaku kepadanya.

Ririn kemudian bangkit terduduk di atas kasurnya yang basah kuyup lalu meraih air mineral yang aku bawa tadi dan meminumnya.

Glekkk…glekkk…glekkk…

“Makasih Ran!” ucap Ririn kepadaku.

Aku hanya mengangguk, lalu menaruh gelas yang sudah kosong itu di meja belajarnya kemudian kembali duduk di sampingnya.

Ririn masih terlihat membuang muka saat melihat kontolku yang sudah mengambil keperawanannya. Mungkin dia belum terbiasa dengan pemandangan itu.

Sejenak kami terdiam beristirahat setelah melakukan aktifitas yang menguras tenaga, lalu kemudian aku menyeletuk.

“Rin, lu nyesel gak ngelakuin itu? lu sekarang udah gak perawan,” pungkasku.

Ririn menoleh ke arahku dan tersenyum.

“Gue gak nyesel kok, emang dari awal gue mau kasih perawan gue sama lu, karena…” ujar Ririn tertahan.

“Karena?” tanyaku memastikan.

“Karena lu salah satu orang yang paling berarti dalam hidup gue, karena gue cinta sama lu,” jawabnya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku kemudian juga menyandarkan kepalaku di atas kepalanya. Waktu terus berlalu, aku memutuskan untuk menginap di rumah Ririn karena permintaan dari dia sendiri.

Malam itu kami melakukannya lagi dan lagi, meskipun gerakan Ririn masih terlihat kaku saat bercinta, namun perlahan demi perlahan Ririn mulai menunjukkan sisi liarnya kepadaku.

Bersambung

sex dengan ibu teman
Aku tak kuasa menahan gejolak nafsu melihat belahan dada ibu teman ku
Cantik montok Masturbasi
Emang Paling Nikmat Masturbasi Sambil Mandi
karyawan indomart cantik putih mulus bugil
Foto bugil Rino Sakura gadis cantik tanpa sensor
abg nakal
Ngentot dengan dua gadis ABG yang ku kenal di mall
Foto Memek Gundul Tante Janda Sange Ngangkang
Foto bugil jepang susu jumbo Satomi katayama
cewek sange ngentot
Bercinta Dengan Cowok Yang Masih Perjaka
Foto toket gede pemandu lagu karaoke cantik
jilbab binal
Penisku dikerjai 3 orang gadis cantik berjilbab sekaligus
cantik suka kentut
Mbak ayu tetanggaku yang suka kentut waktu ngentot
ngentot tante
Aku Menjadi Kekasih Gelap Tetangga Ku Bagian Dua
Bayar hutang dengan memek , Cerita bokep bayar hutang
ngentot toge cantik
Nikmatya Ngentot Teman Sekantorku, Bernama Linda
Cerita sexs ibu guru liar suka colmek
Pembantu Tetangga Minta Di Ajarin ML Bagian Kedua