Part #32 End : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Waktu terus berlalu. Rencanaku pergi naik gunung bersama Lisa diundur setelah pengumuman kelulusan.

Maka dari itu sebagian besar hari liburan aku habiskan di rumah atau sekedar menghabiskan waktu bersama kak Ranty.

Hingga tak terasa hari pengumuman pun telah tiba. Teman-teman sekolahku sudah bersiap konvoi dengan membawa pilok untuk mencoret-coret baju osis kami.

Pagi hari seperti biasa aku mampir ke warung bu Siti untuk sarapan. Saat itu aku lihat Ririn tidak ada di situ.

“Bu! Ririn mana kok gak kelihatan?”

Aku dengan sembrononya langsung masuk ke dalam dapur.

“Ririn udah di sekolah Ran, katanya lagi nunggu pengumuman,” jawab bu Siti sambil memasak.

Aku kemudian duduk di kursi kayu yang ada di dapur itu.

“Kamu kok sante banget Ran, Ririn sampe gak bisa tidur loh semalem gara-gara kepikiran hasil ujiannya,” imbuhnya lagi.

“Anak kaya Ririn sih udah pasti lulus bu, kalo Randy sih pasrah aja hehehe…” balasku bercanda.

“Kalo kamu gak lulus nanti tahun depan kamu sekolah sambil momong anak dong hehehe…”

Bu Siti lalu menyuguhiku makanan yang biasa ku pesan.

“Loh, Randy kan baru dateng bu, kok langsung dikasih?”

“Gak papa, nanti ibu bikin lagi, cepet kok,” ujarnya sambil berbalik.

Aku kemudian menyantap makanan itu sambil memandang ke arah bu Siti. Badannya tampak melebar dengan perut membesar, namun hal itu malah menambah keseksian tubuhnya.

Ku makan makananku dengan cepat. Setelah selesai aku lalu mendekati bu Siti dan memeluknya dari belakang. Bu Siti sontak berbalik.

“Bu, Randy berangkat dulu ya.”

Aku kemudian membungkukan badanku dan mengelus serta mencium perut bu Siti.

“Doain papah lulus ya, hehehe…”

Kemudian aku bangkit. Bu Siti meraih tanganku, dan dengan terkejut aku melihat dia mencium punggung tanganku seolah aku suaminya.

“Semoga sukses ya, sayangku,” ucapnya singkat.

Aku mengangguk lalu ku raih pipinya dan ku cium bibir bu Siti sebentar kemudian aku pergi.

Setelah sampai di depan papan pengumuman, aku lihat sudah banyak siswa yang menunggu di sana, namun pengumuman kelulusan belum dipasang.

Saat itu aku melihat Ririn sedang bercakap dengan temannya. Sejenak dia melihat ke arahku, Ririn hanya tersenyum lalu melanjutkan perbincangannya dengan teman-temannya.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku.

“Randy!”

Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata itu adalah Lisa. Dia melambaikan tangan lalu menyuruhku mendekat.

“Udah siap belum?” tanya Lisa kepadaku.

“Siap apaan?”

Lisa kemudian mengambil pilok yang ada di tasnya lalu dia mengocok pilok itu dan tanpa peringatan dia langsung menyemprotkan pilok itu ke arah bajuku.

“Anjirrr…!!!” pekikku kaget.

“Hahaha…!!!”

Lisa hanya tertawa terbahak-bahak lalu kabur dari hadapanku. Seketika itu juga aku mengejarnya.

“Woyyy awas lu ya, kalo gue gak lulus lu yang tanggung jawab beliin gue baju lagi,” sergahku sambil berlari.

Sepintas Lisa membalikkan badannya ke arahku lalu dia menjulurkan lidahnya tampak mengejekku kemudian kembali berlari.

Lisa berlari ke bagian belakang ruang gudang. Aku berlari sekencang-kencangnya hingga…

Deppp…

“Awww…!!!” pekik Lisa.

Aku berhasil memegang kedua lengannya, kemudian aku balikkan badan Lisa dan ku dorong sampai menyentuh tembok.

Ku tatap matanya. Dia hanya terdiam dengan bibir sedikit menganga, kemudian aku mendekatkan bibirku ke bibirnya dan…

Cuppp…

Bibir kami saling berciuman. Lisa menerima ciumanku dengan pasrah. Disedotnya bibir bawahku seraya aku menyedot bibir atasnya.

“Emphhh…nyycccppp…ssppp…”

Bunyi bibir kami saling beradu. Ku julurkan lidahku masuk ke mulutnya. Lisa menyambut lidahku dengan memutar-mutar lidahku dengan lidahnya.

Sesaat kemudian aku lepas ciuman kami, lalu aku tarik Lisa masuk ke dalam gudang melalui pintu belakang yang sudah tak berengsel lagi.

Di dalam aku angkat tubuh Lisa lalu ku jatuhkan di atas matras yang sering digunakan untuk senam lantai saat pelajaran olahraga.

Buggg…

Posisi Lisa saat itu setengah berbaring dengan siku menopang tubuhnya. Aku merangkak di atas tubuh Lisa hingga matabkita saling bertemu.

Lisa tampak menggigit bibir bawahnya serta mata setengah terpejam. Kembali ku cium bibirnya yang merekah itu.

“Cppp…sssppp…ehmphh…sssppp…”

Ku remas toket Lisa dari luar bajunya kemudian aku buka satu per satu kancing bajunya hingga menampakkan toket yang berbungkus bra warna krem.

Aku lepas ciumanku lalu ku sibakkan bajunya ke kanan dan ke kiri. Ciumanku berpindah ke lehernya. Lisa menengadahkan kepalanya memberikan aku akses di lehernya.

Kemudian aku turunkan ciumanku ke dadanya. Aku angkat bra yang dipakainya ke atas lalu…

Boom…

Terpampanglah toket Lisa yang sangat menggoda itu. Tanpa keraguan langsung ku pagut puting payudaranya.

“Shhh…uuhhh…Rhann…emphhh…” desah Lisa saat menerima ciumanku di putingnya.

Ku kenyot puting payudara Lisa kanan dan kiri. Tanganku mulai bergerak melepaskan cdnya dari balik rok.

Setelah cdnya lepas aku balikkan tubuhnya hingga posisi Lisa sekarang merangkak. Aku lepas tas yang sedari tadi masih digendong oleh Lisa.

Lisa hanya menurut, kemudian aku angkat rok osisinya ke atas hingga dua bongkah bokong yang menggoda menyembul keluar.

Aku dekatkan wajahku ke lipatan bokongnya. Hidung dan bibirku menyelip di antara bokong Lisa dan dan menyentuh sebuah lubang berkerut itu.

Ku hirup dalam-dalam aroma lubang anusnya yang tidak harum namun membuatku bergairah. Ku kecup lalu ku jilat area itu.

Tiba-tiba…

Preeetttt…

Lisa kentut tepat di depan wajahku.

“Anjirrr,, lu kentut gak bilang-bilang dulu!” protesku kepada Lisa sembari menampar bokong kanannya.

Plakkk…

“Hehehe,, sorry tadi pagi belum sempet ke toilet, buru-buru soalnya.”

“Hmmm…” Aku hanya bergumam.

Kembali aku cium lubang itu, baunya masih terasa meyeruak ke dalam hidungku.

“Uhukkk…uhukkk…!!!”

Aku terbatuk saat merasakan aroma busuk kentur Lisa. Namun sejekan aku kembali menjilati area itu lalu ku tekan-tekan lidahku masuk ke dalam anusnya.

“Uhhh…ssshhh…udahhh…Rannn…jangan…dijhilatinnn…theruusss…nantiii…kheluarrr…lohhh…”

Beberapa kali dia kembali kentut. Aku merasakan rasa pahit di ujung lidahku.

“Jangan-jangan ini tainya,” pikirku.

Buru-buru aku tarik lidahku dan meludah di lantai gudang itu.

Cuihhh…cuihhh…

Aku gosok-gosok ujung lidahku dengan kerah osis yang aku kenakan untuk menghilangkan rasa pahit itu di lidahku. Lisa kemudian bangkit.

“Aduh Ran,, gue ke toilet dulu, udah gak tahan, entar dilanjut lagi.”

Lisa buru-buru memakai pakaiannya lagi lalu bergegas menuju toilet. Aku juga menuju toilet untuk membasuh lidahku yang masih terasa pahit.

Aku kumur-kumur lalu menggosok ujung lidahku dengan kuku jari, namun rasa pahit itu tidak juga sirna.

Maka ku putuskan untuk mengabaikan rasa itu lalu pergi ke papan pengumuman. Di sana sudah banyak yang berdiri berkerumun di depan papan.

Ku lihat ada seorang guru yang sedang menempelkan kertas nilai hasil ujian satu per satu di papan pengumuman.

Aku memutuskan untuk menunggu siswa yang lain pergi dari situ daripada berdesak-desakan.

Semua siswa yang keluar dari kerumunan itu tampak girang karena mengetahui dirinya lulus.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba Ririn mendekat.

“Ran!” panggil Ririn.

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“Selamat ya, lu lulus!”

Ucapan Ririn itu seolahnmembuat jantungku hampir berhenti berdetak.

“Se…serius lu Rin? gue lulus???”

Ririn hanya tersenyum lalu mengangguk.

“Yeeeaaaahhh…!!!”

Aku sangat girang pada waktu itu. Seketika aku langsung memeluk Ririn dan mengangkatnya.

“Aduhhh Ran,, malu Ran malu…!!!”

Ririn berusaha melepaskan pelukanku karena beberapa siswa melihat ke arah kami. Aku tak memperdulikannya karena sedang dalam euforia kelulusan.

Sedang merayakan kelulusanku tiba-tiba datang si Lisa.

“Ehh,, Ran pengumumannya udah keluar?” tanya Lisa kepadaku.

“Udah dong, gue lulusss…!!! hahaha…”

“Waw siiippp,, terus gue gimana? udah liat belum?”

“Kalo lu…kayanya harus ngulang satu tahun lagi deh,” ucapku dengan nada menyesal.

Raut wajah Lisa tiba-tiba berubah. Dia kemudian berlari menuju papan pengumuman mendesak kerumunan yang masih banyak.

“Ihh,, Randy jahatnya, Lisa juga lulus tau,” pungkas Ririn sambil menabok punggungku.

Aku hanya tertawa kecil lalu menaruh satu jari di depan bibirku.

Beberapa saat kemudian Lisa keluar dari kerumunan dengan mata melotot ke arahku.

“RANDY…!!! AWAS YA LU NGERJAIN GUEEE…!!!” teriak Lisa sembari mengacungkan jari tengahnya kepadaku.

“HAHAHAHAAA…!!!”

Aku hanya tertawa lalu berlari menghindarinya. Lisa lantas mengejarku sambil menodongkan pilok ke arahku, siap untuk menyemprotku kapan saja.

Hari itu kami larut dalam ke bahagiaan. Kami saling bertukar tanda tangan di baju kami masing-masing lalu mencoret-coretnya dengan pilok.

Setelah itu kami konvoi bersama-sama siswa yang lain. Aku ikut rombongan bersama Lisa yang memboncengku. Kalau murid seperti Ririn tidak ikut konvoi karena dilarang oleh orang tua mereka.

Banyak sekali siswa yang ekstrim. Ada yang dipilok sampai ke rambut, ada pula yang malah tawuran dengan sekolah lain yang kebetulan berpapasan dengan rombongan kami.

Tetapi aku menghindari perkelahian itu karena menganggap tidak ada gunanya. Hingga rombongan kami yang lanjut konvoi tinggal tersisa beberapa.

Di perjalanan, beberapa dari kami memutuskan untuk beristirahat di warung pinggir jalan. Di sana kami memesan bakso dan es teh manis.

“Ran, habis ini lanjut yuk!” ujar Lisa.

“Ya lanjut lah, emang mau di sini terus.”

“Bukan lanjut konvoi.”

“Terus?”

“Lanjut yang tadi pagi, hehehe…” ucap Lisa cengengesan.

“Aihhh, males udah gak mood.”

“Ih kenapa?”

“Abis makan tai lu nih gue, rasanya gak ilang-ilang lagi,” sergahku sambil menunjukkan lidahku.

“Salah siapa lubang burit gue dijilatin, orang gue lagi mencret juga.”

“Udah-udah, lagi makan jangan ngomongin itu, selera makan gue jadi ilang nih.”

Lisa hanya tertawa kecil. Kami lalu menyantap bakso yang sudah disajikan di hadapan kami.

“Ran, gimana rencana kita, katanya mau naik gunung,” pungkas Lisa di sela-sela makan.

“Kapan deh terserah, tapi awas aja kalo lu minta gendong nanti,” jawabku penuh penekanan.

“Enak aja, gini-gini kaki gue kuat jalan keles.”

“Kuat apanya, jalan turun tangga aja keseleo, hahaha…” sindirku mengingatkan dia pada suatu kejadian bersamaku dulu. (Part 2. Teman Sebangku 2)

“Hehehe,, masih inget aja lu, dulu itu cuma accident tau,” jawab Lisa memberi alasan.

“Ya udah, entar kabarin aja mau kapan, itung-itung perpisahan ya gak?”

Aku menaikkan kedua alisku.

“Siiippp…” balas Lisa singkat.

Kami pun melanjutkan perjalanan kami pada siang hari itu.

Skippp…

Beberapa hari kemudian sesuai dengan janji kami bersiap pergi naik gunung. Sebelumnya aku sudah mengajak Ririn namun ajakanku ditolaknya dengan alasan takut dia tersesat dan merepotkan kami. Alhasil kami pergi berdua saja.

Saat itu sore hari kami memulai perjalanan menaiki gunung. Benar saja baru beberapa menit Lisa sudah meminta untuk beristirahat.

“Ran, istirahat bentar, gue cape nih,” pinta Lisa sambil mendaratkan bokongnya pada sebuah batu besar.

“Katanya kuat, baru bentar doang udah minta istirahat,” protesku kepadanya.

“Hehehe,, udah lama gak naik gunung nih, banyakan rebahannya,” ucap Lisa mencari alasan.

Aku kemudian ikut duduk di sampingnya, lalu memberikan air minum yang kami bawa.

“Nih, minum dulu.”

“Makasih,” balasnya singkat.

Setelah beberapa menit kami kembali melanjutkan perjalanan. Karena Lisa yang sering minta istirahat maka kita terlambat mencapai target pos.

Hari sudah semakin malam, jarak pandang juga semakin pendek, ditambah lagi jalan pendakian semakin sulit.

Kami memutuskan untuk kembali beristirahat. Aku lihat Lisa menengok kanan dan kiri.

“Ehh kenapa lu Lis?” tanyaku kepadanya.

“Gue kaya ngeliat ada orang jalan di pohon itu deh Ran,” ucap Lisa sembari menunjuk ke suatu pohon besar.

“Hahaha,, kebanyakan nonton film horror si lu.”

Lisa tak menanggapiku, namun langsung memeluk lengan kiriku.

“Kalo takut ngapain ngajak naik gunung malem.”

“Pengin aja ngerasain naik gunung malem-malem,” jawab Lisa sekenanya.

Kreeessskkk….kreeessskkkk…

Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di rerimbunan tanaman tumbuh lebat.

“Aihhh….!!!” jerit Lisa langsung memelukku.

Wajahnya dia benamkan di dadaku. Aku memeluknya erat.

“Tenang Lis, bukan ular kok, cuma setan.”

“Ahhh,, Randy…!!!”

Lisa memukul-mukul dadaku. Aku peluk dia lebih erat.

“Ya udah lanjut yok!” ajakku lalu menggandengnya.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Hingga suatu saat kami menggigil karena suhu saat itu sangat rendah.

Maka kami memutuskan untuk membuat api unggun. Sebelumnya kami sama-sama mencari ranting kayu untuk dijadikan api unggun.

Saat aku sedang mengumpulkan ranting pohon tiba-tiba aku mendengar suara teriakan.

“Aaarrrrkkkkhhhh…!!!”

Seketika aku berlari ke arah sumber suara yang tak jauh dari tempatku berdiri.

Di sana aku melihat Lisa sedang berenang di sebuah danau kecil. Aku tahu kalau Lisa pandai berenang itu lah sebabnya aku hanya berkacak pinggang.

“Ngeprank lagi nih bocah!” pikirku.

Lisa masih terus melambaikan tangan kepadaku.

“Woy Lis! Mandi malem-malem gak dingin apa?” seruku kepadanya.

“Trrnnllloongg…Rrnnnannnn…!!!” teriak Lisa meminta tolong.

“Jangan ngeprank lah, gue tau lu bisa berenang, udah cepet sini naik.”

Aku menunduk seraya menyuruhnya untuk naik. Tetapi ada yang aneh. Aku merasa kalau posisi Lisa semakin menjauhi tepian danau itu.

Hingga kepalanya sudah tidak di permukaan air lagi, lalu diikuti oleh tangannya yang masuk ke dalam air.

Saat itu aku sadar kalau itu bukan lah prank, melainkan Lisa benar-benar tenggelam.

Seketika itu juga aku melepaskan ranselku dan melompat ke dalam danau itu.

Lalu aku berenang secepatnya ke arah Lisa. Aku lihat sudah tidak ada bagian tubuh Lisa yang terlihat di permukaan.

“Sabar Lis, tahan sebentar lagi, gue bakal nolongin lu,” ucapku dalam hati.

Aku kemudian menyelam untuk menjangkau Lisa. Samar-samar aku seperti melihat cahaya yang menuntunku untuk menemukan Lisa.

Setelah aku berhasil memegang tangan Lisa, aku langsung menariknya ke dalam pelukanku lalu aku berusaha berenang ke permukaan.

Saat itu Lisa sudah dalam keadana tidak sadarkan diri. Aku bawa Lisa ke tepi danau lalu ku angkat tubuhnya hingga keluar dari air.

Aku langsung memberikan pertolongan pertama dengan CPR, aku letakkan tanganku di tengah-tengah dadanya lalu tangan lainnya berada di atasnya untuk melakukan penekanan.

Kemudian aku cek denyut nadinya, sangat lemah, lalu aku cek pernafasannya.

Deggg…

Tidak ada nafas darinya. Aku kemudian memberikan Lisa nafas buatan lalu kembali melakukan CPR lagi.

“Lis, bangun Lis, gue gak mau kehilangan lu…!!!” seruku penuh kehampaan.

Aku kembali berusaha semua yang aku bisa untuk menolongnya.

“Lis, maafin gue kalo selama ini sering bikin lu sedih, marah, kesel, kasih kesempatan gue buat perbaiki semuanya Lis,” ucapku penuh keputusasaan.

Air mataku mulai mengalir. Itu adalah pertama kalinya aku menangis sejak terakhir kali saat aku masih SD.

Tetapi aku belum menyerah. Aku akan terus berusaha meski saat nadinya tak berdenyut lagi.

Dinginnya malam tak bisa ku rasakan saat Lisa berbaring tak bergerak di atas tanah basah di bawah langit malam itu.

Aku melakukan CPR untuk yang kesekian kali saat tiba-tiba…

“Huuuukkk…uhukkk…uhukkk…!!!”

Lisa terbatuk lalu menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan cepat. Lisa tampak megap-megap.

Dadanya kembang-kempis berusaha menampung oksigen sebanyak-banyaknya di dalam paru-paru.

Aku hanya terpaku menahan nafas melihat Lisa siuman.

“Lis, lu bangun lis…!!!”

Dengan perasaan bahagia aku memeluknya dengan erat seakan aku tak mau melepaskannya lagi.

“Syukur lah Lis lu selamat, gue gak tau lagi harus ngapain kalo lu pergi,” ujarku penuh rasa sukur.

“R…Ran!” panggilnya terbata-bata.

“Iya Lis?” jawabku masih memeluknya.

“Se…sak Ran! Gu…gue gak bisa napas,” ucap Lisa lirih di telingaku.

Ternyata Lisa merasa sesak karena pelukanku yang terlalu kuat.

Aku kemudian melepaskan pelukanku, lalu aku memegang kedua pipinya dengan tanganku. Mata kita saling bertemu.

“Ran, lu nangis?” tanya Lisa lirih dengan ekspresi datar.

Aku tak menjawabnya, hanya menggelengkan kepala sembari menyunggingkan senyumku.

Lisa lalu mengusap air mataku yang mengalir di pipi.

“Makasih Ran, atas semua yang udah lu lakuin buat gue, gue beruntung punya sahabat kaya lu.”

Kening dan hidung kita saling bersentuhan. Sejenak kami diam berteman dengan kesunyian malam hingga suara burung malam yang terbang terdengar jelas di telinga kami.

Beberapa lama kemudian kami mulai merasakan hawa dingin yang sedari tadi terabaikan karena situasi yang mencekam.

Lalu kami memutuskan untuk beranjak dari tempat itu. Aku gendong kembali ranselku di punggung dan aku bopong Lisa di depan.

Ransel Lisa hilang tenggelam di danau itu jadi aku tidak terlalu berat untuk membawanya.

“Ran, gue jalan aja, lu udah berat bawa tas di belakang.”

“Udah lu diem aja, gue masik kuat kok.”

Aku kemudian membawa Lisa ke tempat yang cukup strategis untuk mendirikan tenda. Di sana aku mendirikan tenda sendirian lalu membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh kami.

Aku lalu mendirikan ranting kayu yang ku buat mirip jemuran.

“Baju lu buka aja terus jemur di sini, daripada tidur pake baju basah entar masuk angin,” ujarku memberi saran.

Lisa sepintas melirik kanan dan kirinya lalu satu per satu melepaskan pakaian yang basah itu hingga telanjang. Aku kemudian mengambil selimut dari ranselku dan menyelimutinya.

Lisa memberikan pakaiannya kepadaku, lalu aku jemur di ranting dekat api unggun yang sudah aku siapkan.

“Lu juga buka baju,” ucap Lisa kepadaku.

Aku lalu melepaskan pakaianku sampai telanjang dan menaruhnya di jemuran ranting itu.

Saat itu kami sama-sama bertelanjang bulat di tengah alam, bedanya Lisa sudah mengenakan selimut milikku.

Kemudian Lisa mengangkat tangan kanannya membentangkan selimut itu dan memberiku isyarat untuk ikut masuk ke dalam selimut.

“Sini masuk!” ajaknya singkat.

Aku dapat melihat setengah tubuh bugilnya di balik selimut itu. Samar-samar aku dapat melihat toket kanannya disorot oleh cahaya api unggun.

Aku kemudian mendekatinya lalu ikut masuk ke dalam selimut itu. Saat posisi kami sedang duduk bersebelahan dengan memeluk lutut kami masing-masing di pintu masuk tenda.

Tubuh kami berada di dalam tenda sedangkan kaki kami berada di luar tenda.

Di dinginnya malam kami duduk berdua hanya dengan berselimutkan kain yang cukup besar, dengan ditemani kicauan burung malam yang saling bersahutan, dengan suara percikan api unggun yang seakan menjadi lagu di dalam kesunyian malam, dengan pancaran sinar rembulan yang seolah tersenyum melihat dua insan saling berbagi rasa.

Saat aku sedang terlelap dalam lamunan tiba-tiba Lisa menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku sontak menoleh ke arahnya.

“Ran, gak kerasa ya waktu cepet banget berlalu, gue ngerasa baru kemarin kita masuk sekolah, sekarang udah lulus aja,” pungkasnya memecah kesunyian.

“Iya Lis, gue juga masih inget waktu pertama kita ketemu.”

Lisa kemudian menatapku. Dagunya ia sandarkan di bahu sampingku, tangan kiriku dipeluknya. Pikiran kami seolah terlempar ke masa lalu.

Flashback…

Aku berlari sekencang-kencangnya. Hari pertama masuk sekolah aku malah terlambat, my f*ckingday. Aku tergesa-gesa mencari ruangan kelasku.

Ruanganku terletak paling pojok sekolah. Sesampainya di kelas, aku melihat semua murid sudah hadir dan guru sudah datang untuk melakukan perkenalan. Saat itu semua mata tertuju padaku.

“Kamu darimana!? hari pertama udah terlambat!” seru guru yang sedang berada di kelasku.

“Maaf bu, tadi saya bingung nyari ruangannya,” jawabku memberi alasan.

“Alasan aja kamu itu, udah sana duduk!” perintahnya kepadaku.

Aku langsung mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Semuanya telah terisi.

Sudah menjadi tradisi kalau hari pertama masuk sekolah maka yang datang lebih dulu yang berhak memilih dimana dia akan duduk.

Lalu aku menemukan satu bangku yang masih kosong, hanya satu-satunya, dan itu berada di pojok kanan depan, tepat berada di depan meja guru.

“Shit! kebagian bangku laknat,” batinku.

Di sana sudah ada satu murid perempuan. Mau tidak mau aku harus semeja dengannya.

Aku kemudian menghampirinya lalu duduk tepat di sampingnya. Dia terlihat memangku dagunya dengan tangannya sedang menulis sesuatu di bukunya tampak tak bergeming saat aku datang.

“Tipikal orang sombong, tapi itu bagus sih, jadi gak ada yang gangguin gue,” batinku.

Aku juga tidak berminat untuk berteman dengan orang yang sombong seperti dia. Aku juga sudah sering bertemu orang sepertinya.

Hari demi hari berlalu. Lisa, nama gadis itu yang ku ketahui dari absensi kelas yang di sebutkan oleh guru tiap kali masuk. Kami tidak pernah saling sapa apalagi mengobrol.

Hingga pada suatu saat, ada latihan soal matematika. Aku sangat bingung karena tidak tahu apa-apa. Aku lirik guruku saat itu sedang memainkan hp di mejanya tepat di depanku.

Aku kemudian mencolek siku Lisa yang berada di sampingku. Dia lalu melirik ke arahku. Mata kita saling bertemu.

“Nyontek.”

Aku berbicara tanpa mengeluarkan suara, hanya saja gestur bibirku setidaknya membuatnya mengerti apa maksudku.

Tanpa di duga, Lisa menggeser dan memiringkan sedikit bukunya ke arahku sehingga aku dapat melihat hasil pekerjaannya itu.

Saat itu pandanganku padanya mulai sedikit berubah. Meskipun saat hasil tesnya keluar kami sama-sama mendapatkan nilai yang rendah, tetapi aku sama sekali tidak mempermasalahkannya.

Pernah suatu saat, saat sedang ulangan harian, Lisa terlihat panik sambil merogoh isi tasnya.

“Kenapa?” tanyaku singkat kepadanya.

“Gue lupa bawa pulpen!” ucapnya panik.

Aku kemudian menengok ke arah guru. Saat itu ulangan sudah dimulai. Aku kemudian menggeser pulpenku ke arahnya.

Dengan tatapan heran Lisa menoleh ke arahku. Aku hanya tersenyum lalu meletakkan satu jari di depan bibirku. Kemudian aku berdiri.

“Kamu mau kemana? ngapain berdiri?” tanya guru yang sedang mengajar kami.

“Lupa bawa pulpen bu!” jawabku sekenanya sambil cengengesan.

“Loh kok bisa sekolah gak bawa pulpen, kamu itu niat sekolah gak sih! sana keluar aja,” bentaknya kepadaku.

Aku pun keluar kelas dengan santai. Lumayan buatku karena tidak perlu pusing memikirkan ulangan itu.

Saat jam istirahat Lisa menghampiriku. Dia lalu mengembalikan pulpen yang tadi aku berikan padanya.

“Makasih ya, maaf gara-gara gue lu jadi dikeluarin dari kelas,” ujarnya sambil menyunggingkan senyuman.

‘Makasih dan maaf’ dua kata itu adalah kata yang tidak pernah diucapkan oleh orang yang sombong.

Pandanganku terhadapnya berubah total. Benar kata pepatah ‘don’t judge book by it’s cover’ itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan sosok Lisa.

Sejak saat itu kami menjadi semakin akrab, hingga benih-benih cinta tumbuh di antara kita, namun tidak ada satupun yang berani mengungkapkannya.

Flashback End…

“Hehehe,, iya juga yah, rasanya baru kejadian kemarin,” pungkas Lisa setelah mendengarkan ceritaku tentang kisah kami.

Lisa menarik nafas dalam kemudian kembali menatap api unggun di hadapan kami. Aku lalu menyandarkan kepalaku di atas kepalanya yang berada di bahuku.

“Ran, setelah lulus lu mau ngapain?” tanya Lisa kepadaku.

“Belum tau Lis, yang jelas gue mau pergi ke luar kota, gue gak bisa tinggal di Jakarta terus,” jawabku menerawang.

“Mau bawa kakak lu ya?”

“Begitu lah,” balasku singkat.

“Lu enak, punya bakat di bidang olahraga, nah gue gak punya bakat, otakpun zonk,” imbuhnya lagi.

Aku tersenyum kecil.

“Emang cita-cita lu apa?” tanyaku kepadanya.

“Mau cari om-om kaya terus nikah sama dia,” jawab Lisa santai.

“Waw, cita-cita yang sangat inspiratif.”

Aku menjawab dengan candaan sembari bertepuk tangan kecil lalu tersenyum penuh sindiran. Lisa memanyunkan bibirnya seraya mencubit pinggangku.

Lisa mendekatkan posisinya kepadaku hingga toket kanannya menempel di dada kiriku. Tangan kiriku lalu melingkar di punggungnya seolah memberi kehanyatan yang lebih.

Untuk menghilangkan kesunyian kami mulai bernyanyi bersama dengan hanya diiringi suara alam di sekitar kita.

Tentang persahabatan kita yang abadi.

? Masihkah kau ingat pertama bertemu, aku masih cupu engkau masih lugu, kisah masa lalu diriku dan dirimu?

?Tiada cerita seindah bersamamu, kita lewati suka duka ini, satu yang perlu kau ingat, akulah sahabatmu?

Note : Jangan dicari lagunya, nanti kalian menyesal.

?Kamu sangat berarti, istimewa di hati, selamanya rasa ini.?

?Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing. Ingatlah hari ini.?

Lagu project pop mengakhiri nyanyian kami di malam itu. Mungkin lagu itu adalah lagu terakhir yang kami nyanyikan bersama.

Sejenak mata kita saling bertemu. Cahaya rembulan persis memantul di pupil matanya.

Hingga wajah kita mendekat dan semakin mendekat. Lisa kemudian memejamkan matanya lalu…

Cuppp…

Bibir kami saling bersentuhan. Ku pegang pipinya dengan tangan kananku. Kami saling memagut bibir tanpa ada lidah yang ikut campur.

Ciuman kami bukan hanya sebatas nafsu semata melainkan hati kami saling terkait.

Ku peluk tubuhnya yang bugil di balik selimut kemudian ku angkat ke pangkuanku.

Kening kita saling menempel, mata kita salung bertemu. Aku dapat merasakan nafasnya yang sedikit sesak. Matanya meneteskan air mata.

“Apa ini bakal jadi yang terakhir ya Ran?” ujar Lisa.

“Gue harap enggak,” jawabku singkat.

Kemudian kami kembali berciuman. Lisa duduk tepat berada di kontolku sehingga milikku terjepit di antara memeknya dan perutku.

“Ehmppphh…ssscppp…sssppp…” bunyi bibir kami saling beradu.

Tangan Lisa berada di kepalaku meremas rambutku. Dada kami saling menempel. Aku dapat merasakan puting payudaranya menggelitik dadaku membuatku semakin bergairah.

Aku lihat api unggun yang sedari tadi menemani kami semakin meredup, namun itu tidak membuat tubuh kami menjadi kedinginan.

Beberapa kali Lisa menggosok-gosokkan memeknya ke batang kontolku yang menegang dengan sempurna.

Sesaat kemudian Lisa menahan pinggulnya saat ujung kepala kontolku menempel di bibir memeknya namun belum tepat di lubangnya.

Aku paham dengan gestur tubuh Lisa meminta dipenetrasi saat itu juga. Aku lalu memegang batang kontolku kemudian mengarahkannya tepat di lubang peranakan Lisa.

Saat posisinya sudah pas, Lisa langsung menurunkan pinggulnya dan…

Sleppp…

“Uhhh…” desah Lisa singkat.

Kontolku tertanam seluruhnya di dalam memek Lisa. Lisa memelukku dengan erat meresapi setiap jengkal kulit kami yang saling bersentuhan.

“Ran!” panggil Lisa.

“Iya?”

“I love you.”

“I love you too.”

Lisa mulai menggerakkan pinggulnya membuat kontolku bergerak menggesek seluruh dinding vaginanya. Tidak dikeluar masukan, hanya diputar-putar saja.

Lisa kembali menciumku. Kini lidahnya ikut ambil alih. Dijulurkannya hingga masuk ke rongga mulutku. Ku sambut dengan menyedot lidahnya hingga air liurnya berpindah ke mulutku.

Lalu Lisa melepaskan ciuman kami. Mata kami saling bertemu. Kemudian Lisa mulai mengeluar masukan kontolku di memeknya.

Plokkk…plokkk…plokkk…plokkk

“Ouhhh…shhhh…hmmm…shhh…”

Kedua tangan Lisa berada di bahuku. Kedua tanganku berada di belakang menjadi tumpuan tubuhku.

Sensasi tersendiri ketika mata kita saling berpandangan sedangkan kemaluan kami saling beradu.

Hingga beberapa saat kemudian goyangannya menjadi semakin liar.

“Ouuhh…Rhann…ghuee…mauuu…nyampheee…”

Lalu dalam beberapa kali hentakan dia menanamkan seluruh batang kontolku di dalam memeknya dan…

Srrrr…srrrr…srrrr…srrrr…

Lisa memelukku dengan sangat erat saat orgasmenya datang.

Sejenak nafasnya memburu membuat dadanya naik turun di dadaku. Aku usap punggungnya. Kepalanya bersandar di bahuku.

Setelah nafasnya mulai normal, Lisa melepaskan pelukannya. Aku lalu membalikkan tubuh kami tanpa melepaskan kemaluan kami sehingga kini dia berada di bawahku.

Saat itu selimut yang menyelimuti kami sudah tergeletak di samping. Kami sama sekali tidak merasa kedinginan meski kami saat itu telanjang bulat.

Mata Lisa terlihat sayu, bibirnya merekah. Kemudian aku remas payudaranya dengan kedua tanganku lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku memompa memeknya.

“Ehhh…shhh…emphhh…” desah Lisa.

Aku pompa dengan tempo yang sedang dan tidak terburu-buru. Tangan Lisa berada di punggung tanganku yang sedang meremas toketnya. Kepalanya menengadah ke atas sehingga lehernya terlihat seutuhnya.

Aku tempatkan sikuku di samping tubuhnya lalu ku pagut lehernya yang berkeringat itu. Aku jitati seluruh bagian tanpa ada sisa sembari terus memompanya.

“Achhh…Rhann…theruuss…”

Lisa terus mendesah-desah hingga saat dimana dia akan mencapai orgasmenya yang kedua.

Plokkk…plokkk…plokkk…plokkk…

Kemudian tubuh Lisa mengejang dengan keras dan…

Srrr…srrr…srrr…srrr…

“Awwngghhh…!!!” pekiknya merasakan klimaks yang dahsyat.

Aku diamkan sejenak kontolku agar Lisa dapat menikmati orgasmenya. Mukanya sudah kusut, rambutnya awut-awutan menutupi wajah cantik Lisa.

Kemudian aku sibakkan rambut itu ke belakang telinganya agar aku dapat melihat wajah Lisa.

Lisa masih memejamkan matanya, mulutnya menganga untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Aku hanya senyum-senyum sendiri melihat Lisa tampak puas dengan persenggamaan kami.

“Rann! lu belum keluar yah?” tanya Lisa dari bawah tubuhku.

“Santai aja,” jawabku seraya mencium keningnya dan mengusap rambutnya yang kusut.

Lisa kemudian memiringkan badannya ke arah kiri. Tanpa melepaskan kontolku aku lalu berbaring miring di sebelah kanannya. Sehingga kini posisinya memunggungiku sedangkan aku menancapkan kontolku dari arah belakang.

“Ayo Ran!” ajaknya untuk meneruskan persenggamaan ini.

Aku kemudian kembali memompa memeknya dari belakang. Aku tahu saat itu Lisa sudah cukup lelah, maka aku dengan cepat memacu kontolku untuk meraih orgasme.

Plokkk…plokkk…plokkk…plokkk…

“Uhhh…shhh…ahhh…shhh…uhhh…”

Desah Lisa kembali menggema di dalam tenda. Aku semakin mempercepat pompaanku karena sebentar lagi aku akan sampai.

Plokkk…plokkk…plokkk…plokkk…

“Achhh…Rhann…ghueee…mhauuu…nyampheee…laghiii…ouhhh…!!!”

Klimaks ku saat itu sudah di ujung tanduk, lalu kemudian…

Crottt…crottt…crottt…croooottt…

Srrr…srrr…srrr…srrr…srrr…

Kami mencapai klimaks secara bersamaan. Kakinya kelojotan, tumitnya berjinjit saat merasakan orgasmenya yang ketiga.

Sejenak nafas kami saling memburu. Lisa menyandarkan kepalanya di lengan kiriku. Tangan kananku memeluk pinggangnya dari belakang.

Setelah beberapa lama aku kemudian melepaskan kontolku yang sudah setengah melemas.

Ploooppp…

Cairan berwarna putih mengalir di sekitar pahanya. Lisa lalu menggulingkan badannya hingga kini posisinya terlentang dan wajahnya menghadap ke arahku.

Lisa memejamkan mata. Entah dia kelelahan atau malah tertidur. Aku dapat merasakan nafasnya yang tenang. Wajahnya sedikit miring ke kanan, mulutnya melongo.

Aku kemudian kembali mengerubungi tubuh kami dengan selimut. Aku berada di sampingnya dalam posisi miring dengan kepala yang ku sangga dengan tanganku.

Aku perhatikan wajahnya. Aku kagumi setiap lekuknya, mungkin sebentar lagi aku tidak akan melihat wajahnya secara langsung lagi.

Hingga kantuk mulai menyerangku, lalu kemudian aku menyusulnya tidur. Aku dekap Lisa dalam pelukanku.

Skip…

Kicau burung membangunkan ku dari tidur. Saat itu aku Lihat Lisa masih tertidur di lenganku. Kaki kirinya melintang di atas tubuhku.

Aku melihat sebuah kerak di lenganku dan di pipinya membentuk peta buta.

“Bekas ilernya,” pikirku.

Aku kemudian kembali memandangi wajahnya di pagi itu. Wajah polos tanpa make up, tanpa ekspresi yang dibuat-buat.

Momen yang ‘priceless’ pikirku. Tak akan aku sia-siakan momen itu. Aku bisa menghabiskan waktu seharian hanya dengan memandangi wajahnya.

Berlebihan? kurasa tidak.

Beberapa saat kemudian Lisa terbangun. Tampaknya ilernya cukup lengket, terbukti saat kepalanya diputar kulitku ikut tertarik dengannya sesaat.

Lisa kemudian meregangkan tubuhnya seraya menguap.

“Hoammzzz…”

Lalu dengan satu jarinya dia mengucek-ucek matanya, barulah dia bisa melihat sekitarnya.

Tiba-tiba dia memicingkan matanya setelah melihatku senyum-senyum sendiri.

“Ngapain sih lu senyum-senyum sendiri?” tanya Lisa masih mengumpulkan nyawanya.

“Hehehe,, gak papa, lu cantik kalo lagi tidur soalnya, apalagi kalo ileran begitu,” sindirku sambil menunjuk ke arah lenganku yang berkerak.

Lisa tampak kaget lalu buru-buru dia mengelap kedua pipinya. Aku hanya tertawa-tawa kecil melihat tingkah konyolnya saat itu.

Di pagi yang masih dini itu kami mulai mengemasi barang-barang kami. Embun menyelimuti sekeliling kami. Kami yang saat itu masih bertelanjang bulat merasa kedinginan.

Lalu kami mulai mengenakan pakaian kami yang semalam dijemur di dekat api unggun.

Masih agak basah namun kami tidak punya pilihan lain karena kami tidak membawa baju ganti.

Lisa baru sadar kalau hpnya hilang ikut tenggelam bersama ranselnya tadi malam.

“Ran, hp gue ilang!” ujar Lisa penuh kepanikan.

“Udah lah, nanti tinggal beli yang baru,” balasku menenangkannya.

Setelah mengemasi barang-barang, kami pun mulai beranjak dari situ. Namun muncul ide gila Lisa.

“Eh Ran, kita mampir ke danau kemarin yuk, siapa tau kan tas gue ngambang di situ, sekalian mandi, badan gue gerah banget nih,” pungkas Lisa panjang lebar.

“Ah, yakin lu? gak trauma sama yang semalem? gue aja deg-degan kemarin liat lu hampir mati,” cegahku.

“Enggak lah, kan ada elu yang siap nyelametin gue, hehehe…” balas Lisa santai.

Aku tak menjawab, hanya memajukan bibir bawahku. Namun akhirnya aku pun menyetujuinya.

Kami pun pergi ke danau itu. Di sana aku lihat ternyata danaunya tidak terlalu besar. Tidak seperti yang aku bayangkan semalam.

“Lis, semalem kenapa lu bisa kecebur dan tenggelam di sini? gue pikir lu bisa berenang,” tanyaku kepadanya.

“Semalem gue lagi nyari ranting kayu buat dijadiin api unggun, tapi tadi malem tuh gelap banget, jadi gue gak tau kalo depan gue ada danau kaya gini, trus gue kepleset deh ke sini, waktu gue mau naik, tiba-tiba gue ngerasa ada sesuatu yang narik gue ke dalem, terus gue panik dan manggil-manggil lu,” jelasnya detail.

“Narik kaki lu?” tanyaku memastikan.

Lisa hanya mengangguk pelan.

“Jangan-jangan…” Aku menahan kata-kataku.

“Jangan-jangan apa?”

“Gak ding, lupain aja.”

Mungkin itu hanya perasaanku saja.

“Terus gimana? lu yakin mau mandi di sini?” tanyaku lagi.

“Selama ada lu, gue berani deh,” jawabnya penuh keyakinan.

“Apa-apaan dia ngandelin gue, emang gue team resque apa!” balasku dalam hati.

Lisa kemudian melepaskan pakaiannya satu per satu sampai dia telanjang bulat. Aku kemudian ikut melepaskan pakaianku takut dia kenapa-napa lagi.

“Gue dulu yang turun,” ujarku kepadanya.

Lisa hanya mengangguk.

Aku kemudian turun ke air. Lalu aku menyodorkan tanganku untuk meraih tangannya. Lisa kemudian menggenggam tanganku seraya melangkahkan kakinya ke dalam air. Air danau itu sangat dingin hingga menusuk tulang kami, namun kami tetap melanjutkannya.

Semakin lama semakin dalam hingga permukaan air mencapai dada kami. Aku menyelam sebentar untuk membasahi kepalaku lalu kuangkat lagi ke permukaan.

Lisa menatapku sambil tersenyum. Sesaat kemudian tiba-tiba dia melingkarkan tangannya di leherku. Aku secara otomatis memeluk tubuhnya.

Lisa mendekatkan wajahnya ke arahku lalu…

Cuppp…

Kami berciuman di tengah danau itu, ternyata tidak terlalu dalam. Lisa menciumku dengan sangat ganas. Kontolku secara otomatis menegang.

Mengetahui hal itu, Lisa langsung mengarahkan kontolku ke lubang memeknya dan…

Blesss…

Kontolku dengan mudah masuk ke dalam memeknya. Aku gerakan tubuhnya naik turun untuk memompanya dengan kontolku.

Sangat sulit ketika melakukan itu di air namun ada sensasi tersendiri. Apalagi airnya saat itu sangat dingin.

“Ouhhh…shhh…Rhann…enakkk…” desah Lisa.

Lisa membantuku dengan menggoyangkan pinggulnya menerima hujaman kontolku. Kelamin kami bertumbukan memecah air kala itu.

“Emphhh…Rhann…ghueee…mauuu…nyampheee…”

Aku pun sekuat tenaga berusaha mencapai klimaks, hingga beberapa saat kemudian.

Srrr…srrr…srrr…srrr…

Crottt…crottt…crottt…crooottt…

Kami orgasme secara bersamaan. Bukan seks yang terlalu nikmat tapi cukup lumayan untuk pagi itu.

Kami lalu berenang menepi. Aku berada di belakangnya untuk berjaga-jaga apabila kejadian semalam terulang kembali.

Setelah berada di tepi kami lalu kembali berpakaian dan melanjutkan perjalanan kami.

Namun memang dasar Lisa, meskipun tanpa ranselnya dia tetap tidak kuat dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat.

“Aduh Ran, gue mules nih,” ucapnya sambil memegangi perutnya.

“Aduh Lis, ada-ada aja lu tuh, hmm…di situ ada sungai tuh, lu keluarin aja di situ,” jawabku sambil menunjuk ke arah sungai kecil.

Tanpa membalas ucapanku, Lisa kemudian berlari ke arah sungai itu. Disana dia langsung melorotkan celananya kemudian berjongkok menghadap arah arus sungai.

Aku kemudian menyusulnya. Melihat dia sedang buang kotoran, aku jadi ketularan kebelet. Maka aku ikut turun ke sungai itu dan melorotkan celanaku lalu berjongkok berhadapan dengannya.

Aku tertawa kecil melihat ekspresi wajahnya yang sedang ngeden. Beberapa saat kemudian aku melihat sebuah benda panjang dan lonjong keluar dari lubang pantatnya. Benda itu mengalir terbawa arus hingga lewat di antara kedua kakiku.

“Kalo di sini ada ikan yang hidup, pasti bentar lagi mati deh, hehehe…” ujarku bercanda dengannya.

Lisa mengernyitkan dahinya.

“Enak aja, mati karena makan tai lu kali,” balasnya singkat.

Lisa kembali berkonsentrasi, lalu benda yang serupa kembali keluar dari lubang pantatnya. Aku pun akhirnya bisa mengeluarkan benda yang sama.

“Dulu aja waktu di gudang, rasa pahit di lidah gue gak ilang-ilang.”

“Hehehe,, sapa suruh lu jilatin bool gue, mana waktu itu gue lagi mencret lagi.”

“Hueekkkk…”

Aku merasa mual membayangkannya kembali.

“Hahaha,, mau lagi gak,” ucap Lisa menawariku.

“Ogahhh…!!!” jawabku tegas.

Kami benar-benar seperti orang yang sama tapi beda kelamin. Tidak ada rasa malu sama sekali ketika membahas masalah yang absurd seperti ini.

Setelah selesai kami pun cebok lalu kembali mengenakan celana kami. Kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi.

Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup berat, kami sampai juga di puncak gunung.

Lisa terlihat sangat puas. Dia berdiri di depan kawah dengan merentangkan kedua tangannya dan kepala menengadah ke atas.

Aku peluk dia dari belakang takut dia terjungkal ke dalam kawah.

Lisa menoleh ke arahku lalu membalikkan badannya.

“Ran, akhirnya kita sampai juga…!!!” seru Lisa dengan perasaan yang senang.

Dia kemudian memelukku.

Di sana kita berfoto beberapa kali untuk kenang-kenangan. Beberapa pose konyol kami lakukan. Kami benar-benar menikmati saat-saat itu.

Sejenak kami saling bertatapan dengan menyunggingkan senyum kami masing masing. Saat itu kami sedang merekam sebuah video dengan kamera hpku yang ku letakkan di sebuah batu.

Tangan Lisa melingkar di leherku, tanganku memeluk pinggangnya. Ini akan jadi kenang-kenangan yang tak terlupakan.

Ku peluk tubuhnya dengan erat lalu ku cium bibirnya sesaat. Kemudian aku angkat dan ku putar tubuhnya memutar di udara.

Dipeluknya leherku dengan erat sehingga kakinya menggantung mengikuti gaya sentrifugal.

“Aaaahhhh…Raaannndddyyy…!!!” pekiknya merasakan sensasi itu.

“Hahaha…!!!” Aku hanya tertawa.

Sesaat kemudian tangannya ia lepaskan dari leherku, sehingga kini tubuhnya melengkung ke belakang sambil berputar, tangannya ia bentangkan seperti sedang terbang.

Itu adalah momen terindah dalam hidupku. Momen yang tak akan pernah ku lupakan.

SEUMUR HIDUPKU!

Tamat

EPILOG

RANDY

Aku menekan tombol hpku beberapa kali lalu menempelkannya di telinga.

Tuuuuttt…

Tuuuuttt…

Tuuuuttt…

Beberapa kali nada tersambung keluar dari hpku.

“Halo?” jawab seseorang di sebrang sana.

“Halo!”

“Siapa ya?”

“Gue Randy!”

“Randy siapa?”

“Gue yang ikutan POM dulu, ini Justin kan?” tanyaku memastikan.

“Oh ya gue inget, ada apa sob?”

“Ini soal tawaran lu buat seleksi masuk pelatnas.”

“Jadi lu minat ikut?”

“Ya, gue mau coba.”

“Oke kalo gitu, tapi lu harus punya tim dulu, lu coba gabung aja di Garuda Bandung, gue yang bawa pasti manajer bakal mempertimbangin lu, habis lu punya klub, lu baru bisa ikut seleksi pelatnas, karena pelatnas gak mau nerima pemain yang gak punya klub,” jelasnya panjang lebar.

“Oke lah, gimana caranya?”

“Lu dateng aja ke Bandung, entar gue kasih alamatnya.”

“Sip, thanks ya.”

“You’re welcome sob.”

Aku lalu menutup telfonku. Mungkin ini adalah sebuah jalan yang tuhan berikan padaku.

Aku tahu kalau aku tak bisa berkarir dengan mengandalkan otakku, jadi sepertinya bakatku di bidang olahraga harus aku manfaatkan.

Aku akan pergi ke Bandung.

“Ya, bakal gue lakuin!”

_______________________

RANTY

“Ran, kamu udah mantep mau pergi ke Bandung? tanya kak Ranty saat kita sedang ngedate berdua.

“Yakin dong kak, ini adalah kesempatan buat Randy, Randy gak bakal ngelewatin kesempatan ini,” jawabku dengan yakin.

“Kakak ikut,” ucapnya sambil mengaduk-aduk makanan yang dipesannya namun tak kunjung dimakan.

Sepertinya kak Ranty sangat bete mengetahui akan ditinggal olehku. Aku kemudian meletakkan tanganku di atas punggung tangannya.

“Kak, kakak kan kuliah tinggal satu tahun lagi, masa iya kakak gak sayang sama perjuangan kakak selama tiga tahun ini.”

“Tapi kakak gak tau harus ngapain kalo gak ada kamu,” ujar kak Ranty dengan perasaan masih bete.

“Kan masih ada papah sama mamah.”

Tingggg…

Bunyi sendok yang ia jatuhkan di atas piring lalu wajahnya ia palingkan dari arahku sembari tangannya ia lipat di depan dada.

Tampaknya suasana hati kak Ranty menjadi semakin buruk kala aku membawa ibu kami dalam pembahasan.

“Imut deh kakak kalo lagi ngambek begitu,” candaku untuk meluluhkan suasana hatinya.

“Ih,, apaan si Ran!” balas kakakku sebal.

“Gini deh, Randy janji kalo kakak udah lulus kuliah, Randy bakal bawa kakak ke Bandung bareng Randy,” ujarku kembali membujuknya.

Kak Ranty lalu menoleh ke arahku.

“Janji ya!” jawabnya sembari menyodorkan jari kelingkingnya ke arahku.

“Janji!” Aku lalu mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya.

Setelah itu kami kembali pergi jalan-jalan, saat itu kak Ranty yang mentraktirku untuk merayakan kelulusan.

“Ran!” panggilnya.

“Iya kak.”

“Nanti kalo kamu di Bandung kamu jangan nakal yah!”

“Nakal gimana kak?”

“Ya kamu cari cewek lain gitu.”

Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Mau seberapa banyak cewek yang deketin Randy pun, yang ada di hati Randy cuma kakak seorang,” balasku penuh keyakinan.

Kak Ranty tersenyum sambil memanyunkan bibir bawahnya seraya mencubit lenganku.

Aku lalu merangkul kak Ranty. Malam itu kami memutuskan bermalam di sebuah hotel untuk memadu kasih tanpa gangguan orang lain.

Di hotel itu kami bercinta dengan panasnya. Di sana aku mengeluarkan kemampuan yang di ajarkan oleh bu Siti, guru seks ku untuk memuaskan wanita.

Kak Ranty sampai terheran-heran dengan kemampuanku itu, namun aku hanya timpali dengan candaan dan beralasan kalau aku baca dari artikel di internet.

Setelah pertempuran penuh birahi malam itu, aku masih berbaring di atas ranjang hotel dengan kak Ranty yang berada di pelukanku.

“Ran!” panggilnya.

“Iya kak?”

“Kamu yakin mau nikahin kakak?” ujar kak Ranty mempertanyakan lagi tentang keseriusanku.

“Kenapa kakak ngomong kaya gitu?”

“Kakak takut aja kamu berubah pikiran, kakak udah kasih semua hati kakak buat kamu, kalo kamu ninggalin kakak, kakak mending mati aja.”

“Jangan mikir gitu kak, kan kita masih punya orang tua.”

“Kakak udah gak peduli sama papah apalagi mamah, kakak gak percaya lagi sama siapapun di dunia ini kecuali kamu” ucap kak Ranty sambil memukul ranjang tempat kami rebahan.

Kak Ranty kemudian menatap mataku.

“Kenapa kamu gak jawab pertanyaan kakak, apa kamu udah berubah pikiran? apa kamu udah gak cinta lagi sama kakak?” sergahnya lagi dengan nada tinggi.

Aku membalas tatapannya lalu memegang dagunya dengan jariku.

“Perasaan Randy sama kakak gak akan pernah berubah, Randy janji kalo Randy udah sukses nanti Randy bakalan nikahin kakak,” balasku kemudian mencium bibirnya.

_______________________

Rosmala (Ibuku)

Tidak banyak yang bisa aku ceritakan bersama ibuku. Dia hanya datang kepadaku ketika dia membutuhkan, dan setelah dia merasa puas dia berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.

Mungkin itu juga untuk meminimalisasi resiko hubungan incest kami ketahuan oleh orang lain, terutama ayahku.

Jadi ibuku hanya datang pada tengah malam setelah dia melakukan hubungan seks dengan ayahku dan menyelesaikannya denganku.

“Ran, kamu udah yakin mau pergi ke Bandung? gak minat lanjutin ke kuliah kaya kakakmu?” tanya ibuku.

“Yakin lah mah, lagian mau kuliah juga gak ada biaya, kalo kak Ranty kan dapet beasiswa,” jawabku menjelaskan.

“Berarti nanti kamu ninggalin mamah dong.”

Raut wajahnya penuh kecewa.

“Emangnya kenapa mah?” tanyaku memancingnya.

“Gak papa sih, mamah nanti jadi kesepian loh.”

Aku menghembuskan nafas panjang.

“Mamah kan bisa cari brondong lain,” ucapku dengan santai.

Ibuku tampak mengernyitkan dahinya.

“Kamu ini ngomong apa Ran, jangan bahas masalah yang udah-udah,” sergah ibuku.

Aku kemudian bangkit dari dudukku.

“Udah ah mah, Randy mau mandi dulu, gerah,” pungkasku lalu pergi ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi aku melepaskan pakaianku satu per satu lalu membasuh tubuhku dengan air.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

Tok…tok…tok…

“Siapa?” tanyaku dari dalam kamar mandi.

“Mamah Ran! bukain cepetan mamah mau pipis udah gak tahan!” perintah ibuku keras.

Aku kemudian membukakan pintu itu lalu ibuku masuk dengan buru-buru. Di dalam ibuku langsung mengangkat dasternya lalu jongkok dan…

Currrrr…..

Air seni keluar dari kemaluan ibuku sangat deras. Tanpa memperdulikannya aku kembali mengguyur tubuhku yang masih tersisa sabun.

Ibuku dari terus memandangi tubuh telanjangku dari bawah. Matanya kentara sekali melihat kontolku yang lemas namun menggantung panjang ke bawah.

Aku cuek dan pura-pura tak sadar atas apa yang dilakukan oleh ibuku. Setelah selesai ibuku meminta gayung yang aku gunakan untuk cebok dan menyiram pipisnya.

“Ran, pinjem gayungnya bentar buat nyiram pipis mamah,” pinta ibuku.

Aku tak memberikannya melainkan mendekati ibuku dengan gayung yang terisi air.

“Sini, Randy yang cebokin.”

Aku lalu membungkuk dan menyirami kemaluan ibuku beberapa kali sambil mengusap-usap bibir vaginanya.

Ibuku diam serta matanya merem melek merasakan tanganku yang sedang mencebokinya. Tangan ibuku memegang lenganku dan sedikit meremasnya.

Setelah selesai aku tarik semua tanganku.

“Udah mah,” ucapku sembari kembali mandi.

Ibuku lalu berdiri dan menurunkan dasternya. Lalu beranjak dari kloset menuju ke pintu.

Namun beberapa saat aku tidak kunjung mendengar suara pintu dibuka, lalu tiba-tiba…

Deggg…

Aku melihat dua buah tangan melingkar di dadaku. Ibuku memelukku dari belakang, badannya ia tempelkan di badanku sehingga membuat dasternya menjadi basah.

“Ran, jangan tinggalin mamah!” pintanya sembari membenamkan wajahnya di punggungku.

Aku kemudian membalikkan badanku. Aku tatap matanya, ku pegang kedua pipi ibuku. Aku tak menjawab permintaannya karena keputusanku sudah bulat.

Lalu perlahan wajahku mendekati wajah ibuku dan…

Cuppp….

Aku mencium bibir ibuku penuh nafsu. Ibuku membalasnya dengan bergairah pula.

Sejenak aku membalikkan tubuh kami sehingga kini dia yang berada di pinggir bak mandi.

Tanpa menunggu waktu lama langsung ku angkat dasternya hingga vagina ibuku menampakkan diri lalu ku bopong ibuku untuk duduk di tepi bak mandi.

Kedua tangan ibuku ia letakkan di bahuku. Lalu aku langsung mengarahkan kontolku ke memeknya dan…

Blesss…

“Ouhhh…Rhann…genjottt…Rhann…mamahh…udahh..***k…tahannn…!!!” ujarnya.

Aku kemudian langsung memompanya.

Plokkk…plokkk…plokkk…plokkk…

“Ahhh…Rhann…khalloo…khamuuu…perghiii…siaphaa…yanggg…muashinnn…mamahhh…Rhann…ouhhh…!!!” desah ibuku di sela-sela pompaanku di vaginanya.

Kaki ibuku melingkar di pinggangku. Aku merasakan kalau ibuku sudah hampir mencapai klimaks.

Maka ku percepat pompaan kontolku di memeknya. Saat kontraksi vagina ibuku menguat tanda detik-detik menjelang orgasme, tiba-tiba…

Tokkk…tokkk…tokkk…

Seseorang mengetuk pintu kamar mandi. Aku reflek langsung membenamkan kontolku dan menahannya agar tidak bergerak, lalu aku bungkam mulut ibuku dengan tangan kiri agar tidak menimbulkan suara.

Matanya tampak terbelalak dan badannya menegang, kaki ibuku kelojotan dengan tumit yang ia luruskan mirip seperti orang berjinjit.

“Siapa di dalem?” tanya ayahku dari balik pintu.

Deggg…

“Gawat!” batinku panik.

“Ee….iya ada apa pah?” tanyaku dengan nada gugup.

“Cepetan papah udah mules nih,” ayahku kembali menggedor-gedor pintu.

“Aa…aduh pah, Randy lupa bawa anduk nih pah, bisa tolong ambilin bentar pah, di jemuran belakang!” pintaku berbohong padanya.

Padahal aku sudah membawa handukku di dalam kamar mandi.

“Alah kamu ini gimana sih Ran, mandi aja lupa bawa anduk, ya udah papah ambilin dulu.”

Ayahku lalu pergi berlari untuk mengambilkanku handuk. Tak membuang kesempatan aku langsung menurunkan ibuku yang sedang kentang itu, lalu buru-buru keluar sebelum ayahku kembali.

Saat ibuku sudah keluar aku tutup pintunya kembali. Kemudian ayahku datang.

“Yang ini bukan Ran!” ujar ayahku dari luar.

Aku lalu membuka pintu sedikit dan mengeluarkan kelapaku.

Ternyata yang diambil milik kak Ranty, namun aku iyakan saja lalu mengambilnya dan masuk kembali.

Aku balutkan handukku di dalam handuk kak Ranty agar tidak dicurigai.

_______________________

Ririn

Dia lulus dengan peringkat 3 terbaik paralel. Itu adalah pencapaian yang luar biasa.

“Randy! gue dapet beasiswa buat lanjutin kuliah S-1 jurusan kedokteran!” serunya dari kejauhan lalu menghampiriku.

Aku ikut berbahagia untuknya. Mungkin itu memang sudah menjadi jalan Ririn untuk meraih cita-citanya.

“Wah, selamat ya Rin! gue ikut seneng dengernya, lu liat kan, sekarang cita-cita lu bukan omong kosong belaka, itu udah di depan mata lu, terus berjuang dan jangan pernah menyerah!” pungkasku sambil mengacak-acak rambutnya.

Ririn tersenyum lalu mengangguk.

“Makasih ya Ran, udah bantu gue numbuhin rasa percaya diri, mulai sekarang gue harus mandiri, gue harus lawan orang-orang yang ngebuli gue.”

Aku mengacungkan jari jempolku.

“Bagus, tunjukin sama orang-orang yang pernah ngebuli lu kalu lu bisa lebih baik dari mereka, balas dendam sama mereka tapi dengan cara yang benar.”

“Caranya?” tanya Ririn penasaran.

Aku lalu mendekatkan bibirku ke telinganya.

“Balas dendamlah dengan menjadi sukses!”

Ririn mengangguk penuh semangat.

_______________________

Siti (ibu dari Ririn)

Saya nikahkan engkau ananda Randy Aditya Wibowo bin Akbar Solikin dengan Siti Alawiah binti Komaryatun dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu rupiah dibayar tunai.

Saya terima nikahnya Siti Alawiah binti Komaryatun dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu rupiah dibayar tunai.

Sah!

Akhirnya bu Siti sah menjadi istriku meski hanya berstatus siri.

Bu Siti lalu mencium tanganku dan kita berdoa bersama tanpa adanya sanak keluarga yang datang.

Bu Siti memang memintaku untuk menikahinya hanya agar dia merasa memiliki suami ketika anaknya lahir.

Dia bahkan tahu kalau aku akan pergi merantau dari Jakarta dan dia tidak mempermasalahkannya sama sekali.

Yah, kapan-kapan kalau ada waktu aku akan mengunjunginya.

_______________________

LISA

Setelah kejadian di gunung kami menjadi jarang bertemu. Mungkin Lisa sibuk dengan urusan pribadinya.

Sampai suatu saat dia menelfonku dengan nomor baru karena hpnya yang dulu hilang tenggelam di danau.

“Halo?” sapaku kepada orang seberang telefon.

“Halo Ran?”

“Lisa?” Suaranya sangat familiar.

“Iya, hehe…”

“Kok tau nomer hp gue, kan hp lu ilang.”

“Gue inget dong!”

“Oke lah, kenapa? kok tumben nelfon.”

“Gini Ran, gue mau ketemu bisa gak?”

“Boleh deh, ketemu dimana?

“Di kafe Rainbow, besok jam 9 malem.”

“Malem amat,” ujarku kepadanya.

“Gue bisanya jam segitu.”

“Oke deh.”

“Udah dulu ya, bye.”

“Bye.”

Aku pun menutup telefon. Aneh memang, kami sudah lebih dari dua minggu tidak bertemu. Tapi hari ini tiba-tiba dia mengajakku untuk bertemu.

Besoknya pada malam hari aku datang sesuai janji. Di sana aku duduk di salah satu meja. Aku pun menghubunginya.

Saat nada terhubung mulai terdengar tiba-tiba..

“Ran!” panggil seseorang.

Aku pun menoleh ke sumber suara.

“Lisa!”

Aku sempat terkejut melihatnya mengenakan pakaian waiters.

Lisa tersenyum lalu duduk di hadapanku.

“Lu kerja di sini?” tanyaku kepadanya.

Dia hanya mengangguk.

“Oh, sip lah,” jawabku sambil mengacungkan jempol.

“Sementara sih, daripada di rumah gabut, hehehe…”

“Iya gue juga gabut di rumah, hahaha…”

“Eh, lu udah ada rencana mau kemana?”

“Gue mau ke Bandung, mau ikut seleksi pelatnas.”

“What?” Lisa sedikit terkejut.

“Lu tau pemain yang namanya Justin yang ikut POM dulu?”

Lisa mengernyitkan dahinya tampak sedang mengingat-ingat.

“Iya inget!”

“Nah dia itu pemain pelatnas, dia yang ngajakin gue buat ikut seleksi,” pungkasku menjelaskan.

“Oh gitu, selamat deh, berarti berkat gue, lu jadi punya masa depan ya hahaha…”

“Hehehe,, bener juga sih, mungkin emang udah jalannya.”

“Kapan lu berangkat ke Bandungnya?”

“Habis terima ijasah gue langsung berangkat, doain gue biar bisa lolos seleksi ya.”

“Siiippp!” Lisa mengacungkan jaru jempolnya.

Lisa kemudian mengambil sesuatu dari saku bajunya.

“Ran, gue mau kasih sesuatu,” ucapnya sambil menunjukkan sebuah liontin berbentuk hati yang bisa dipisahkan.

Ada inisial L dan R di sana. Aku kemudian memegangnya.

“L ini buat Left, R ini buat Right?” ucapku dengan polos.

Lisa lalu menabok lenganku.

“Bego ihh, itu tuh inisial nama, L buat gue (Lisa) dan R buat lu (Randy),” balasnya menjelaskan.

Aku hanya tertawa cengengesan. Kemudian aku pisahkan liontin hati itu hingga menjadi setengah hati. Lalu ku berikan hati berinisial R kepadanya dan L untuk diriku sendiri.

“Semoga dengan ini kita, persahabatan kita gak akan pernah lekang oleh waktu,” ujar Lisa dengan penuh senyuman.

“Gue gak akan pernah lupa sama lu, selamanya,”

Kami pun mengaitkan kedua kelingking kami.

Kita memang saling mencintai, tapi kata orang cinta tidak harus memiliki, benar begitu bukan?

END

Pembantu binal
Mbak Yeyen Pembantu Binal Yang Suka Maksa
Tante Lisa Ibu Kost Yang Liar
pembantu
Menikmati pemerkosaan ini yang membuat ku ketagihan
ngentot hot
Cerita hot pacar kakak ku yang tau cara memuaskan wanita
500 foto chika bandung bangun tidur capek habis ngewe semalam
Foto bugil gadis berjilbab yang alim toge masih perawan
suster hot
Ceritaku waktu di mandiin suster cantik waktu di rawat di RS
500 foto chika bandung bugil mandi dulu sebelum ngentot dengan pacar
Foto mahasiswi cantik foto bugil setelah cukur jembut
ABG Putih mulu berkaca mata lagi sange colok memek berbulu
Dasar… Baby Maker!
gadis lugu
Cerita dewasa memaksa anak ibu kost yang pendiam dan masih perawan
tante sexy
Ngentot tante sexy selingkuhan bule kaya raya
perawan
Terimakasih Untuk Keperawanan Mu
Tante hot suka ngentot
Pemuda Perkasa Yang Bisa Memuaskan Hasrat Sexs Ku
terapis pijat cantik
Kocokan terapis panti pijat yang bikin ketagihan