Part #4 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Aku berjalan kembali ke dalam stadium tempat pertandingan digelar, saat itu semua mata masih tertuju pada laga itu. Hal itu aku manfaatkan dengan cepat untuk memakai jaket agar lukaku tidak kelihatan. Meskipun begitu darah masih mengalir di sepanjang lengan hingga ujung jariku.

Setelah memakai jaket dan mengambil tas aku bersiap untuk pergi dari situ, namun si Gembul yang sedang duduk di bench mengetahui hal itu.

“Oi, mau kemana lu?” tanya dia kepadaku.

“Mau cabut,” jawabku singkat.

“Jangan pergi dulu pertandingan kan belum selesai,” cegahnya.

“Tinggal satu quarter poinnya jauh, udah pasti menang,” kataku mengelak.

“Ya udah, tapi besok pertandingan perempat final, jangan sampe gak dateng,” imbuhnya.

Aku diam saja tak menjawabnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

“Jangan harap,” ucapku dalam hati.

Di jalan sambil mengendarai motorku aku melamun mengingat kejadian tadi, saat itu hatiku benar-benar hancur. Wanita yang aku sukai ternyata telah merelakan tubuhnya untuk lelaki lain.

 

Lalu kejadian beberapa hari yang lalu saat aku dan Lisa menghabiskan waktu berdua itu hanya siasatnya agar aku mau bergabung dengan tim Dimas, bukannya dia benar-benar menyukaiku.

“Bodohnya gue!!!” umpat ku kepada diriku sendiri.

Tak tau mau kemana akhirnya aku mengarahkan motorku ke warung milik Ririn. Mungkin saja dengan menyeruput secangkir kopi dan makan gorengan sedikit membuat hatiku tenang.

Sesampainya di sana aku melihat warungnya sepi, ya karena hari ini adalah hari sabtu wajar saja kalau warungnya sepi.

Aku pun langsung masuk dan duduk di meja kayu yang tersedia di sana. Mendengar ada seseorang yang masuk, pemiliknya pun keluar.

“Loh, Randy kok tumben hari libur dateng ke sini?” tanya Ririn agak sumringah melihat kedatanganku.

Aku memang sudah lama merasa bahwa Ririn punya rasa terhadapku, tapi aku sendiri tidak memiliki rasa apa-apa terhadap dirinya, dan hanya menganggap dia sebagai teman saja.

“Hehe,, gak papa, lagi kangen aja sama lu.”

Tiba-tiba wajahnya jadi memerah mendengar kata-kataku itu.

“Gombal,” jawabnya singkat.

Saat Ririn menyusul ku duduk di kursi yang menghadap ku Ririn melihat ada darah yang mengalir dari telapak tanganku.

“Ya ampun tangan lu kenapa?” tanyanya panik.

“Enggak papa, tadi habis jatuh di kamar mandi.”

“Kok bisa?” tanyanya lagi namun tak menunggu jawabanku, dia langsung mengambil kotak P3K.

“Sini, buka jaketnya!” perintah Ririn.

Aku pun membuka jaketku dan menunjukkan luka itu kepadanya.

“Ya ampun ini sih luka robek, harus dibawa ke rumah sakit buat di jahit,” ucapnya panik.

Dia kemudian memberikan pertolongan pertama dengan betadine dan diperban sementara agar lukaku tidak infeksi.

Aku menatap wajahnya saat dia sedang menangani lukaku, aku melihat wajahnya yang hitam manis itu dipenuhi dengan bulir keringat.

Lalu aku mengelap keringat yang ada di dahinya itu dengan tangan satunya yang tidak terluka.

“Biasa aja dong, gak usah sampe keringetan begitu, hehehe..” ucapku menggodanya.

Dia agak salah tingkah kemudian dia mengelap dahinya dengan lengan bajunya, kanan dan kiri.

“Apaan sih!” protesnya singkat. Kemudian dia melanjutkan untuk membalutkan perban di tanganku.

Aku kemudian menyanggah daguku dengan telapak tangan sembari menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya.

Namun aku lupa kalau telapak tanganku masih basah karena keringat dari Ririn itu. Alhasil keringat itu menempel juga di wajahku, tapi aku tidak memperdulikannya.

Agak lama juga dia membalutkan perban di tanganku, dia terlihat hati-hati sekali.

Setelah selesai dia menaruh kembali kotak P3K ke tempat semula.

“Makasih ya Rin.”

“Iya jangan lupa habis ini ke dokter ya,” pinta Ririn kepadaku.

“Hehe, ini juga udah rapet kok.”

“Itu cuma buat sementara aja.”

Aku pun hanya mengiyakan saja permintaannya. Karena terlalu asik aku jadi lupa tujuanku datang kemari.

“Ouh ya Rin, bikinin kopi dong satu sama gorengannya sepuluh ribu aja, campur.”

“Bentar yah.” balasnya singkat.

Dia kemudian masuk ke dalam untuk membuatkanku kopi, namun tidak lama kemudian dia kembali keluar.

“Aduh Ran, air panasnya habis, gue ambil dulu di rumah ya?” ucap Ririn.

“Oke deh,” jawabku sambil mengacungkan jempol.

Rumahnya memang tidak terlalu jauh, namun jalan masuknya harus melewati gang kecil yang berkelok-kelok sehingga butuh waktu agak lama untuk sampai di sana.

Setelah Ririn pergi suasana jadi sepi, tidak ada satupun orang yang mampir ke warung ini, aku pun iseng membuka hp.

Ada 5 pesan dan 7 missed call, aku buka ternyata itu dari Lisa beberapa menit yang lalu.

“Ran, lu dimana? kok tiba-tiba ngilang?” Aku membaca salah satu pesannya, namun tak ku hiraukan, selamanya aku tak akan pernah membalas pesannya lagi.

Iseng aku melihat status teman-temanku di wa, Ririn,”Kedatangan tamu spesial @randy_11.” isi status Ririn.

“Alay juga si Ririn itu.” ucapku dalam hati.

Lisa,”Selamat berjuang!” isi captionnya dengan foto seluruh tim kami sebelum pertandingan tadi. Di dalam foto itu aku melihat Lisa ada di samping Dimas sambil berpegangan tangan.

“Shitt!!! Harusnya gue udah tau dari awal kalo mereka memang ada hubungan khusus.” Aku sedikit menggebrak meja menyesali semua yang telah terjadi.

Aku tutup wa ku, aku buka aplikasi lain yang sekiranya bisa menghapus rasa bosanku.

Beberapa saat kemudian tiba-tiba ada seseorang yang memarkirkan motor matic di depan warung itu.

“Ada tamu nih,” pikirku.

Namun saat orang itu masuk aku mengetahui kalau ternyata dia adalah Lisa.

Aku kemudian bangkit dari tempat duduk itu lalu beranjak akan pergi, tanpa memperdulikannya aku berjalan melewati dia namun dia berhasil menahanku sebelum aku benar-benar pergi.

“Randy tunggu!” perintahnya seraya menahan tanganku agar tidak pergi.

Aku lalu menepis tangannya.

“Minggir!!!” ucapku membentak.

“Lu kenapa sih? kenapa lu tiba-tiba bersikap kaya gini,” tanyanya tak kalah keras.

“Minggir,, gue mau pulang!!!” Aku tak memperdulikan pertanyaannya itu.

“Gue butuh penjelasan!” Lisa masih ngotot menahanku.

Aku tatap wajahnya dengan penuh amarah.

“Lu mau penjelasan?”

“Iya!”

“Sini ikut sama gue!” Aku kemudian menarik tangannya untuk ikut bersamaku.

Aku bawa dia ke sebuah toilet di sekolah, kebetulan saat itu gerbang belakang sekolah tidak dikunci dan toilet itu tempatnya tak jauh dari gerbang.

Lisa menurut saja ketika aku bawa ke dalam salah satu bilik toilet itu, setelah masuk aku kemudian menguncinya.

Lisa masih terdiam saat aku menatapnya dengan tatapan pemangsa.

Kemudian aku dorong dia hingga dia bersandar pada tembok toilet itu.

Dengan buas dan kasar aku cium bibirnya, aku tahan lehernya dengan telapak tangan kananku seperti sedang mencekik.

Lalu tangan kiriku aku arahkan ke dadanya sebelah kanan, aku meremasnya secara kasar.

Lisa meronta-ronta lalu mencoba mendorongku, aku yang didorongnya kemudian melepaskan ciuman dan tangan kiriku yang ada di dada kanannya.

PLAKK!!!!

Aku pun ditampar olehnya, aku melihat air mata menetes mengalir di pipinya.

“Apa yang lu lakuin Ran? kenapa lu tiba-tiba bersikap gini sama gue?”

“Apa?? Kenapa?? Kenapa Dimas boleh dan gue gak boleh?” Bentakku kepadanya.

Mendengar perkataanku itu wajahnya menjadi pucat pasi.

“M..M..Maksudnya?” tanya Lisa terbata-bata.

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya.

“Waktu pertandingan tadi, di toilet lu sama Dimas…” ucapku berbisik.

Tak ku lanjutkan perkataanku, dari situ saja aku sudah yakin bahwa Lisa paham apa yang aku maksud.

Lisa tampak menundukkan kepalanya tak berani melihat wajahku.

“G..G..Gue bisa jelasin.”

“Gak ada yang perlu dijelasin!” ucapku kembali membentak.

Aku kemudian membuka pintu toilet itu dan pergi meninggalkannya, sekilas aku melihat dia tampak berjongkok, memeluk kakinya dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya itu. Aku tak peduli lagi.

Aku kembali ke warung Ririn, ternyata dia sudah kembali dengan kopi dan gorengannya.

“Lu habis dari mana? dari tadi gue cariin,” tanyanya.

“Habis dari toilet Rin,” jawabku singkat.

“Eh, sorry nih kayaknya gue harus cepet-cepet ke rumah sakit nih, lama-lama lukanya tambah sakit,” ucapku mencari alasan agar bisa pergi dari situ.

“Ouh gitu, terus ini kopi sama gorengannya gimana?”

“Buat lu aja, hehe..” jawabku sambil memberikan uang kopi dan gorengan yang aku pesan.

“Gak usah Ran, bawa aja.” Ririn menolak uang pemberianku itu.

“Gak papa,” jawabku singkat lalu pergi secepatnya.

Aku bisa bertemu dengan Lisa lagi kalau aku terlalu lama di situ.

Bersambung

abg sexy
Cerita ngentot kegadisan ku yang di renggut pakdhe ku sendiri
mertua tersayang
Cerita sex nikmatnya ngentot ibu mertua ku
model hot
Menikmati tubuh istri teman sendiri yang luar biasa
dukun cabul sexy
Cerita hot kisah si dukun cabul bagian tiga
belahan dada pembantu
Nikmatya Memek Sempit Pembantu Ku
dukun cabul
Cerita dukun cabul yang menikmati tubuh pasien nya bagian satu
Cerita Dewasa Enak-Enak Dengan Dosen Di Kampus
tetangga hot
Cerita dewasa terkagum kagum dengan tubuh mulus tetanggaku
cewek perawan bugil
Melly, Pacarku Yang Masih Perawan
sex Sedarah dengan mama
Keperjakaanku Di Ambil Mama Ku Sendiri
Foto ngentot memek bersih SPG rokok
tante hot
Cerita sex aku dan tanteku yang sexy
pacar alim dan lugu
Cerita ngajakin ML pacar yang alim dan lugu
Black Circle
Foto bugil tante cantik susu gede sudah lama tidak ngentot
rintihan Kenikmatan
Rintihan Kenikmatan Istriku Bercinta Dengan Pembantu