Part #6 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Aku berjalan menghampiri Reza dan kak Ranty saat tiba-tiba ada yang memanggilku.

“Randy!”

Aku kemudian menoleh ke arah sumber suara.

LISA….

Dia terlihat menundukkan kepalanya namun matanya tepat menatapku.

Aku kemudian menghampirinya, dia masih menunduk kemudian tangannya terulur.

“Selamat ya atas kemenangannya,” ucap Lisa kepadaku.

Aku menghela nafas.

“Kenapa di saat seperti ini gue ketemu sama dia,” ujarku dalam hati.

Bukannya aku belum bisa memaafkannya, tapi aku masih butuh waktu untuk sendiri, waktu untuk menerima kenyataan bahwa dia takkan pernah bisa jadi milikku.

“Iya terima kasih,” kataku sambil menjabat tangannya.

Sejenak kami terdiam dengan rasa canggung yang kami rasakan.

Setelah bersalaman aku pun berbalik, namun sebelum beranjak aku kembali menoleh sedikit.

“Lis, jaga diri lu baik-baik ya,” pesanku kepadanya lalu pergi beranjak.

Setelah itu aku kembali ke tujuanku yaitu kak Ranty, namun dia sudah tidak ada di situ.

“Kemana kak Ranty ya?” tanyaku dalam hati.

Setelah aku cari-cari keliling stadium ternyata dia sudah berada di luar bersama pacarnya.

“Beh, berdua-duaan mulu nih orang.” Aku kemudian mendekati mereka.

“Kak, habis ini temenin Randy yok beli sepatu basket, yang ini udah gak enak,” ujarku berbohong.

“Mana ada? masih bagus gitu kok,” ucap kak Ranty.

“Udah gak enak kak, bukan udah rusak, lagian minggu depan kan semi final jadi harus pake yang nyaman.” Kembali aku mencari alasan untuk mengganggu janji mereka.

“Sepatu lu ukuran berapa? mau yang model apa? entar kita yang beliin,” ujar Reza menyanggah kata-kataku.

“Ogah, gue penginnya pilih sendiri.”

“Tapi kakak hari ini gak bisa Ran, besok aja ya, apa kamu pergi bareng Lisa aja.”

“Besok udah masuk sekolah kak, ya tapi kalo emang gak mau ya gak papa,” ucapku santai namun terlihat mengancam.

Aku lalu menjauhi mereka perlahan, pura-pura akan pergi sampai akhirnya…

“Ran, tunggu!” panggil kak Ranty.

Aku melirik ke arahnya, kemudian mereka terlihat berbincang hanya dengan menggunakan mimik wajah.

Aku tahu kalau mereka takut aku akan menolak untuk bertanding di semi final minggu depan kalau mereka tidak menuruti permintaanku.

“Ya udah Ran, kakak temenin,” ujarnya dengan wajah kecewa.

“Gagal nih ena-enanya hehehe,” tawaku dalam hati.

Setelah itu kami pun pulang ke rumah, aku yang sudah basah karena keringat lalu mandi untuk membersihkan tubuhku.

Aku belum punya rencana setelah ini, tujuanku hanya ingin membatalkan janji mereka.

Setelah aku mandi, kami pun bersiap-siap untuk pergi, masih terlihat wajah sebal yang ditunjukkan kak Ranty karena gagal ngedate bersama Reza.

“Udah sange malah batal hehehe,” tawaku dalam hati.

Kami pun berangkat ke salah satu mall yang ada di kotaku, sesampainya di sana kami jalan-jalan melihat lihat barang yang dijual di sana.

“Ran, katanya mau beli sepatu,” tanya kak Ranty yang merasa kami sudah cukup lama berputar-putar di mall itu tanpa arah tujuan.

“Ehm,, sebenernya sih Randy gak ada niatan mau beli sepatu, Randy gak punya uang ehehe,” jawabku jujur.

“Terus ngapain kamu ngajak kakak beli sepatu kalo kamu gak ada niat beli sepatu?” Omel kak Ranty kepadaku.

“Randy cuma pengin jalan-jalan aja sama kakak, ngobrol bareng, pengin deket sama kakak, kan jarang-jarang kita bisa begini,” jelasku panjang lebar.

Kak Ranty pun terdiam, namun sudah tidak menampakkan wajah kesalnya.

“Yok kita cari sepatu basket buat kamu,” ajak kak Ranty seraya menarik tanganku.

“Eeh kak, Randy gak punya uang buat beli sepatu,” tolakku lirih.

“Kakak yang beliin,” jawab kak Ranty.

Aku hanya menurut saja. Kemudian kami masuk ke toko sepatu, saat aku melihat harganya mataku terbelalak, harganya hampir tiga kali lipat dari harga sepatuku yang kemarin.

“Udah kak, gak usah dibeliin, yang kemarin juga masih bagus kok.”

Kakakku kemudian mengambilkan sebuah sepatu untukku.

“Nih Ran, yang ini bagus, kayaknya cocok buatmu.”

Aku pun mencobanya, dan benar sepatunya terasa nyaman sekali di kaki, tapi setelah aku cek harganya ternyata empat kali lipat harga sepatuku.

“Mahal banget kak,” ujarku singkat.

“Shhtt..” Kak Ranty tak menjawab, melainkan hanya memberi isyarat agar aku diam.

Setelah itu kami kembali jalan-jalan, nonton film dadakan di bioskop mall tersebut.

Aku merasa bahwa kak Ranty orang yang baik dan care. Selama ini aku salah sangka terhadapnya, aku mengira kalau dia orang yang sombong karena dia pintar dan disukai oleh banyak orang, berbanding terbalik dengan diriku yang bodoh.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Saat itu kami sedang makan di sebuah warung makan pinggir jalan yang tidak terlalu ramai.

Saat sedang menunggu pesanan tiba, kami kembali mengobrol.

“Kak, makasih ya! duh jadi dibeliin sepatu gini kan.”

“Gak papa buat jagoan kakak yang tadi mainnya te-o-pe be-ge-te,” jawabnya sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Aku hanya tertawa mendengar perkataan kak Ranty itu.

“Eh Ran, kakak mau nanya sama kamu.”

“Nanya apa kak?” tanyaku penasaran.

“Kamu ada masalah apa sama Dimas?”

Sejenak aku terdiam, kak Ranty menatapku dengan penuh perhatian, aku jadi sedikit salah tingkah.

“Jadi gini kak….” Aku pun menceritakan seluruh kejadian dari awal sampai akhir dengan jujur tanpa aku tambahkan dan kurangkan.

Dari mulai hubungan dan perasaanku terhadap Lisa, bagaimana aku bisa sampai diajak masuk tim itu, sampai kejadian di dalam toilet antara Dimas dan Lisa.

Aku bercerita sembari kami menyantap makanan yang sudah dihidangkan.

Kak Ranty mendengarkanku dengan seksama, dia terlihat begitu antusias terhadap masalah yang aku alami.

Aku merasa diperhatikan, itu membuatku merasa nyaman bercerita dan mengungkapkan semua uneg-uneg yang ada di hatiku.

“Ya tuhan, sisain satu cewek seperti kak Ranty buat hamba nanti, kalo gak ada, kak Rantynya juga gak papa,” mohonku dalam hati.

Kita ngobrol panjang lebar hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB.

Saat perjalanan pulang ke rumah, kak Ranty tiba-tiba berbicara.

“Ran, temenin kakak ke suatu tempat sebentar yah,” pinta kakakku.

“Kemana kak?” tanyaku balik.

“Udah ikutin aja arahan kakak.”

Aku pun mengiyakan saja permintaan kakak.

“Memangnya mau kemana malam-malam gini?” batinku.

Kakakku mengarahkan ku ke tempat tempat yang lebih tinggi, itu aku ketahui karena jalanan yang kita lewati terus menanjak.

“Kemana sih kak? jauh banget ish,” tanyaku penasaran.

“Nanti kau tau deh,” jawabnya singkat.

Aku merasa lampu jalan mulai minim dan suhunya semakin dingin.

Beberapa lama kemudian kamipun sampai di tempat yang kak Ranty maksud.

Di sana aku melihat ada banyak gubug kecil yang terpasang berjejeran.

“Ini tempat apa kak?” Aku pun bertanya padanya.

“Liat ke sebelah situ!” ucapnya sambil menunjukkan ke bawah bukit.

Aku melihat ke arah yang ditunjuk, terdapat lampu rumah-rumah yang ada dibawah bukit, terlihat indah dari atas.

“Ini namanya bukit bintang,” jawabnya.

Aku hanya mengangguk lirih.

“Biasanya rame kalo lagi tahun baru, soalnya bisa liat kembang api dengan lebih jelas,” ujarnya.

Oh itu sebabnya banyak gubug di sini, untuk melihat kembang api.

“Terus maksudnya kakak ngajak aku ke sini itu apa,” tanyaku menyelidik.

Kak Ranty kemudian terdiam, tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Dia berjalan ke tepi bukit itu, aku jadi khawatir kalau dia terpeleset masuk ke jurang.

Lalu dia bercerita.

“Dulu kakak pernah ngalamin hal yang sama kaya kamu.”

Aku lalu mendekatinya dari belakang, hanya berjarak satu meter.

“Dulu waktu kakak masih SMA, kakak pernah suka sama seseorang, dan dia juga suka sama kakak.”

“Dia nyatain perasaannya di sini, tepat disini,” katanya sambil menunjuk ke arah tempat ia berdiri sekarang.

“Waktu itu kakak bahagia banget bisa pacaran sama dia.” imbuhnya.

“Kakak serahin semua yang kakak punya sama dia, termasuk keperawanan kakak.”

Degg

Aku terkejut mendengar cerita kakak barusan. Karena selama ini aku merasa bahwa kak Ranty adalah orang teladan yang jauh dari skandal.

“Tapi kebahagiaan kakak gak bertahan lama.” Kak Ranty mencoba meneruskan ceritanya.

“Ternyata di belakang kakak dia selingkuh dengan sahabat kakak sendiri.”

“Gak cuma itu, mereka selingkuh sampai dia hamil!”

“Saat itu kakak bener-bener hancur.”

“Lalu kakak mencoba bunuh diri, di sini dengan lompat ke bawah.”

Aku sempat tidak percaya dengan apa yang kak Ranty katakan, tapi melihat dari bahasa tubuhnya aku tahu kalau kak Ranty berkata jujur.

“Tapi saat kakak akan lompat, kakak tersadar satu hal, kalo kakak gak sendirian, hidup kakak gak bergantung sama dia, kakak masih punya keluarga yang sayang sama kakak,” ucapnya kemudian wajahnya mulai berurai air mata.

Aku jadi prihatin dengannya, kak Ranty yang selama ini aku pikir hidup bahagia dikelilingi orang-orang yang selalu memujinya, selalu dibangga-banggakan oleh kedua orang tuaku.

Ternyata dia menyimpan suatu masalah yang berat.

Aku kemudian mendekatinya lalu kupeluk dia dari belakang. Tangan kananku melingkar di atas dadanya, tangan kiriku melingkar di perutnya.

“Maafin Randy kak, selama ini Randy gak pernah peduli sama kakak, Randy gak pernah mau tau masalah kakak,” ucapku kepadanya.

Kak Ranty hanya mengangguk, namun air matanya masih terus mengalir.

“Mulai sekarang Randy janji kak, Randy bakal selalu jagain kakak dengan sepenuh hati Randy.”

“Randy gak akan biarin kakak disakitin sama orang lagi, Randy janji!” ucapku seraya memeluk kak Ranty lebih erat.

Saat itu aku bisa mencium bau harum dari parfum kak Ranty di lehernya.

Di saat momen-momen seperti itu tiba-tiba ada sebuah angin yang berhembus lirih dan pendek tepat ke arah wajah kita (seperti orang sedang meniup).

Entah kenapa tiupan angin itu sedikit memabukkan, membuat kepalaku seperti ngefly.

Aku merasa bau parfum itu semakin semerbak merangsangku.

Kemudian aku cium pundak kak Ranty, ku tempelkan hidungku di sana, ku hirup dalam-dalam bau parfum yang bercampur dengan bau tubuh kak Ranty itu.

Betul-betul memabukkan.

Kak Ranti masih terdiam, entah dia merasakan kejanggalan atas perbuatanku atau tidak.

Kemudian ku turunkan sedikit pelukan tangan kananku, sekarang berada tepat di payudaranya, namun tidak aku tekan hanya ku tempelkan saja tanganku di payudaranya yang tertutup bh.

Aku takut apabila kak Ranty sadar atas apa yang sedang terjadi, dia bisa saja menghentikannya.

Tangan kiriku ku tempelkan di area perutnya, aku merasakan perutnya kembang kempis, nafasnya naik turun dengan lebih cepat dari sebelumnya.

Tak ada penolakan darinya tangan kananku kembali ku turunkan sedikit, kini berada di bawah payudaranya.

Aku angkat sedikit tangan kananku sehingga payudaranya kini disangga oleh tanganku.

Aku tidak tahu lagi kalau kakakku masih tidak merasakan kejanggalan atas perbuatanku padanya itu yang sudah kelewat batas.

Kemudian aku kembali fokus terhadap ciumanku yang ada di bahunya, aku naikan ciumanku ke lehernya, kembali aku hirup di sepanjang perjalanan bibirku dari bahu hingga lehernya, naik turun.

Kak Ranty masih tak bergeming, justru aku melihat dia memiringkan kepalanya ke arah kanan memberikan akses yang lebih luas kepadaku untuk mencumbui lehernya.

Mendapatkan lampu hijau aku mulai menjadi lebih berani lagi, aku naikkan tangan kananku lagi hingga berada tepat di payudaranya, lalu aku remas perlahan toketnya sebelah kiri dengan tangan kanan.

Kemudian ciumanku yang tadinya hanya hirupan, sekarang berubah menjadi jilatan dan aku gigit kecil-kecil di beberapa area lehernya.

“Ehmm…ahhh!!!” desah kak Ranty merasakan cumbuanku itu.

Sekarang posisi kepalanya tidak hanya miring ke kanan namun agak mendongak dan bersandar di bahuku sebelah kanan, memberikan akses lehernya bagian depan.

Tak aku sia-siakan kesempatan itu, bibirku kemudian bergerak ke bagian depan lehernya.

Tangan kananku yang semula meremas toketnya sebelah kiri, aku masukkan perlahan ke dalam bajunya.

Namun saat tanganku setengah perjalanan sampai di sana, tiba-tiba dia berontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukanku.

Aku yang sadar langsung menarik semua tanganku yang sedari tadi mengeksplore tubuhnya, lalu sedikit mundur.

Setelah terlepas dari pelukanku kak Ranty kemudian berbalik.

Dengan nafas yang terengah-engah kak Ranty menatapku, wajah dan rambutnya sedikit kusut. Kak Ranty mengernyitkan dahinya, aku tidak tahu ekspresi apakah yang dia tunjukkan.

Dia telah sadar!

“Waduh marah kah, kak Ranty?” batinku.

Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat itu, apakah hubunganku dengan kak Ranty akan hancur sebelum satu pilar pun berdiri.

Aku menunduk bersiap untuk mendapatkan tamparan dari dirinya akibat sikap kurang ajarku.

Kak Ranty kemudian mendekatiku yang tertunduk, tanpa disangka oleh diriku dia tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya di leherku lalu menciumku dengan ganasnya sampai-sampai kepalaku terdorong mendongak ke belakang.

“Emmmh…ahhhh…”

“Emmmuahhhh…ahhhh…”

Bersambung

Tante Linda Yang Ganas Dan Haus Akan Sex
Aku Diperkosa Oleh Guruku Sendiri
anak ibu kost
Menjadi Guru Yang Baik Untuk Anak Ibu Kost Ku Yang Cantik
sedarah
Bercinta Dengan Tante Dan Ibu Kandungku
penjaga kantin genit
Belahan dada mbak merry, penjaga kantin yang genit
pembantu masturbasi
Kisah pembantu lugu kesepian akhirnya melakukan masturbasi
Gambar Bugil Memek Gundul Abg Perawan
Janda hot telanjang
Desahan Kenikmatan Seorang Janda Pembantuku Bagian Dua
pelajar sma
Menikmati memek gadis cantik berjilbab pelajar sma
Membantu Memuaskan Tante Lela
Booking Cewek Bispak Spg Rokok Yang Cantik
Nafsuku Terlampiaskan Kepada Keponakan Sendiri
Foto Bugil Gadis Abg Spa Setelah Ngentot
anak sma perawan
Memperkosa anak sma cantik yang masih perawan
cantik
Cerita dewasa petualangan sex geng joni bagian 2
Tante Lisa Ibu Kost Yang Liar