Part #9 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Kak Ranty memagut bibirku, aku balas ciumannya dengan lembut. Ada rasa berbeda setelah kak Ranty mengungkapkan isi hatinya.

Kak Ranty jatuh cinta denganku, entah itu sungguhan atau bohongan yang jelas itu membuatku senang, dan mungkin aku juga sudah jatuh cinta kepada dirinya.

“Emphhhh….mmmhhh…”

Aku melihat wajah kak Ranty yang pucat, aku lepaskan ciuman kami. Aku tak mungkin tega melakukan ini di saat kakakku sakit, meskipun saat itu dia yang memulai.

“Kak kita ke dokter ya, biar kakak cepet sembuh,” bujukku kepadanya.

“Iya Ran,” jawabnya singkat.

“Tapi Randy mandi dulu yah, gerah banget.”

“Kakak juga Ran, pengin mandi.”

“Jangan kak, kakak kan lagi sakit,” tolakku.

“Gak papa Ran, biar seger.” Kak Ranty tetap memaksa.

“Ya udah kak, Randy siapin air hangat dulu ya,” ucapku lalu pergi meninggalkan kamar kak Ranty untuk memanaskan air.

Setelah air siap, aku membawa kak Ranty ke kamar mandi.

“Ran, kamu sekalian mandi aja, biar cepet” ajaknya.

“Gak usah kak, kakak duluan aja,” jawabku menolak. Bisa gawat kalau aku sampe sange liat tubuh telanjang kakakku.

“Udah sini!” Tanpa mendengarkan perkataanku kak Ranty kemudian menarik tanganku ke dalam kamar mandi.

Aku yang tidak bisa apa-apa hanya menurut.

Di dalam kamar mandi, kakakku mengikat rambutnya lalu melepaskan pakaiannya satu per satu, aku yang melihatnya hanya bisa menelan ludahku.

Setelah kak Ranty bugil, dia kemudian duduk di kursi plastik yang ada di kamar mandi itu lalu mulai menyirami tubuhnya.

“Loh kok kamu belum buka baju? buka bajunya Ran!” suruh kakakku untuk melepaskan pakaianku.

Aku kemudian melepaskan pakaianku. Kakakku masih menyabuni tubuhnya bagian depan, saat itu posisinya membelakangiku.

Setelah aku bugil, aku menyusul kakakku untuk mandi, aku siram seluruh tubuhku dengan air dingin yang ada di bak, sedangkan kakakku dengan dengan air hangat yang sudah aku siapkan di ember besar.

“Ran, tolong sabuni punggung kakak dong.” Kak Ranty memintaku untuk menyabuni punggungnya.

Aku pun lalu duduk di kursi plastik yang lain, aku duduk tepat di belakangnya. Namun saat aku akan menyabuni punggungnya tiba-tiba kak Ranty berbalik.

“Kakak bantu sabuni punggung kamu juga ya,” pintanya.

“Duh, ada-ada aja nih kakak,” ujarku dalam hati.

Kami pun saling menyabuni punggung kami, aku menyabuni punggungnya dari depan sehingga toket kakakku tepat terpampang di hadapanku.

Kontolku seketika itu mengeras, namun aku berusaha tetap bertahan untuk tidak mendekapnya.

Karena dirasa terlalu jauh tangan kak Ranty menjangkau punggungku, dia kemudian berpindah posisi yang semula di kursi plastik ke pangkuanku.

Karena pahaku licin terkena sabun membuat bokong kak Ranty tergelincir ke arah kontolku, membuat kontolku terhimpit antara memeknya dan perutku.

Pertama-tama dia sabuni bagian depan tubuhku lalu ke bagian belakang.

Saat menyabuni bagian belakang kak Ranty sengaja menempelkan toketnya ke dadaku membuat aku melenguh kenikmatan.

Dia gesekkan toketnya yang menempel di dadaku membuatku merasakan sensasi digelitik oleh puting payudara kak Ranty.

Kemudian kak Ranty mendekap tubuhku semakin erat, membuat tubuh kami menempel dari dada hingga kelamin kami.

Di gerakkannya tubuh kak Ranty naik turun, karena sabun yang terdapat di tubuh kami, membuat gesekkan itu terasa licin dan nikmat.

Pun dengan kontolku, karena gerakkan naik turun kakakku membuat kontolku beberapa kali hampir terselip ke dalam memek kak Ranty.

“Kak, masukin?” Lagi-lagi aku menanyakan hal bodoh itu.

“Gak usah,” jawabnya masih dengan gerakkan naik turun.

Sesaat kak Ranty menghentikan gerakannya, lalu dengan setengah jongkok dia mengarahkan memeknya ke arah kepala kontolku yang berdiri kokoh menghadap ke atas bag menara eifel.

Diturunkannya sedikit bokong kak Ranty hingga kepala kontolku masuk, lalu kak Ranty menggerakkan bokongnya memutar seperti goyang ngebor membuat kontolku ikut berputar seirama dengan goyangannya.

“Aishhhhh….kak…tolong kak….” desahku menerima rangsangan itu.

Kak Ranty hanya tersenyum melihat raut wajahku yang mupeng parah.

Kemudian kak Ranty mengeluarkan kepala kontolku lagi lalu menggesekkan bibir memeknya di sepanjang batang kontolku naik dan turun.

“Shhhh…kak…Randy gak kuat kak! Masukin ishhhh…..” Aku benar-benar tersiksa diperlakukan seperti itu.

Lalu kakakku kembali mengarahkan kontolku lagi ke memeknya, kemudian dimasukkan kepalanya lagi.

Namun kali ini aku sudah tidak tahan lagi. Aku letakkan telapak tanganku di lantai kamar mandi itu lalu dengan sekali hentakkan aku angkat bokongku dan ku dorong kontolku masuk ke dalam memek kak Ranty.

Jlebbbbb………

“Ehmmmmhhhh…….akhirnya…..” desahku saat kontolku tertancap sepenuhnya ke dalam memek kak Ranty.

“Awhhhh…..shhhhh…..” Kak Ranti lalu memelukku.

Sejenak aku menikmati saat-saat kontolku tertanam di memek kak Ranty, aku rasa nafsu birahi di ubun-ubunku terbang bebas.

Lalu aku kembali terduduk di kursi plastik itu, kak Ranty sudah tidak menahan bokongnya lagi dan duduk di pangkuanku mengikuti kontolku.

Kak Ranty kemudian melepaskan pelukannya, ditatapnya wajahku lalu dia mencolek hidungku dan berkata.

“Kamu tuh ya Ran, dari tadi kakak kasih kode kamu gak peka-peka, jadi kakak kerjain aja deh.”

“Aduh kak, Randy taunya kakak lagi sakit jadi Randy gak mau dikira manfaatin kakak kalo minta duluan.”

“Kalo mau minta tinggal minta aja kak, gak usah pake kode-kodean segala, Randy bukan peramal,” lanjutku panjang lebar.

“Malu lah Ran, kakak kan cewek masa minta duluan,” ujarnya tersipu malu.

Aku tidak melanjutkan perkataanku, namun aku langsung mencium kak Ranty.

Kak Ranty kemudian membalas ciumanku, aku mulai menggerakkan kontolku keluar masuk.

Kak Ranty membantuku dengan menaik turunkan bokongnya. Alhasil bagian depan tubuh kami bergesekan seluruhnya.

Aku kemudian memindahkan kursi plastik yang sedari tadi aku duduki, lalu aku membaringkan tubuhku di lantai kamar mandi.

Kak Ranty menindihku, lalu ia kembali menggerakkan tubuhnya naik turun, sabun di tubuh kami membuat gesekan semakin licin.

“Emhh…kak enak kak….” Aku mendesis kenikmatan.

“Akhhh….iya Ran, kakak juga nikmat emphhh….” Kak Ranty menimpali dengan desahan juga.

Aku tak tinggal diam, dari bawah aku ikut memompa memeknya sehingga pompaanku menjadi lebih cepat dan keras. Hingga tiba saatnya.

“Emhhh….Ran, kakak mau nyampe” ucap kakakku di sela-sela desahan kami.

Aku percepat pompaanku di memeknya, lalu kakakku mengejang.

“Arghhhhhh….Randyyyy!!!!” Kak Ranty berteriak dengan keras, aku takut kalau tetangga sampai dengar, bisa panjang urusan.

Setelah itu kak Ranty ambruk di atas tubuhku, nafasnya memburu.

Kontolku masih keras di memek kakakku, namun tidak aku gerakkan. Aku masih memberi kesempatan kak Ranty untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya.

Beberapa saat kemudian aku menggoyangkan tubuh kakakku yang masih tiduran di atas tubuhku.

“Kak, udah belum kak?” bisikku kepadanya.

Kak Ranty kemudian bangkit terduduk di atas tubuhku masih dengan kontolku yang menancap di memeknya.

“Kakak si udah, kamunya kan belum,” ujarnya.

“Gak papa kak, takut kelamaan nanti dingin, kakak kan lagi sakit.”

“Beneran gak papa?” tanya kakakku memastikan.

“Iya kak, gak papa.”

Setelah menerima persetujuanku kak Ranty kemudian bangkit.

Plopppp…..

Bunyi kontolku yang terlepas dari memek kak Ranty, terlihat cairan orgasmnya melumuri kontolku terlihat mengkilap.

Kemudian kami menyelesaikan mandi, setelah sebelumnya tertunda.

Kak Ranty keluar kamar mandi untuk ganti baju di kamarnya, aku dengan self service menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda. Aku keluarkan sperma di bekas celana dalam kak Ranty.

Teman Lama Bersemi Kembali (Filler)

Setelah berganti baju aku lalu mengantarkan kakakku ke rumah sakit untuk berobat.

Di sana aku menunggu di ruang tunggu selagi kakakku masuk ke ruang dokter.

Karena bosan aku iseng mengecek wa ku, aku lihat status dari Ririn,”Ada yang hilang pagi ini.” Diakhiri dengan emot menangis.

“Kenapa lagi nih Ririn,” batinku.

Aku cek status Lisa, tidak ada. Aku buka riwayat chatku dengannya, terakhir saat dia mengirimkan lokasi tempat bertanding.

“Hmm…kenapa gue jadi kangen ya sama dia?”

Lalu aku cek status teman-temanku yang lain, tidak ada yang menarik.

Sedang asik memainkan hp, tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara orang yang memanggilku.

“Randy yah?” tanya orang itu padaku.

Aku lalu menoleh ke arah sumber suara, ternyata seorang wanita yang ku taksir umurnya sama denganku.

“Iya,” jawabku singkat.

“Apa kabar Ran, lama gak ketemu yah,” ucapnya menanyakan kabar.

“Baik, maaf siapa ya?” Aku sama sekali tidak mengenalinya.

“Ah Randy masa lupa sama temen lama.”

“Lupa hehehe….” jawabku sekenanya.

“Ajeng Yulianti, temen SD,” ungkapnya memperkenalkan diri.

Sejenak aku mengingat-ingat akan satu nama yang ia sebutkan itu.

“Satu-satunya nama Ajeng yang gue kenal itu si Ajeng chubby.” Aku menerka kalau itu adalah dia.

Dia mengangkat alisnya seraya tersenyum dan mengangguk.

Aku terkejut tidak menyangka kalau wanita yang ada di hadapanku itu adalah anak gendut teman sekelasku waktu SD sebelum aku pindah ke Jakarta.

Dia benar-benar berubah, sekarang dia jadi langsing, putih, dan cantik. Walaupun begitu ukiran wajahnya masih sama dengan Ajeng teman sekelasku dulu, meskipun sekarang mengenakan hijab, menandakan bahwa itu memang dirinya.

Aku jadi ingat kejadian saat SD dulu, saat itu Ajeng menyukai teman sekelas kita, yah aku tau kalau saat itu perasaannya hanya sekedar suka-sukaan saja, karena saat itu memang sedang trend main ‘tembak-tembakan’.

Flashback…

“Imam, aku suka sama kamu, mau gak jadi pacarku,” ungkap seorang anak perempuan gendut kepada teman sekelasnya.

“Ihhh…kamu jangan suka sama aku, suka sama yang lain aja, aku gak mungkin suka sama anak gendut, item, dekil kaya kamu, nanti kalo aku punya keturunan gimana? Masa keturunanku jelek kaya kamu ihhhh….” tolak anak yang bernama Imam itu.

Bukan hanya menolak tapi dia juga menghina Ajeng secara fisik (Body Shaming).

Ajeng yang mendengar hal itu pun lalu menangis dan berlari ke belakang sekolah.

Aku yang melihat hal itu sangatlah geram, aku memang sangat membenci pembulian, apalagi itu sudah menyangkut fisik seseorang.

Aku kemudian mendekati anak yang bernama Imam itu lalu aku jitak kepalanya dan katakan,”Ngaca woyyyy!!!!”

Kemudian dia menangis dan masuk ke dalam kelas. Aku tidak memperdulikannya, palingan dia akan lapor ke guru dan aku dimarahi lagi.

Setelah aku menjitaknya, lalu aku susul Ajeng yang lari ke belakang sekolah. Saat itu aku melihatnya sedang jongkok bersandarkan tembok sekolah sambil menangis.

“Hiks….hiks….hiks…..” Kulihat Ajeng menutupi wajahnya dengan lututnya.

Kemudian aku berjongkok tepat di depannya, lalu aku tatap dia yang sedang menangis itu.

Merasa ada orang yang datang, kemudian dia mengangkat wajahnya, dia masih menangis sesunggukkan.

“Ngapain kamu?” tanyanya kepadaku.

“Nemenin kamu nangis,” jawabku singkat.

Shrrrrrrttttt…..

Suara ingusnya yang keluar namun ia masukkan lagi ke dalam hidungnya.

“Memangnya aku sejelek itu yah, Ran?” ucapnya disela-sela tangisnya.

“Gak! Siapa bilang kamu jelek, kamu itu cantik kok.”

“Tapi kenapa Imam bilang gitu sama aku?”

“Si Imam mana bisa liat cewek cantik, matanya kan ada di pantat hahaha….” jawabku menghiburnya.

Ajeng sedikit tertawa lirih di antara isak tangisnya mendengar leluconku itu. Aku pun tertawa sedikit keras. Kata orang tertawa itu bisa menular, dan itu terbukti pada Ajeng.

“Makasih Ran, udah menghibur aku.”

“Ya udah jangan nangis lagi, kalo nangis jadi beneran jelek loh,” ujarku sambil mencubit pipinya yang tembem itu.

Ajeng sedikit meringis lalu menepis tanganku.

“Isssstt….Randy!”

Awalnya terlihat raut sebal di wajahnya namun sesaat kemudian tersungging senyum di bibirnya.

“Udah gak usah dipikirin si Imam itu, kalo kamu masih mau pacaran, pacaran aja sama aku,” ungkapku kepadanya.

“Memangnya kamu mau pacaran sama aku,” tanya dia balik.

“Ya mau lah, siapa sih yang gak mau pacaran sama cewek cantik kaya kamu itu, hehehe…” ucapku menghiburnya lagi.

Aku tidak mau kalau dia sampai minder dengan bentuk fisiknya, karena fisik bukan alasan orang berhak menyukai ataupun disukai. Benar gak sih?

Ajeng hanya tertunduk malu atas ucapanku barusan. Aku pun bangkit dan menarik tangannya, dia ikut bangkit dan kami berjalan bergandengan tangan menuju ke kelas.

“Cieeee….cieeee….suittttt….suuuiiitt,” goda teman-temanku yang lain saat kami berjalan memasuki kelas.

Aku cuek saja mendengar temanku menggodaiku, karena aku tahu kalau kita pacaran hanya sekedar permainan saja dan bukan pacaran sesungguhnya.

Saat itu panggilanku kepadanya adalah Ajeng chubby karena pipinya yang tembem.

Hal itu berlangsung hingga kami lulus dari SD dan berpisah karena aku pindah ke Jakarta.

Flashback end.

“Ajeng, aku sampe gak ngenalin kamu loh,” ucapku kepadanya.

“Hehehe…emang yang dulu kaya gimana?” tanyanya balik.

“Yang dulu lebih cantik, hehehe…” ujarku menggoda.

Dia hanya memajukan bibir bawahnya.

“Eh ngomong-ngomong kamu kok bisa ada di Jakarta?” tanyaku kepadanya.

“Iya, ada jadwal pemotretan di Jakarta Luxury Hotel besok.” jawabnya.

“Wihhhh…jadi model nih, mantap!!!” Aku mengacungkan dua jempol padanya.

“Itu semua berkat kamu juga,” ucapnya membuatku bingung.

“Kok berkat aku sih? berkat usahamu sendiri kali.”

“Dulu kamu pernah bilang sama aku kalo aku jangan minder sama penampilan fisik aku, itu aku jadiin motivasi untuk bisa merubah diri aku jadi lebih baik,” jelasnya panjang lebar.

“Kamu operasi plastik?”

“Enak aja, aku itu diet mati-matian sama merawat diri aja tapi gak sampe oplas juga kali,” bantahnya.

“Berarti emang kamu aslinya cantik cuma ketutup lemak aja, hehehe…” kataku menggodanya.

Ajeng hanya tersenyum lalu memukul bahuku namun tidak berasa apa-apa.

“Eh iya emang kamu model apa sih? terus kalo kamu pemotretan, sekolah kamu gimana?” tanyaku padanya.

“Model hijab Ran, besok ada brand hijab yang mau kontrak aku, terus kalo sekolahnya ya meliburkan diri alias bolos hehehe…” jawabnya bercanda.

“Ouh gitu, terus kamu di sini ngapain?”

“Medical check up”

“Emang jadi model gitu harus pake medical check up juga?”

“Formalitas aja,” jawabnya singkat.

Setelah ngobrol panjang lebar kami pun bertukar nomor wa.

“Besok kamu ada acara?” tanyanya kepadaku.

“Belum ada sih, emangnya kenapa?”

“Besok bisa dateng ke acara pemotretan jam 8 malem? aku pengin ngobrol sama kamu lagi di waktu yang lebih senggang, sebelum aku balik lusa,” ungkapnya.

“Oke deh,” jawabku singkat.

“Nih!” ucapnya sembari memberikan sebuah kartu.

Aku lihat di situ tertulis VVIP.

“Itu kartu biar kamu bisa masuk ke tempat pemotretannya, nanti aku kirim lokasinya lewat wa.”

Aku menerima kartu itu lalu mengiyakan tawarannya.

Setelah membuat janji itu kamipun berpisah, karena dia sudah dijemput oleh supirnya.

Beberapa saat kemudian kak Ranty keluar dari ruang dokter, cukup lama juga kak Ranty diperiksa.

“Emangnya separah apa sih?” batinku.

Kami lalu menebus obat di bagian farmasi rumah sakit tersebut, di situ aku melihat kak Ranty membawa dua bungkus plastik isi obat yang terpisah.

“Kak itu apaan?” tanyaku kepada kak Ranty.

“Obat lah, emang apalagi?”

“Yang satunya?”

“Obat juga.”

“Obat apa?”

“Obat anti hamil,” jelasnya singkat.

Aku tidak melanjutkan lagi, aku mengerti kalau kak Ranty takut hamil karena hobiku yang suka keluar di dalam. Kamipun pulang agar kak Ranty bisa beristirahat untuk memulihkan kondisinya.

Keesokan harinya aku bangun pagi untuk bersiap-siap berangkat sekolah, aku tidak mau bolos seperti kemarin lagi.

Sebelum berangkat aku cek keadaan kak Ranty, saat itu kak Ranty masih rebahan di atas ranjangnya.

“Kak gimana keadaannya?” tanyaku kepadanya lalu mengecek suhu badannya dengan punggung tanganku.

“Udah baikan kok Ran,” jawabnya singkat.

“Kakak nanti berangkat kuliah?”

“Iya ada kuliah nanti jam delapan.”

“Ya udah kak, Randy berangkat sekolah dulu ya, jangan diporsir nanti sakit lagi,” ucapku sembari mencium keningnya.

“Iya sayang,” jawab kak Ranty.

Aku hanya tersenyum kemudian berlalu untuk berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah seperti biasa aku mampir ke warungnya Ririn untuk sarapan. Belum sempat aku duduk aku langsung disambut oleh Ririn.

“Ran, kemana aja lu? kemarin kok gak keliatan?” tanyanya kepadaku.

“Kemarin gue bangun kesiangan, jadinya bolos deh hehehe…” sahutku menjelaskan.

Ririn tidak melanjutkan, namun langsung menyiapkan sarapan yang biasa aku pesan.

Setelah menyantap sarapanku, kami pun masuk ke sekolah, seperti biasa kami masuk ke sekolah dengan melewati tembok.

Sesampainya di kelasku, sejenak aku melihat ke arah tempat dudukku, di sana sudah ada Lisa yang datang.

Melihatku datang Lisa kemudian berdiri dan menatapku. Aku masuk ke dalam kelas namun aku tidak pergi ke tempat dudukku semula melainkan pergi ke tempat duduk Roni teman sekelasku yang lain.

Roni anaknya sedikit berandal, dia memang duduk sendiri dari awal karena dia tidak mengijinkan siapapun menduduki tempat duduk di sampingnya, alasannya karena dia ingin duduk selonjoran.

“Ehh,, lu ngapain duduk di sini, minggir!” seru Roni melihat aku duduk di sebelahnya.

“Aturan mana gue gak boleh duduk di sini hah!” gertakku kepadanya.

Aku pelototi matanya, sepertinya dia kena mental kemudian dia diam saja dan membetulkan duduknya dengan posisi menghadap depan. Aku lihat matanya sedikit berkaca-kaca setelah aku bentak.

Aku tak ambil pusing, aku masih ingin menghindari Lisa. Aku belum siap untuk berbicara lagi dengannya.

Saat istirahat aku berencana untuk jajan di warung Ririn, karena gerbang belakang sekolah dibuka saat jam istirahat aku tidak perlu melompati tembok lagi.

Namun ketika sedang berjalan tiba-tiba Lisa memanggilku.

“Ran!” panggilnya.

Aku lalu menoleh ke arahnya.

“Gue mau ngomong sama lu!” tegasnya lalu tanpa melalui persetujuanku dia kemudian menarik tanganku untuk ikut bersamanya.

Saat itu tidak banyak siswa yang lalu lalang di sana, karena kebanyakan dari mereka jajan di kantin sekolah.

Lisa kemudian menarikku ke dalam toilet pria yang ada di dekat situ. Gila gak tuh!

Untung saat itu tidak ada orang yang menggunakan toilet tersebut.

Lisa lalu menarikku ke dalam salah satu bilik toilet, setelah berada di dalam Lisa kemudian menguncinya. Aku masih bingung dengan apa yang dilakukan Lisa.

Setelah Lisa mengunci pintu itu kemudian dia bersandar ke arah tembok, lalu ditariknya kerah bajuku ke arah dirinya.

Hal itu membuat tubuhku tertarik ke depan, lalu dengan ganasnya Lisa mencium bibirku.

Aku terkejut dengan apa yang dia lakukan, itu adalah ciuman pertamaku dengan dirinya namun entah kenapa aku sama sekali tidak menikmatinya.

Berselang kemudian dia memegang tangan kiriku lalu dia mengarahkan tanganku ke toket kanannya, kemudian dia remas punggung tanganku yang berada di toketnya.

Aku merasakan de javu saat itu.

Sesaat kemudian aku tarik bibirku dari bibirnya dan juga tanganku dari toketnya.

Aku mengernyitkan dahiku.

“Apa-apaan ini Lis? kenapa lu lakuin ini?” ucapku bingung atas apa yang dia lakukan.

“Apa??? Kenapa??? Bukannya ini yang lu mau? Bukannya ini lu iri sama Dimas? Ya udah ayok kita lakuin di sini!!!” sergah Lisa dengan nada tinggi.

Sejenak aku menghembuskan nafas berat.

“Kalo lu ngelakuin ini biar gue mau main buat timnya Dimas minggu depan, lu tenang aja, gue akan tetep main kok, jadi lu gak usah mempermainkan gue lagi! cukup omong kosong ini!” tegasku tak kalah tingginya.

Seketika air matanya keluar.

“Seandainya lu tau perasaan gue sekarang Ran! gue sakit, gue bingung, apapun yang gue lakuin selalu salah.”

“Dari awal apa yang lu lakuin emang udah salah Lis! dari lu ngenalin gue sama Dimas, dari lu ngajak gue jalan-jalan biar gue mau gabung sama tim mereka! itu semua udah salah Lis!” sindirku kepadanya.

“Gue ngajak lu jalan-jalan bukan karena pengin bujuk lu untuk gabung tim mereka, tapi karena gue pengin ngabisin waktu bareng lu Ran!” jelasnya panjang lebar.

“Halah….omong kosong!!!” sergahku.

Aku pun berlalu meninggalkan dirinya. Dengan emosi yang meluap aku kembali ke kelas, aku jadi tidak bernafsu untuk jajan lagi, pikiranku sangat kacau saat itu.

Aku memutuskan untuk menjaga jarak dengan Lisa untuk sementara waktu, entah sampai kapan.

Skipppp…..

Sepulang sekolah aku merebahkan diriku di atas ranjangku, saat itu di rumah tidak ada orang. Orang tuaku belum pulang, sedangkan kak Ranty masih di kampusnya.

“Andai aja ada kak Ranty, hmm,” gumamku seraya menutup mataku.

Beberapa saat khayalanku melayang membayangkan saat-saat bersama kak Ranty tiba-tiba hpku berbunyi.

Ada pesan wa, setelah kubuka ternyata itu dari Ajeng,” Ran, entar malem bisa kan dateng?” Begitulah isi pesannya.

Aku pun membalas,”Aku usahain ya Jeng, nanti aku hubungi lagi.”

“Oke, aku tunggu!” balasnya lalu mengirimkan lokasi tempat pemotretan itu.

Aku kemudian iseng melihat status wa nya.

“Ih beneran loh model, hmm…cantik banget Ajeng, gak nyangka anak yang dulu dibully habis-habisan karena fisiknya sekarang bisa secantik ini.” ujarku dalam hati.

Skip……

Malam pun tiba, aku sudah bersiap-siap akan berangkat ke tempat pemotretan, aku kirim pesan kepadanya akan segera datang.

“Randy, mau kemana kamu? rapih banget,” tanya ibuku yang baru selesai mencuci pakaian.

“Ketemu temen mah.” sahutku singkat.

“Ngedate ya? kamu udah punya pacar Ran?” ucap ibuku menggoda.

“Iya ngedate mah, sama model lagi hehehe…” terangku jujur.

“Pretttt…..” balasnya menganggap aku hanya bercanda.

Aku tak meresponnya lagi lalu mengeluarkan motorku dan pergi ke tempat pemotretan.

Sesampainya di tempat aku sedikit bingung untuk memarkirkan motorku, karena hotelnya yang cukup besar.

Aku lalu menanyakan ke satpam hotel tersebut.

“Maaf pak, mau tanya central studio dimana ya?”

Pak satpam itu terlihat terkejut.

“Ada perlu apa mas? kalo mau antar makanan sampe sini aja, biar orangnya yang turun,” ujar satpam itu.

Gila saja aku disangka ojol sama pak satpam. Kemudian aku tunjukkan kartu yang diberikan oleh Ajeng kemarin.

Pak satpam lebih kaget lagi.

“Eeeeh…maaf mas, kirain mau antar makanan.”

Dia terlihat tidak enak hati terhadapku.

“Ini, dari sini lurus aja sampe mentok terus ambil kiri, nah dari situ mas naik ke lantai tiga, di situ tanya aja sama resepsionisnya,” ucapnya menjelaskan.

“Makasih pak.”

“Sama-sama.”

Aku lalu pergi ke arah yang ditunjukkan oleh satpam tersebut. Sesampainya di lantai tiga aku kemudian diarahkan oleh resepsionis ke studio yang dimaksud.

Di dalam studio aku melihat beberapa model sedang duduk di kursi sofa yang disediakan menunggu giliran.

Di sana aku melihat Ajeng sedang dalam sesi pemotretan, dia melirik ke arahku lalu tersenyum, kemudian melanjutkan sesinya.

Aku dipersilahkan duduk oleh salah satu model yang ku ketahui bernama Irene.

“Duduk dulu mas.” Dia menawariku untuk duduk di sampingnya.

“Makasih.”

Kami ngobrol panjang lebar, obrolan kami mengalir begitu saja, orangnya asik, kami jadi seperti teman lama yang kembali bertemu. Dari situ aku ketahui kalau dia orang Bandung.

“Eh, kamu pacarnya Ajeng yah?” tanya dia kepadaku.

“Bukan kok, cuma temen.”

“Tapi kata Ajeng kalo yang mau dateng itu pacarnya.”

“Iya sih, kita emang pernah pacaran, tapi waktu SD hehehe…” ungkapku dengan nada bercanda.

“Serius?”

“Iya.” Lalu ku ceritakan tentang kisah masa laluku bersama Ajeng kepadanya.

“Hmm…so sweet nya.” Ireng memangku dagunya dengan tangannya.

Kami kembali melanjutkan obrolan kami. Ternyata sesi pemotretan memakan waktu yang lama, cukup untuk menceritakan semua kisah hidupku.

Sesi pemotretan untuk Ajeng akhirnya selesai, dia kemudian menghampiriku.

“Maaf Ran, kelamaan nunggunya yah?”

“Gak papa kok Jeng, gak kerasa juga waktunya kalo di sini hehehe…” jawabku bercanda.

Kemudian Ajeng mengajakku untuk keluar dari studio.

“Duluan ya kakak-kakakku semuanya,” ucap Ajeng berpamitan.

Kami lalu menuju ke restoran yang ada di hotel itu. Di sana kami menyantap hidangan yang cukup mewah sambil ngobrol tentang kehidupan kami pasca berpisah saat lulus SD dulu, tentang bagaimana dia bisa jadi model.

“Ran, kamu malam ini gak ada acara kan?” pungkas Ajeng kepadaku.

“Gak ada Jeng, kenapa?” tanyaku balik.

“Oke berarti malam ini free ya,” jawabnya tidak menjelaskan apa yang aku tanyakan.

Setelah selesai makan malam, Ajeng kemudian mengajakku ke suatu tempat.

“Ran, ikut aku yuk!” pintanya seraya menarik tanganku.

“Kemana?”

“Udah ikut aja.” perintahnya.

Kami pun menaiki lift menuju ke lantai lima, di dalam lift Ajeng tiba-tiba menggandeng tanganku lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.

Sesampainya di lantai lima, Ajeng membawaku ke sebuah kamar, aku tebak itu adalah kamarnya.

Di dalam kamar aku duduk di sofa, aku melihat kamarnya sangat mewah, yah bagiku yang orang biasa ini.

“Ran, aku mandi dulu ya, kamu tunggu di sini,” ucapnya lalu masuk ke dalam kamar mandi itu.

Sejenak aku terperangah melihat kamar mandinya.

Kamar mandi itu hanya berupa ruangan berbentuk persegi panjang dengan dinding kaca yang membuat orang yang ada di luar bisa melihat isi di dalamnya, bahkan toiletnya pun aku bisa melihatnya.

Dan di sana terdapat tirai yang terbuat dari mika, jadi walaupun tirai itu ditutup isi di dalamnya tetap akan terlihat meskipun samar.

“Gila sih, siapa arsitekturnya yah,” batinku.

Di dalam aku lihat Ajeng melirik ke arahku dan tersenyum nakal, lalu ditutupnya tirai itu.

Setelah tirai itu tertutup aku lihat Ajeng melepaskan pakaiannya satu persatu, dia melakukannya dengan gerakan yang sensual membuat kontolku sedikit demi sedikit mengeras.

Lalu Ajeng mulai membasahi tubuhnya dengan air yang keluar dari shower. Aku dapat melihat lekuk tubuhnya dibalik tirai mika itu.

Selesai mandi, Ajeng kemudian memakai baju mandi kimono yang sudah disediakan di sana, lalu keluar.

Aku terkesima melihat penampilannya, dia hanya mengenakan kimono yang menonjolkan lekuk tubuhnya dan handuk di kepalanya.

“Maaf Ran, nunggu lama.”

“Gak papa, santai aja.”

Dia kemudian berjalan menuju ke dapur mininya, lalu mengambil sebuah botol.

“Wine?” tanyaku dalam hati. Gila juga sih, model hijab minumnya wine.

Ajeng kemudian menuangkan isi botol itu ke dalam gelas lalu membawanya menghampiriku dan duduk di atas ranjangnya.

“Ran, aku seneng banget bisa ketemu sama kamu di sini,” ucapnya lalu meminum wine yang ada di gelas itu.

“Iya aku juga seneng,” jawabku sekedarnya.

Aku melihat wine itu keluar dari celah bibirnya mengalir melewati dagunya lalu ke leher, tampak dia sengaja melakukannya, aku rasa dia sudah mahir dalam hal menggoda pria, aku yang masih amatiran hanya bisa melongo.

“Ran, udah pernah coba wine?”

“Be..belum,” jawabku tergagap.

“Mau coba gak?”

“Bo..boleh.”

Ajeng kemudian bangkit lalu membungkuk di hadapanku yang sedang duduk, aku bisa melihat celah toketnya saat itu, membuat kontolku semakin keras.

Lalu Ajeng menuangkan wine itu ke dalam mulutku, aku teguk wine itu, terasa aneh karena aku baru pertama kali mencobanya.

“Mau lagi?” tawarnya.

Aku hanya mengangguk.

Ajeng kemudian memasukkan wine itu ke dalam mulutnya lalu mengarahkan bibirnya ke arah bibirku dan…

Cupppp…

Ajeng mencium bibirku, dibuka mulutnya itu lalu aku merasakan wine itu mengalir di dalam mulutku hingga melewati tenggorokanku.

Aku yang memang sudah bernafsu langsung membalas ciumannya, kami pun berciuman dengan panasnya.

Lidah kami saling melilit, permainan lidahnya sangat mahir, lebih mahir dari kak Ranty, itu terlihat bahwa dia sudah berpengalaman.

Ajeng kemudian duduk di pangkuanku menyamping, aku lalu mendekapnya sembari lidah kami saling menari bertukar air liur.

Sesaat kemudian dia melepaskan ciumannya dariku, aku lihat dia menggigit bibir bawahnya dan matanya sayu. Memberi kode untuk segera dieksekusi.

Aku yang mengetahuinya pun lalu mengangkat tubuhnya dan ku jatuhkan di atas ranjangnya.

Dia hanya pasrah saja, kemudian aku tarik tali kimononya dan aku singkap kimono itu ke samping.

Betapa kagetnya ternyata di balik kimono itu dia tidak mengenakan selembar kain pun.

Aku bisa melihat toketnya yang sekal, perutnya yang rata, dan memeknya yang bersih tanpa bulu. Di sana aku melihat sebuah tatto gambar hati bersayap di atas memeknya.

“Beruntung sekali yang menggambar tatto itu, tapi lebih beruntung lagi yang mencicipi lubang di bawahnya hehehe,” batinku.

Ajeng kemudian menggigit jari telunjuknya manja, aku angkat kakinya lalu ku lebarkan.

Terpampang jelas lubang memeknya merekah saat ku lakukan itu.

Aku lalu mendekatkan wajahku ke memek Ajeng dan melumatnya.

“Ouhhhh….shhhhh…..” desahnya menerima rangsangan dariku.

Dadanya membusung, aku masih asik mencumbui memeknya. Aku jilat seluruh bagian memeknya lalu aku sedot bagian klitorisnya membuat Ajeng semakin kelojotan.

Dijambaknya rambutku lalu digesekkan wajahku di memeknya, aku hanya mengikuti alur yang dia ciptakan.

“Ahhhh…shhhh…..mmmhhh” Ajeng melenguh kenikmatan.

Aku semakin meningkatkan intensitas rangsanganku di memeknya, lalu sesaat berselang…

“Ahhh…..Randy….akhhuu mhhauu nyhhampeeee”

Tiba-tiba tubuhnya mengejang, memeknya memompa cairan cintanya dan menyemprot menerpa wajahku.

Srrrrr…..srrrrr….srrrrrr

“Arkhhhhhh……” desis Ajeng merasakan orgasmenya.

Sejenak Ajeng mengatur nafasnya, aku kemudian bangkit dan melepaskan celanaku untuk bersiap mengeksekusinya.

Setelah celanaku terlepas, keluarlah batang kontolku yang mengacung dengan keras.

Ajeng membetulkan posisinya yang semula melintang jadi membujur. Aku pun sekarang naik sepenuhnya ke atas ranjang bersiap untuk melakukan penetrasi.

Namun saat ku arahkan kontolku ke memeknya tiba-tiba tangan Ajeng menahanku.

“Tunggu!” ujarnya singkat.

Dia lalu membuka laci yang ada di samping ranjang dan mengambil sebuah bungkus plastik.

“Pake kondom dulu Ran, biar aman,” katanya kepadaku.

Aku tersentak kaget.

“Kondom? sejak kapan dia nyimpen benda itu di dalam laci? apa dia nyiapin buat gue? atau buat yang lain juga?” ucapku dalam hati.

Ajeng kemudian membuka bungkus plastik itu lalu memasangnya di kontolku, betul-betul sudah pro.

Setelah kondom itu terpasang, Ajeng kemudian kembali rebahan. Dia kemudian menggerakkan jari telunjuknya ke depan dan ke belakang sambil menggoda.

Aku lalu kembali mengarahkan kontolku ke arah memeknya. Sebentar aku gesekkan batang kontolku di sepanjang memeknya dan…

Blessss……

Masuklah kontolku ke dalam memeknya.

“Uhhhhh…….shhhhh…..” desahku merasakan jepitan memeknya di kontolku.

“Ouhhh…..Randyyyy….” desahnya menimpali.

Sesaat aku melihat memeknya tidak mengeluarkan darah yang artinya Ajeng memang sudah tidak perawan lagi.

Yah apa yang bisa diharapkan dari seorang model seperti Ajeng itu.

“Bodo ahh…biar gak perawan yang penting bisa nyobain memek model gratis, gak kaya si onoh yang bayar 80jt hehehe…” tawaku dalam hati.

Tak butuh waktu lama, aku kemudian menggerakkan kontolku di dalam memeknya.

“Ouhhh….Ran….nikmat banget Ran!!!” desah Ajeng di sela-sela persenggamaan ini.

“Shhh….iya Jeng….nikmat banget,” jawabku menimpali.

Kami berada di posisi itu agak lama, Ajeng lalu menarik bajuku lalu dia lepaskan baju itu dan melemparkannya ke sembarang tempat.

Kemudian aku percepat pompaan kontolku di memeknya, membuatnya mendesah semakin keras.

“Ouhhhhh…..ah..ahh..ahhh…Shh…” jeritnya semakin tak terkendali.

Meskipun aku memompanya dengan kecepatan tinggi, aku masih bisa bertahan karena staminaku masih banyak.

Aku bor memeknya habis-habisan, sampai akhirnya….

“Agnnhhhhh…..Rhaaannddyyyyy!!!!” raungnya mencapai orgasme yang kedua.

Aku hentikan pompaanku, aku biarkan dia menikmati orgasme yang dia alami, kontolku masih tertancap di memeknya dengan keras.

Peluh bercucuran di tubuh kami, tapi itu masih belum cukup untuk membuatku kelelahan.

Setelah Ajeng selesai menikmati orgasmenya, dia memberi isyarat agar aku berada di bawah dan dia di atas.

Aku pun setuju dan mencabut kontolku dari memeknya.

Ploppp….

Bunyi kontolku yang terlepas dari memeknya.

Setelah itu aku rebahan di samping Ajeng, dia bangkit lalu naik ke atas tubuhku dan bersiap menduduki kontolku lalu….

Blessss…..

Kontolku kembali masuk ke memeknya. Setelah masuk dia langsung menggoyangkan pinggulnya dengan cepat.

“Gila si Ajeng, staminanya kuat juga rupanya, kalo kak Ranty pasti udah tepar nih,” batinku.

Aku pun kembali bersemangat menghadapi lawan yang tangguh, di samping goyangan Ajeng dari atas aku juga memompa memeknya dari bawah.

Sehingga kedua kelamin kami bertumbukkan dengan keras dan cepat.

Desahan demi desahan kembali menggema di seluruh sudut ruangan.

“Ahh…ahh…ahh…ahh…shhhh,” desah Ajeng patah-patah merasakan hujaman kontolku yang cepat dan kuat.

Namun saat sedang panas-panasnya kita meraih kenikmatan tiba-tiba pintu terbuka.

Ckrekkkk…..

Aku pun kaget dan menghentikan aksiku, tapi Ajeng terlihat cuek saja dan masih menggoyangkan pinggulnya dengan liar.

Entah dia tidak sadar ada yang masuk atau dia tidak menganggap itu sebagai suatu masalah yang besar.

Aku melihat ke arah pintu, ternyata itu adalah Irene, model yang tadi mengajak aku ngobrol.

Dia terlihat santai saja melihat adegan yang sedang terjadi di hadapannya.

“Ajeng minta kondomnya dong satu, stokku habis nih,” pungkas Irene kepada Ajeng.

“Ahmmbhiil…ahajjah…dhii…llhaachiii…” jawab Ajeng tak jelas.

Irene kemudian mengambil kondom itu di dalam laci.

“Jeng kapan-kapan aku boleh yah cobain sama Randy, kayanya enak banget deh,” pinta Irene.

“Ghaa…bhoolee…inhii…khuussus…bhuuwaat…akhuu…” balas Ajeng.

“Ahh pelittt.”

Aku yang sudah mulai paham situasi ini mulai merespon kembali goyangan Ajeng.

Aku mencoba untuk show off kepada Irene yang masih menyaksikan kami bersenggama.

Aku pompa kontolku semakin cepat dan keras, aku merasakan memek Ajeng sudah sangat panas karena bergesekan dengan kontolku dengan waktu yang lama dan intens.

Aku merasakan sebentar lagi aku akan jebol, jadi aku benar-benar mengerahkan semua kekuatanku di ujung permainan kita.

“Ahhh…Rhanndhyy…akhuu…mhaauu.nympheeee….ahhhhh….”

Lalu tiba-tiba.

Srrrr….srrrr….srrrr…

Crott…crottt….crotttt…

Klimaks kami berbarengan. Tubuh Ajeng ambruk di atas tubuhku, nafasnya tersengal-sengal.

Aku pun begitu, aku rasakan klimaks kali ini yang paling dahsyat dibandingkan dengan klimaksku yang sebelum-sebelumnya.

Setelah Irene melihat klimaks kami, dia langsung pergi meninggalkan kamar itu, mungkin karena melihat permainan kami dia jadi ingin cepat-cepat merasakannya bersama orang lain yang tidak ku ketahui.

Beberapa saat setelah orgasme, kontolku lalu mengecil dan keluar dengan sendirinya dari memek Ajeng.

Ajeng kemudian turun dari tubuhku dan berpindah kesamping.

Sesaat suasana hening, kami sama-sama sedang memulihkan stamina yang habis terkuras akibat permainan dahsyat kami barusan.

“Ran!” panggilnya.

“Iya?”

“Makasih untuk malam ini ya.”

“Harusnya aku yang makasih.”

“Iya, malam ini indah banget, aku gak mau malam ini cepet berakhir,” ujarnya kepadaku, lalu dia merebahkan kepalanya di atas dadaku.

Aku tidak menjawab melainkan hanya memeluknya.

“Ran, malam ini nginep aja ya di sini,” pinta Ajeng.

Aku mengiyakan saja permintaannya, untuk sekolah besok aku sama sekali tidak memikirkannya.

“Fuck the school!” umpatku dalam hati.

Setelah itu kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan berdua saat itu, kami melakukannya berkali-kali hingga stok kondomnya yang tersisa dua habis dan terpaksa kami melakukannya tanpa pengaman.

Kami melakukannya habis-habisan hingga mungkin kami tidak bisa berdiri lagi, kami sudah tidak perduli.

Bersambung

toge cantik
Pacarku Tega Menjual Tubuh Ku
abg nakal
Ngentot dengan dua gadis ABG yang ku kenal di mall
Cerita hot merawanin baby sitter
Foto bokong gede bule cantik lagi telanjang
ibu guru muda
Cerita hot terbaru ngentot dengan ibu guru sexy
Foto Bugil Jilbab Telanjang Bulat Dalam Mobil
pengantin baru ngentot
Ga sengaja melihat tetangga sebelah rumah sedang main di kamar
cewek cantik
Cerita dewasa melayani dua om om ganteng
rekan kerja
Menikmati Lubang Surga Rekan Kerja Ku
Foto ngentot memek bersih SPG rokok
Cerita sexs anak SMA nakal ngentot di dalam kelas
ngentot bu guru
Hangat Nya Tubuh Bu Guru Anisa
cerita sex foto model bugil
Audisi Jadi Model Yang Mengharuskan Ku Foto Bugil
Tante sexy
Tante Ku Yang Telah Mengajari Jadi Haus Sex
Foto Bugil Mahasiswi Memek Bertatto
500 foto chika bandung habis mandi udah seger pengen ngentot