Part #11 : Petualangan Sexs Liar Ku Season 1

Hari demi hari berlalu, tibalah saatnya hari pertandingan semi final POM. Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat ke pertandingan.

“Kak udah siap belum?” tanyaku dari luar kamar kak Ranty.

“Bentar lagi Ran!” balas kak Ranty dari dalam.

Aku lalu masuk ke dalam kamar kak Ranty tanpa mengetuk pintu. Di sana aku lihat kak Ranty duduk di depan meja riasnya sedang berdandan.

“Kakak gak usah dandan juga udah cantik kok, lagian kalo cantik-cantik nanti banyak yang naksir,” ucapku sembari ku sentuh kedua bahunya dengan telapak tanganku lalu ku pandangi wajahnya dari arah cermin.

“Mau dukung adik tersayang harus tampil cantik dong, biar gak malu-maluin.”

Ingin ku cium bibirnya saat itu tapi aku urungkan niatku karena kak Ranty sudah memakai lipstik, jadi aku hanya mencium ubun-ubunnya.

Setelah selesai berdandan kami pun lalu berangkat, di dalam perjalanan kak Ranty memelukku dari belakang, dia berkata,”Ran, nanti kakak dukung kamu dari tribun aja ya.”

“Emang kenapa kak? gak di bench aja?”

“Gak papa,” balasnya singkat.

Aku tahu sebenarnya kak Ranty sedang tidak ingin bertemu dengan Reza, aku hanya sedikit memancingnya barusan.

Sesampainya di venue, kak Ranty turun dari motorku disusul dengan diriku.

“Ran, semangat yah!” ucap kakakku sambil mengepalkan tangan.

“Yah kalo cuma ucapan aja si kurang,” jawabku sedikit menggoda.

“Emangnya kamu mau minta apa?”

“Nanti aja deh,” jawabku singkat.

Kami pun berpisah di pintu masuk stadium, aku menuju ke tempat tim berkumpul, kak Ranty menuju ke tribun.

“Ran, dateng sama siapa?” tanya Reza kepadaku.

“Sama kakak gue lah.”

“Terus sekarang dia dimana?”

“Tadi katanya mau duduk di tribun aja.”

“Ohh,” balasnya singkat.

Aku merasa kalau Reza ingin mengatakan sesuatu kepadaku namun ia urungkan.

“Ada yang mau lu omongin apa?” tanyaku kepada Reza.

“Gak, gak ada, kita fokus aja sama pertandingan.”

Setelah selesai mengobrol kami lalu diarahkan untuk berganti pakaian karena pertandingan akan segera dimulai.

Aku mengganti bajuku dengan kostum basket tim, lalu aku pakai sepatu pemberian kakakku minggu lalu.

“Nyaman banget dibandingin sepatu gue yang kemarin,” batinku.

Selesai berganti pakaian, kami dikumpulkan oleh coach untuk diberi arahan strategi.

“Oke di sini tim lawan udah tau permainan kita, jadi kita rubah sedikit taktiknya,” pungkas coach.

“Gue prediksikan tim lawan bakalan marking Randy habis-habisan, jadi kita manfaatin di lini lain.”

“Reza kali ini lu tugasnya dribble bola dan cetak angka.”

“Randy lu open space buat Reza oke?”

“Siap coach!” jawabku tegas.

Setelah arahan dari coach, kami pun memulai pertandingan.

Seperti prediksi aku dijaga habis-habisan oleh lawan, aku meminta bola yang sedang di kuasai oleh Dimas kala itu, namun itu hanya trik untuk mengelabuhi lawan.

Bola kemudian diumpan ke Reza, aku berlari ke sisi lapangan diikuti oleh 2 pemain lawan.

Saat itu posisi Reza sangat bebas tidak ada yang menghalangi jalan, lalu di dribblenya bola itu sampai di depan ring.

Reza melakukan lay up, namun dia melompat dengan jarak yang masih terlalu jauh, alhasil bola hanya menyentuh ring lalu kembali memantul ke lapangan permainan dan direbut lawan.

“Shit! lagi ngapain sih tuh bocah! bebas banget gitu bisa sampe gak masuk,” umpatku dalam hati.

Hal itu terjadi beberapa kali, strategi kita berhasil namun sentuhan akhir kita benar-benar buruk. Harusnya kita dapat poin banyak saat itu.

Quarter satu selesai, kedudukan 19-18 untuk keunggulan tim kami.

Saat kita menepi aku menghampiri Reza, lalu…

Bukkkk!!!!

Aku tendang bokongnya dari belakang hingga dia terlonjak kaget, Reza lalu menatapku sambil mengusap-usap bokongnya.

“Woyyy!!! kalo main jangan sambil ngelamun!!!” omelku kepadanya.

“Sorry Ran, gue lagi gak fokus,” ucapnya sembari menunduk dan mengurut dahinya.

“Ini pertandingan lu! pertandingan tim lu! harusnya lu fokus ke pertandingan! jangan bawa-bawa urusan pribadi!” Ku bentak dia di tengah lapangan.

Entah kenapa naluri kapten ku saat itu muncul dengan sendirinya, Dimas yang berperan sebagai kapten justru hanya diam saja.

“Apa cuma sampai disini komitmen lu? lu korbanin seluruh tim hanya karena urusan pribadi lu, egois lu tai!” bentakku penuh emosi.

Kami pun kembali diberi arahan oleh coach, aku lihat Reza saat itu duduk dengan menundukkan kepalanya ditutupi oleh handuk di kepalanya.

Quarter kedua dimulai, kami mengganti strategi lagi. Reza digantikan oleh Junet. Aku tidak bisa tinggal diam, Junet sama sekali tidak bisa diandalkan.

Tim lawan semakin percaya diri mengetahui shooting guard tim kita payah.

Aku kembali berperan seperti pada pertandingan pertama yaitu mengambil alih seluruh peran, namun kali ini lawan yang kami hadapi jauh lebih sulit.

Beberapa serangan yang aku lancarkan berhasil, poin demi poin aku dapatkan. Namun hal itu membuat tubuhku menjadi cepat lelah.

Terbukti pada akhir quarter kedua aku mengalami kram pada betisku. Padahal pertandingan baru berjalan setengahnya.

“Udah Ran, jangan dipaksain,” ujar Dimas kepadaku.

“Tapi kalo gak ada dia, kita pasti kalah,” timpal Gembul yang saat itu belum bermain sama sekali.

“Udah tenang aja, ini cuma kram biasa kok, bentar lagi juga sembuh,” ucapku menenangkan.

Aku kemudian di tangani oleh paramedis tim kita, beberapa kali aku meringis kesakitan. Reza yang sedari tadi duduk di bench melihat ke arahku.

Aku yang bukan bagian asli dari tim ini saja bisa berjuang mati-matian begini, tapi dia yang bagian asli tim ini justru tidak punya semangat juang.

Saat quarter ketiga akan dimulai, Reza mulai berbicara kepada coach meminta untuk diturunkan kembali.

“Coach turunin gue,” pintanya.

“Lu siap? Oke,” jawab coach.

Reza kembali turun, quarter ketiga dimulai. Skor 48-45 untuk keunggulan tim kita.

Aku pun hanya bisa menonton saja di pinggir lapangan sembari memulihkan kakiku yang kram.

Tiba-tiba ada yang datang menghampiriku.

“Ran, kamu gak papa?” Aku menoleh, ternyata kak Ranty yang turun dari tribun.

“Eh kak, gak papa kok kak, cuma kram dikit, bentar lagi juga sembuh,” ucapku menenangkan.

“Kakak khawatir banget loh tadi, kalo udah gak kuat gak usah dilanjut,” sela kak Ranty.

“Gak papa tenang aja kak.”

Terlihat wajah khawatir dari kak Ranty melihat kakiku yang saat itu sedang dikompres.

“Ran!” panggil kak Ranty.

Aku kembali menoleh kepadanya, kak Ranty menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke bibirnya lalu ditempelkan ke bibirku. Seperti ciuman tidak langsung.

“Semangat!” ucap kak Ranty sembari tersenyum.

Menerima kecupan tak langsung itu semangatku langsung membara, seperti popeye setelah memakan sayur bayam.

Quarter ketiga berakhir, situasi kini berbalik, tim lawan unggul jauh 69-58.

Kami kembali merubah strategi, aku kembali turun setelah mengkonfirmasi pulih.

Quarter keempat dimulai, aku menggunakan mode ‘rage’ setelah mendapatkan ‘buff’ dari kak Ranty.

Double kill, triple kill, maniac, savage! (Salah server bung!) ?

Setiap aku mencetak angka, aku menoleh ke arah kak Ranty, dia tersenyum sambil mengangkat dua jempolnya.

Permainan Reza pun semakin baik, tampaknya dia mulai fokus untuk memenangkan pertandingan ini.

Pertandingan pun berakhir, skor untuk kemenangan tim kami 93-87.

Meskipun akhir pertandingan tidak sedramatis pertandingan sebelumnya namun perjuangan lebih berat untuk meraih kemenangan.

Para pemain bersorak untuk kemenangan tim, namun aku tidak bergabung dalam selebrasi mereka.

Aku lebih memilih untuk menemui kak Ranty. Gayung bersambut kak Ranty kemudian menghampiriku.

“Selamat Randy! Kamu mainnya hebat banget,” puji kak Ranty kepadaku.

“Iya dong berkat ini sama ini,” ucapku seraya menunjuk sepatuku dan bibirku, tidak perlu ku jelaskan lagi kenapa kan?

“Tapi kamu gak papa kan? bisa jalan?” tanya kak Ranty memastikan keadaanku.

“Bisa dong, nih buktinya.” Aku menghentak-hentakkan kakiku di lantai.

“Ya udah, pulang yok, kamu cape kan?” ajaknya hendak berbalik, namun…

“Ranty tunggu!” Reza tiba-tiba menyela.

“Ada perlu apalagi?” ucap kak Ranty ketus.

“Aku mau ngomong sama kamu.”

“Gak ada yang perlu diomongin lagi, hubungan kita udah putus.”

Kak Ranty kemudian menarik tanganku untuk pergi.

“Ranty tunggu!” panggil Reza lagi namun tidak dihiraukan.

Saat kak Ranty menarik tanganku untuk pulang aku, aku berkata,”Kak, tasku belum dibawa main tarik-tarik aja.”

“Eh belum dibawa ya, kamu gak bilang tadi, ya udah sana ambil.”

Aku pun kembali untuk mengambil tasku, lalu Reza menahanku.

“Ran, tolong bilangin ke Ranty, gue minta maaf,” pinta Reza kepadaku.

“Oke,” jawabku singkat kemudian mengambil tasku dan berlalu.

“Mau minta maaf ngapain, hubungan kalian udah berakhir,” ucapku dalam hati seraya menjemput kakakku di tempat parkir.

Sesampainya di rumah, aku kemudian mandi untuk membersihkan badanku yang lengket karena berkeringat tadi.

Setelah mandi aku lalu rebahan di ranjangku untuk beristirahat, aku baru merasakan kakiku linu karena pertandingan tadi.

Beberapa saat kemudian kakakku masuk ke kamarku membawakan buah-buahan dan telur rebus.

“Nih Ran, kakak bawain buah sama telur rebus biar badanmu seger lagi,” ujar kak Ranty sembari duduk di tepi ranjangku.

“Makasih kak, jadi ngerepotin nih.”

Aku kemudian memakan apel yang dibawakan kak Ranty itu.

“Kak, beneran kakak udah putus sama Reza?” Aku bertanya langsung to the point.

“Iya emang kenapa?” ucap kak Ranty, hatiku mendadak tersenyum.

“Emang kapan kak putusnya?”

“Kemarin.”

“Kakak udah yakin?”

“Yakin 100%,” balasnya tegas.

Kemudian kak Ranty mencoba menyuapiku telur rebus yang tadi ia bawa.

“Sini Randy bisa sendiri kak.” Aku berusaha berebut piring itu darinya.

Kak Ranty kemudian menghindar.

“Kemarin kamu yang suapin, sekarang giliran kakak yang suapin,” pungkasnya.

“Tapi Randy kan gak sakit kaya kakak.”

“Gak usah protes, makan aja.”

Ya sudah akhirnya aku menurut saja dengan kak Ranty.

“Berarti sekarang kak Ranty jomblo dong,” tanyaku memastikan, siapa tahu kan dia punya pacar lain selain Reza.

“Bukan jomblo, tapi single,” ujar kak Ranty yang tidak ada bedanya bagiku.

“Terus rencana nanti malem (malam minggu) mau kemana?”

“Gak kemana-mana,” jawabnya singkat.

“Jalan yuk sama Randy!” ajakku kepadanya.

“Mau kemana? jangan jauh-jauh, besok kan kamu ada pertandingan final.”

“Gak jauh-jauh kok kak, masih sekitaran sini aja,” sahutku penuh harap.

Sejenak kak Ranty berpikir.

“Hmm…oke deh.”

Bersambung

tante sexy
Ngentot tante sexy selingkuhan bule kaya raya
Cerita ngewe dengan anak bos body montok
Cerita Dewasa Ngewe Di Ruangan Komputer Kampus
Tante hot
Cerita Ku Dengan Cindy Waktu Di Kapal
Foto memek mulus guru smp bersih tanpa bulu
Cerita Dewasa Enak-Enak Dengan Wanita Malam
Ngewe dengan sepupu yang lagi hamil
Cewek cantik perawan sexy
Teman Kampusku Pemuas Nafsuku
3 cewek sexs
Sensasi kenikmatan ngentot dengan 3 cewek cantik
gadis bugil
Gara Gara Belajar Ilmu Hipnotis Kakak Dan Pembantu Ku Jadi Korban
gadis telanjang
Menikmati keindahan tubuh mulus yang telanjang di sampingku
Foto bugil cewek thailand cantik telanjang di mobil
Pembantu binal
Mbak Yeyen Pembantu Binal Yang Suka Maksa
Ngentot adik kakak
Adik Dan Kakak Jadi Pemuas Nafsu Ku
sex Sedarah dengan mama
Keperjakaanku Di Ambil Mama Ku Sendiri
gadis chinese
Kisah Ku ML Pertama Kali Dengan Pacar